Wisata ke Danau Toba

Tuesday, August 23, 2016

The amazing thing about traveling is that the journey always unfolds in ways that you never planned.

Okeh! Selain karena memang Danau Toba itu ciamik cuantik luar biasa (walaupun sudah berkali-kali gagal masuk jajaran Global Geoparks) dan sebenarnya punya daya tarik hebat laksana magnet besar sehingga pengalaman traumatis yang berkaitan dengan hal-hal selain pesona Danau Toba-nya tidak berhasil menghentikan saya untuk tetap kembali lagi dan ‘ngomel’ untuk kedua kalinya, salah satu alasan besarnya adalah karena tak banyak pilihan spot wisata yang ada di Provinsi ini (yang dikelola dengan baik, dengan jarak tempuh yang manusiawi dan terjangkau untuk ukuran kami ini). Tidak seperti Australia yang punya sekitar 10.685 pantai yang kalau digilir setiap minggu, maka akan menghabiskan mungkin sekitar 29 tahun!. Belum lagi objek wisata atau tourist spot yang bukan pantai. Pantas saya belum pernah merasakan sensasi geregetan liburan model begini disana (Ya, saya tahu dan menyadari. Ini bukan perbandingan apple-to-apple tapi apple-to-durian).

Maka berangkatlah kami sekeluarga plus tambahan keluarga dari rumah jam 04.00 WIB dinihari dengan harapan akan menghindari arus lalu lintas yang padat dan bisa lebih santai di perjalanan, namun ternyata strategi yang disusun dengan rapi tidak menjamin rencana yang dieksekusi dapat berjalan lancar sebagaimana ekspektasi.

Macet. Libur panjang sepertinya menyeragamkan pola pikir para pengendara untuk menyusun strategi menghindari momok besar di jalan ini di kala musim libur agak panjang. Atau mungkin memang karena jumlah kendaraan yang membludak luar biasa sehingga waktu dini hari pun menjadi saat indah untuk bertumpuk-tumpuk di jalanan, atau mungkin memang sudah garisan tangan. Yang pasti hal ini sepertinya sudah hampir tidak mungkin dihindari dan menjadi hal yang lumrah di negara ini umumnya, di provinsi ini khususnya. Rombongan kami mengalami macet kedua setelah sebelumnya menghamburkan lebih dari satu jam untuk menanti di Sei Rampah. Dan anehnya, ketika ditanya ke orang-orang yang lewat dari arah berlawanan, saya tidak memperoleh jawaban yang kompak. Yang satu bilang, “Ada mobil rusak ditengah jalan, tunggu aja bang, bentar lagi siapnya itu!.” Tidak lama berselang saya kembali menanyakan ke pengemudi angkot dan memperoleh jawaban, “Montor-montor besar ini tidur di jalan!” dengan logat batak yang kental dan lengket. Kaget. saya coba memastikan, “Di tengah jalan bang?”. beliau dengan mimik geram berujar,”Iya! inilah montor-montor besar ini!!“. sembari menunjuk ke sebuah truk besar yang berada  tepat di sebelahnya, berseberangan arah. Entahlah.

Tiba di Ajibata pukul 11.00 WIB setelah sebelumnya singgah untuk minum susu kambing di restoran India di Tebing + sarapan lontong dan nasi gurih di sebelahnya. Antrian untuk menyeberang sudah mengular. Ular yang sangat panjang dan mengesalkan.

Ini hanya 1/4 antrian. mau tahu berapa panjang antriannya? Silahkan dikali 4!. Belum lagi aksi serobot menyerobot yang dilakukan oleh oknum-oknum, baik secara individu maupun dengan kerjasama yang tidak menguntungkan terutama bagi pihak yang diserobot!. Contoh si kawan Av*nza warna silver yang memberi jalan bagi Inn*va si konconya. Aksi ini sedikit mengesalkan namun agak sulit ditegur. Sayup-sayup mereka beralasan, "Kami satu keluarga!".

Ini hanya 1/4 antrian. mau tahu berapa panjang antriannya? Silahkan dikali 4!. Belum lagi aksi serobot menyerobot yang dilakukan oleh oknum-oknum, baik secara individu maupun dengan kerjasama yang tidak menguntungkan terutama bagi pihak yang diserobot!. Contoh si kawan Av*nza silver yang memberi jalan bagi Inn*va si konconya. Aksi ini sedikit mengesalkan namun agak sulit ditegur. Sayup-sayup mereka beralasan, “Kami satu rombongan!”.

Lanjut di Ajibata, dengan rasa penasaran yang menggebu-gebu saya mencoba mencari informasi ke tukang parkir yang mengatur antrian mobil, “Rame ya bang, jam berapa dapat nyebrang ni?”. dan dengan santai beliau memuntahkan jawabannya, “Jam 3 dapatnya tu bang, rame. Pere panjang. Biasanya ini“. Nyess!! kalau tidak memikirkan hotel yang sudah dibooking terlebih dahulu dan waktu yang memang masih memungkinkan untuk menunggu, mungkin kami akan banting setir dan berimprovisasi di tempat untuk mengisi liburan kali ini.

Kalau sedang musim libur panjang dengan antrian yang tak kalah panjang, jadwal ini tidak digunakan lagi. Feri akan nonstop menyeberangkan kendaraan, bahkan sepeda motor.

Kalau sedang musim libur panjang dengan antrian yang tak kalah panjang, jadwal ini tidak digunakan lagi. Feri akan nonstop menyeberangkan kendaraan, bahkan sepeda motor.

Ketika saya coba mendiskusikan perihal serobot-menyerobot ini kepada ‘orang lokal’, saya hanya mendapat komentar bernada simpatik, “rejeki-nya-lah itu bang, gak ada yang nengok!” belakangan ketemu dengan orang yang sama yang ternyata mengelola usaha perparkiran mandiri di pasar tomok bertarif Rp. 10.000,00 per mobil.

IMG_20160505_185758

Berkali-kali menyaksikan dia dan temennya ngangkut mobil-mobil, orang-orang yang sayangnya bukan kami.

Setelah diserobot, ditikung, disikut, dipotong berkali-kali oleh pengendara lain, akhirnya kami berhasil naik ke ferry penyeberangan jam 08.00 malam dan tiba di tomok jam 09.00 malam. Menjalani proses keluar kapal dan akhirnya bisa meluncur ke hotel. 9 jam! Ya. Kami menghabiskan sembilan jam yang panjang menunggu giliran menyeberang di tempat yang sama sekali tidak memenuhi syarat untuk dijadikan tempat menunggu. Beruntung anak-anak punya jiwa petualang yang baik dan lumayan tertib sehingga kami berhasil ‘make the most of it‘ dengan berjalan-jalan di seputaran pelabuhan, lihat hape, tidur di mobil waktu hujan, lihat hape, salat, lihat hape, makan, lihat hape, duduk-duduk di pinggiran pelabuhan, lihat hape, dan lain sebagainya. Tentunya dibumbui dengan sedikit ocehan menggerutu, omelan dan kritik-kritik pedas yang ditujukan entah kepada siapa. Banyak rombongan yang kewalahan lantaran anak-anaknya rewel dan tidak berhenti menangis. Kasihan.

IMG_20160505_144740

Menunggu. 9 painful hrs. Mobilnya parkir. Penumpangnya blingsatan kesana-kemari. ‘Membunuh’ waktu.

Kenapa ngotot menyeberang? Berhubung saya sudah beberapa kali menyambangi tempat ini dan memang sepertinya tempat terbaik untuk menikmati keindahan Danau Toba secara up close and personal adalah di pulau Samosir yang relatif lebih bersih dan tenang, jauh dari suasana pasar (di Samosir juga ada pasar kok) dan keriuhan lalu lintas, sampah, kendaraan (ada juga sih) dan tumpukan manusia. Mau lihat alasan visualnya ?

10455806_10201656040797868_6186048067875571727_n

Lautan mobil dan manusia + sampah. Daya tarik minus daerah wisata andalan Sumatera Utara.

10590546_10201656040037849_2841764023304670834_n

Kebanyakan berupa limbah plastik efek samping rekreasi para turis lokal.

Jika hanya ingin menikmati pemandangan Danau Toba dari jauh, mungkin hotel Niagara atau Taman Simalem Resort bisa jadi alternatif. Sekiranya bagi yang mau dan mampu, bisa mencoba alternatif transportasi via Bandar Udara Silangit yang sudah didarati pesawat Garuda ini. Bagi anda yang belum pernah ke danau toba, mungkin bisa menambah informasi supaya tidak meraba dan kaget. Kalau yang sudah pernah atau bahkan sering, sepertinya bakalan maklum dengan situasinya. Belum lagi masalah pembengkakan harga serta pungutan, baik resmi atau liar :

IMG_20160506_153305

Masuk ‘komplek wisata’, bayar Rp. 15.000,00 dapet stiker di spion. Yeay!

IMG_20160506_153251

Parkir antri nunggu ferry bayar Rp. 10.000,00 Diskon Rp. 10.000,00 setelah banyak yang protes.

Samosir!. Dan tragedi perhotelan tengah malam liburan kami pun dimulai. Dari awal memang proses pemesanan hotel sedikit pelik. Bermula dari pemesanan di Mas Cottages yang dilakukan di Agoda. Selang beberapa hari setelah konfirmasi pemesanan, saya menerima pesan teks di handphone yang bunyinya, “Hello pak. Reservasi mas cottages melalui booking.com deposit 50% BCA a/n j*lita siallagan 8200385***. Terima kasih.” Lha saya yang pesan di Agoda kok ya ngerasa ini bau-bau sms penipuan, disuruh transfer uang, dibilang pesannya di booking.com lagi. Saya pun acuh. Hingga pada suatu hari saya penasaran dan konfirmasi ke Agoda perihal SMS ini, menunggu jawaban dan tercengang mendapati fakta bahwa SMS tersebut ‘valid‘ dan memang benar resmi dari pihak hotel. Hal ini secara brilian dilakukan oleh Agoda berhubung kamar yang dimiliki sudah habis dan mereka berinisiatif bekerjasama a.k.a. ‘menjualkan’ kamar yang dimiliki booking.com dengan skema pembayaran yang tidak diinformasikan sebelumnya. Semprul! Puas ngomel dengan Agoda saya coba konfirmasi dengan pihak hotel, dan… Tada! kamar kami sudah dijual kembali. Ludes! Pemesanan dibatalkan sepihak tanpa persetujuan kami. Pihak Agoda menawarkan diskon 10% pada pemesanan hotel berikutnya sebagai permintaan maaf atas salah paham ini. Saya pun mencoba memesan ulang via Agoda. Tanggal keramat alias liburan panjang yang disebut juga high season ternyata membuahkan tingkat hunian yang membludak di seluruh hotel di Samosir yang bekerjasama dengan Agoda. Full. Tidak ada kamar yang tersedia. Sh*t!. Diskon 10% pun gagal dimanfaatkan.

Okay. H-2 minggu (maksudnya dua minggu sebelum hari H). Kesal dengan Agoda, saya mencoba hunting akomodasi di Airbnb, website terkenal dengan konsep yang menurut saya luar biasa ini juga ternyata mengandung potensi masalah di user-nya. Setelah mengalami penolakan pemesanan dengan alasan penuh di Linda’s dan Rogate, saya menemukan G*ido, warganegara Belgia yang beristrikan Rotu* Turnip (etnis Batak) yang secara asal-asalan telah menjual kamarnya di Toba Village Inn dengan tagline ‘hotel dekat danau dan gunung indah’ bermetodekan Instant Book! Maka terjebaklah kami, sekitar pukul 23.00 WIB datang ke hotel yang tidak mengakui pemesanan yang bahkan telah kami bayar. Crap!. WTF?? Perdebatan pun berlangsung alot (disisi kami, pengurus hotel sih nyantai wong kamarnya sudah penuh dan tidak merasa sudah/pernah menjual kamarnya ke kami). Tubuh yang lelah benar-benar menagih untuk segera diistirahatkan. Belakangan sang istri (Rotu* Turnip) mengakui kalau ia tidak mengerti cara menjadi host di Airbnb sehingga akunnya yang sudah aktif dibiarkan begitu saja dengan setting Instant Book yang amat sangat berbahaya serta menolak cenderung tersinggung sewaktu saya menawarkan diri untuk ‘mengajari’. Menggantung. Ibarat jaring laba-laba yang menanti mangsa jatuh ke pelukannya. Dan kamilah yang menjadi korban perdananya. Jebakan betmen yang sama sekali tidak lucu ini benar-benar membolak-balikkan suasana hati di kala liburan, lelah dan mengantuk luar biasa. Such a big ugly joke!. Saya memilih untuk menyelesaikan permasalahan ini keesokan harinya dan mencari penginapan tengah malam itu juga. Pindah dan hunting hotel lagi.

Menyusuri jalan kecil dan gelap di tengah malam untuk mencoba peruntungan mencari penginapan, kami bertemu Bagus Bay dan memperoleh hanya satu kamar yang tersisa seharga Rp. 250.000,00 dengan fasilitas kamar mandi di luar. Sempat menghuni sebentar dan melihat dari situasinya, sepertinya sulit untuk dapat beristirahat di kamar kecil yang tempat tidurnya sudah ‘habis’ dihuni anak-anak. Saya pun mencoba browsing mencari kamar sekaligus melakukan konfirmasi ke Airbnb terkait pemesanan kami. Saking geramnya, dengan meninggalkan keluarga di Bagus Bay, saya memutuskan untuk kembali ke Toba Inn Hotel untuk klarifikasi dan meminta penjelasan lebih lanjut, malam itu juga. Aura liburan sudah menguap berganti rasa geram tiada duanya. Di pintu masuk, saya bertemu teman yang berprofesi sebagai ‘guide‘ lokal di Samosir. Dari hasil perbincangan kami, beliau menggunakan jaringannya untuk dapat memperoleh kamar yang ‘layak’ kami huni sekeluarga. Pandu Lakeside Hotel jadi penyelamat malam itu. Jam menunjukkan pukul 01.00 WIB dinihari, restoran di hotel Bagus Bay sudah tutup, Lobby sepi, tak satupun karyawan hotel yang dapat ditemui untuk melakukan pembatalan kamar di Bagus Bay yang sempat kami huni beberapa menit. Saya memutuskan untuk meninggalkan kunci kamar di meja resepsionis yang gelap dan kosong. Masuk diantar, pergi tak pamit alias lari malam dengan menggendong anak-anak yang sudah tertidur pulas bin lelap. Kamipun pindah ke Pandu Lakeside Hotel dengan kamar superior seharga Rp. 525.000 + Extra Bed seharga Rp. 125.000. Aman untuk sementara, tapi masalah belum selesai sampai disini. Kamar hanya tersedia satu hari, besok sudah harus hunting kamar hotel lagi. Dokumentasi sehari di Pandu Lakeside Hotel :

13227776_10207745829216100_4563872398628609184_o

Early morning swimmers. Well… kinda.

 

13217135_10207745831776164_8551093669327241223_o

Pandu Lakeside Hotel : The backyard. Not bad, eh?.

 

13217258_10207745829896117_8551377964162314380_o

Rocky beach. Lumayan. Buat leyeh-leyeh. Sayang cuma bisa sehari.

Dengan muka sedikit tebal karena rasa segan plus malu berhubung akan merepotkan sang kawan, saya menelepon untuk kembali minta tolong dicarikan kamar hotel tempat menginap kami sekeluarga malam berikutnya. Tak lama kemudian… Walah! kamar hotelpun tersedia : Toledo 2. Alakadarnya, tapi cukup lumayan daripada luntang-lantung tanpa kejelasan mengingat di musim high season seperti saat ini, okupansi kamar hotel di objek wisata paling populer di Provinsi Sumatera Utara ini bisa mencapai 100%!. Dan di Toledo 2-lah akhirnya kami menginap hingga check out untuk pulang.

IMG_20160506_153024

Masih belum bebas masalah. Kamar kami ‘tertukar’ akibat kesalahan pencatatan gelar (Simarmata – marga teman saya yang melakukan booking dicatat Sigalingging) sewaktu pemesanan by phone oleh resepsionis hotel. Semestinya kami menempati kamar yang langsung menghadap danau di lantai 1, good bye – good view. Alih-alih malah kami diberi kamar di lantai 2. Ketahuannya juga sewaktu ngobrol ketika check-out. Pantas saja sewaktu check-in petugasnya sedikit kebingunan. Ya sudahlah. Nanti dibuatkan sinetron-nya dengan judul : “Kamar yang tertukar”.

 

IMG_20160507_063404

Mirip poster kalender. Lebih sedap kalau dipandang secara ‘live‘ begini. This is what makes it all worth it.

 

IMG_20160507_060001

Killer View.

Untuk urusan lambung alias makan-memakan, atas rekomendasi si kawan yang memang sudah puas malang melintang disini, kami pun menuju Rumah Makan Islam Murni di Tuk-tuk. Dan sesuai narasi si kawan. Rumah Makan ini selain diyakini ke-halal-an-nya, juga punya price list yang masuk akal.

IMG_20160506_192450

Biasanya sih selalu ramai dengan pengunjung. Terutama di jam makan. Bagi anda yang penasaran dengan rasa ikan pora, ikan yang wara-wiri di Danau Toba, disini tersedia. Cuma… awas durinya ya.

Merasa ‘hutang budi’ terhadap kawan yang sudah mencarikan kamar untuk kami menginap selama di Samosir, I tried to return the favor dan gayung pun bersambut. Beliau menceritakan masalah transportasinya dan saya menawarkan diri untuk mengantarkannya beserta tiga orang tamu dari Manila-nya ke pasar untuk (mungkin) hunting souvenir dan berkeliling di seputaran Makam Raja Sidabutar. Walaupun saya belum mandi, dan belum menyentuh air selama kurang lebih… baiknya tidak usah saya sebutkan. Dan hasilnya luar biasa, saya benar-benar larut dan mendalami peran sebagai pengemudi merangkap asisten tour guide. See what I’m talkin’ about?

IMG_20160506_094343

“Indonesian driver : great reflexes. Amazing!.” Trivia quiz : who is the girl and can you explain the relationship among the 3 people from Manila?.

Trauma dengan kejadian di pelabuhan penyeberangan, kami mencoba rute darat. Ya. Rute darat. Jadi, sebenarnya pulau Samosir itu tidak benar-benar murni pulau yang terisolasi, karena ada bagiannya yang masih ‘menyambung’ dengan pulau Sumatera di Pangururan – Tele melalui sebuah jembatan, maka kami pun memutari kawasan Danau Toba, melintasi bukit-bukit, melewati Taman Simalem Resort, lanjut turun dari Brastagi hingga menuju Medan. Sedikit lebih lama di perjalanan, namun lebih layak dianggap road trip daripada menghabiskan berjam-jam menanti di pelabuhan, menunggu giliran menyeberang. Pulang.

IMG_20160507_082821

Untuk anda yang tidak membawa kendaraan, perahu ini bisa dipanggil begitu saja, layaknya angkot. Untuk mengantarkan anda menyeberang. Mereka rajin mengitari danau mencari penumpang dari hotel/penginapan yang memang sebahagian besar menempel ke bibir danau.

 

IMG_20160507_085318

Banana boat / jetski ‘rakitan’ bisa jadi alternatif kegiatan basah-basahan.

 

IMG_20160507_093528

Fresh air and the scenery. I’ve come a long way for this. And it worth it.

Di perjalanan pulang, kami singgah ke Pantai Pasir Putih. Lokasi wisata yang populer di kalangan wisatawan lokal.  Dan benar saja. Mayoritas (kalau tidak bisa dikatakan seluruh) pengunjung adalah warga negara-nya saya. Indonesia. Kondisinya :

IMG_20160507_104919

Di sini saya sudah mengendus aroma urin alias pesing yang menyengat. Mari kita jaga kelestarian dan kebersihan Danau Toba dengan cara ? 1. berjualan seadanya di pintu masuk.

 

IMG_20160507_105128

2. Membiarkan sisa-sisa makanan piknik kita tergeletak begitu saja demi menghormati profesi tukang bersih-bersih yang entah ada entah tidak.

 

IMG_20160507_105118

3. Merokok sambil menikmati udara segar dan mencebokkan anak-anak langsung ke danau setelah pipis di pasir pantai nan indah.

 

IMG_20160507_111004

4. Mengalirkan air buangan kamar mandi dan toilet langsung ke danau dengan saluran yang terbuka untuk umum, tanpa pipa sebagai bukti kejujuran dan semangat transparansi.

 

IMG_20160507_114425

5. None of the above. Kerjakan soal dengan sejujurnya. Dilarang mencontek. Bagi yang sudah selesai mengerjakan boleh meninggalkan ruangan tanpa membuat kegaduhan. Partisipasi anda sangat kami hargai. Terima kasih.

Beberapa hal yang cukup mengganggu tentang kondisi perhotelan di wilayah ini adalah hampir semua kamar hotel disini tidak menyediakan pesawat telepon dan pendingin ruangan, apalagi koneksi internet yang baik. Namun hal ini terbayar dengan suhu yang memang sebenarnya sudah cukup sejuk dan pelayanan yang memang standar-standar saja, sehingga pesawat telepon sebenarnya menyelamatkan para tamu dari interaksi lebih banyak kepada pihak hotel :). Banyak keluhan dari para turis (terutama mancanegara) mulai dari kebersihan, keramahan, hingga bahasa Inggris petugas hotel yang bikin geleng-geleng kepala. Hotel dengan kondisi lumayan baik dan pemandangan yang bagus rata-rata dimiliki WNA atau pasangan istri/suami lokal dengan istri/suami WNA dan biasanya dihuni oleh tamu WNA juga. Ambil contoh penginapan Jerman rasa Batak yang cukup populer di dunia maya ini : Tabo Cottages. Saya sudah beberapa kami mencoba menginap disini namun selalu gagal dengan alasan penuh. Mungkin belum rejeki. Bagi anda yang ingin riset lebih mendalam sebelum mengalami kejadian seperti kami, mungkin bisa baca-baca dulu disini untuk menambah wawasan dan ‘amunisi’ sebelum menempuh perjalanan.

001

Things to do in Samosir.

 

001 (2)

Ada baiknya reservasi jauh hari sebelum perjalanan.

Sudah cukup banyak petualangan yang kami alami hanya untuk dapat menikmati keindahan Danau Toba dan secercah udara segar. Tidak semuanya tidak menyenangkan. Here’s the fun part in pictures. I’ll let the pictures tell the tales :

13227320_10207745827176049_8313543472211308239_o

Bikin betah. Saya bisa duduk berjam-jam, menatap ke air lepas. Mendengar air berbisik dengan tenang.

 

IMG_20160506_134037

Sengaja tidak dibuat bagus dan mengkilap supaya memberikan efek senada dengan bangunan di belakangnya. Sama-sama tua dan semoga tetap menjadi objek wisata.

 

IMG_20160506_091209

Versi sedikit modern-nya juga ada.

 

IMG_20160506_134914

Kalau di barat punya cerita boneka kayu-nya papa Geppetto, di batak ada Sigale-gale, Ito.

 

IMG_20160506_090226

Makam raja Sidabutar di desa Ambarita, katanya sih sudah berusia lebih dari 460-an tahun, manusia pertama yang menginjakkan kaki di pulau Samosir. Punya kesaktian di rambut gimbalnya. Masuk ke lokasi makam, kita akan diberi ulos untuk dipakai selama melihat-lihat. Jangan lupa kembalikan sewaktu keluar.

 

IMG_20160506_090329

Suer! Guide-nya kocak bener!.

 

IMG_20160506_090241

Ludwig Ingwer Nommensen (06-02-1834 s.d. 23-05-1918), misionaris dari Jerman yang datang ke tanah batak sekitar tahun 1862 berhasil mengkristenkan raja ketiga (Solompoan Sidabutar). Berkat beliau-lah makam bersimbol ini berada di komplek ini.

 

IMG_20160506_141316

Gorga Boraspati (Bujonngir). Orang batak mesti bisa kayak cicak. Mudah adaptasi dan nempel di mana-mana. Dimana ada cicak, disitu ada orang batak. Empat p*y*d*r* itu maksudnya orang batak mesti  (tolong jangan ditukar urutannya) punya banyak anak dan istri yang subur (tomok), selain juga sayang sama mamak dan biniknya. Ukiran yang biasanya dipajang dirumah ini merupakan gambaran perlindungan dari bahaya. Gitu katanya.

 

IMG_20160506_134605

Monumen Tungtung

 

IMG_20160506_134535

Tungtung : kayu atau bambu yang ditabuh yang menghasilkan bunyi khas sebagai sinyal, kode atau penanda peristiwa.

 

IMG_20160506_090352

Makam tidak tertanam di dalam tanah seperti makam pada umumnya, melainkan berada di atas permukaan tanah.

 

IMG_20160506_134258

Rp. 80.000,00 / show (Sigale-gale). Bisa patungan beramai-ramai. Kalau hanya foto, sukarela (sumbangannya). Kalau gak tahu malu : bisa ngintip dari tirai penutup yang dipasang panitia sewaktu pertunjukan. Semoga tidak kepergok dan disuruh ikut patungan :).

 

IMG_20160506_090642

Mestinya lebih banyak lagi nih informasinya. Yang ini, lumayanlah.

 

IMG_20160506_134421

Batak punya sentimen tersendiri terhadap Batu dan Kayu. Kayu menjadi rumah.

 

IMG_20160506_141251

Batu menjadi makam.

 

IMG_20160506_141307

Gorga : seni ukir khas Batak. Biasa ada di Ruma (rumah). Yang ini disebut Gorga Singa-singa : wibawa atau karisma bagi pemilik rumah.

 

IMG_20160506_135415

Well.. Come and see for yourself how they speak English here.

 

13227768_10207745836136273_3513084102005025838_o

Never mind the misspell, they’re pretty much all over the place.

 

IMG_20160506_175311

Oopps. There’s another one.

 

IMG_20160506_175501

At least they tried.

 

IMG_20160506_180114

And I think they are getting better.

 

IMG_20160506_175739

This one’s only for locals.

 

IMG_20160507_105920

The white sandy beach. If you can call it so.

 

IMG_20160506_141148

Batu parsidangan, tempat rapat atau pertemuan raja dan para pemuka adat.

 

IMG_20160506_180421

Juga sebagai tempat mengadili perkara kejahatan.

 

IMG_20160506_181101

If found guilty : dengan mata tertutup ulos, tubuhnya diletakkan tertelungkup dengan bagian leher di cekungan batu pancungan. Algojo (Datu) dengan sekali tebas akan memisahkan kepala sang terhukum dari tubuhnya. Selanjutnya, kayu Tunggal Panaluan ditancapkan ke jantung orang itu. Jantung dan hatinya lalu dikeluarkan dan darahnya ditampung dalam cawan. Kedua organ manusia tersebut lantas dicincang lalu dimakan oleh raja dan semua orang yang hadir, dan darahnya diminum bersama. Adapun kepala sang terhukum dikubur di tempat yang jauh, dan badannya dibuang ke danau. OMG!.

Peringatan : kisah berikut entah benar entah tidak, yang pasti ini bagian dari warisan budaya di tanah Batak yang sempat saya peroleh dari beberapa sumber (terutama warga sekitar) sambil ‘cakap-cakap’. Kategorinya Parental Advisory : Explicit Content, mengandung kekerasan dan kekejaman luar biasa yang dibalut ritual budaya.

Ada beberapa versi dari ritual makan orang yang saya dengar. Salah satu versi pendek dan tidak kalah sadis bisa dilihat pada ‘caption‘ gambar di atas. Versi  yang lainnya :

Di Desa Siallagan terdapat seperangkat batu dan meja sebagai tempat persidangan yang dipakai oleh raja-raja Batak di Samosir, di antaranya Raja Sidabutar, Raja Siallagan dan Raja Sidauruk untuk menyidang warga yang melakukan kesalahan; baik ringan maupun berat. Perkampungan ini dikelilingi tembok batu yang berfungsi selain sebagai pembatas, juga untuk melindungi warganya dari hewan liar atau binatang buas.

Kesalahan yang bisa dianggap ringan seperti mencuri kambing, lembu, kerbau, jagung, atau ayam biasanya dikenakan hukuman mengganti kerugian 5 kali lipat dari hewan/hasil panen yang dicuri atau kerja sosial tanpa upah.

Untuk kejahatan berat seperti membunuh, memperkosa, menjadi mata-mata, penghianat atau penjahat perang dan musuh bebuyutan di Medan perang, raja akan memanggil para pemuka adat dan menggelar sidang dengan memanggil tetua kampung, dukun, pangulubalang dan keluarga pelaku. Selama menunggu masa penjatuhan hukuman, yang biasanya adalah pemancungan, si pelaku akan menjalani masa pemasungan dan dijaga ketat oleh pangulubalang.

IMG_20160506_180632

TKP pemasungan.

Penjahat yang diyakini memiliki ‘kesaktian’ akan menjalani ritual pelepasan kekuatan berupa jampi-jampi dari dukun. Sang algojo juga memiliki resiko pekerjaan yang amat sangat besar karena jika gagal memancung dengan satu kali tebas, maka sang algojo-lah yang akan dipancung berikutnya.

Setelah eksekusi, kepala si penjahat akan digantung 3 hari di pintu masuk dengan maksud agar wajah tersebut bisa dikenali sekaligus menjadi ‘penjera’ bagi calon penjahat, pengingat konsekuensi dari kegiatan kriminal pada masa itu. Tubuhnya akan dipersembahkan kepada Danau Toba. Menurut kisahnya, untuk menghindari pengaruh ilmu hitam milik si penjahat, selama 7 hari masyarakat tidak diperbolehkan mandi atau menggunakan air danau toba.

Versi berikutnya, sebelum di pancung maka tubuh akan di iris-iris di bagian lengan dengan pisau kecil dan disiram dengan perasan air limau. Jeritan kesakitan sang penjahat dianggap sebagai proses keluar/hilang-nya kesaktian. Selanjutnya penjahat tersebut akan dibelah hidup-hidup dengan iringan sorak-sorai masyarakat yang menyaksikan, isi perutnya diambil dan dibagikan untuk segera dimakan. Dengan tubuh yang isinya sudah terburai, lalu dipapah ke batu pancungan. Kepala  dan daging penjahat akan dimasak dengan daging kerbau dan dihidangkan di meja eksekusi untuk dikonsumsi oleh raja. Darahnya digunakan sebagai pencuci mulut dan tulang-belulangnya dibuang ke danau toba.

Dari seluruh kisah yang berhasil dihimpun, tak satupun menyebut apa yang dilakukan terhadap otak si penjahat. Jatahnya Hannibal Lecter mungkin.

IMG_20160506_181135

Don’t worry. Those weapons are not real. These are just replicas. Ritual makan orang ini masih dilakukan sampai awal abad ke-19.

 

13220522_10207745836216275_4748276698487644579_o

More stone chairs

 

IMG_20160506_180219

Deretan rumah tradisional batak, ada delapan!

 

IMG_20160506_134217

Tangga yang berada di bagian depan rumah memiliki jumlah anak tangga yang ganjil. Saat memasuki rumah ini, kita akan dipaksa menunduk karena pintu rumahnya yang pendek yang sengaja dibuat agar tamu menunduk sehingga secara filosofis mereka dianggap menghargai pemiliki rumah.

 

IMG_20160506_134930

Rumah Bolon : dihuni 4-6 keluarga yang hidup bersama

 

IMG_20160506_135519

Batak Museum Tomok

 

IMG_20160506_175338

Di Samosir, ada sebuah pengambilan sumpah dengan menghadirkan seekor kodok yang harus diremukkan (bojak sirangrang… [bagaikan kodok yang diremukkan ini, begitulah saya…, dan seterusnya]). Kadang kodok ini dihiasi dengan bunga (asa jumorbut), supaya tampak lebih mengerikan.

 

IMG_20160506_180322

Dulunya pohon ini disebut Hau Hangoluan (Pohon Kehidupan) lalu diubah namanya menjadi Pohon Hau Habonaran (Pohon Keadilan atau Kebenaran). Dinamakan dengan demikian mungkin karena dibawahnya terdapat Batu Kursi Parsidangan. Dulunya para pemuka adat memberikan sesajen untuk pohon tersebut karena dipercaya akan memberikan berkah bagi penduduk huta Siallagan.

 

IMG_20160506_180822

Rumah melulu. Banyak raja Batak disini, saya coba nyari ‘istana’-nya tapi belum ketemu.

Oh iya, happy ending dari skandal perhotelan kami terjadi berkat Kevin, operator Airbnb di California yang responsif membantu sebisanya, sekuat tenaga baik by phone maupun via email. Uang saya kembali plus bonus kurs yang masih fluktuatif, dari pembayaran sebesar USD 84 Rp. 1.118.779,20  uang saya dikembalikan sebesar Rp. 1.128.102,36 Yay! total keuntungan Rp. 9.323,16 dari selisih kurs ditambah lagi bonus voucher USD 50 yang dapat digunakan hingga setahun ke depan. Can’t wait for the next holiday.

Sebagai penutup, berikut hal-hal yang indah yang bisa dibagikan :

IMG_20160507_134924

 

IMG_20160507_115637

And you still get the best view.

 

IMG_20160507_220725

For the road trip.

One Response to “Wisata ke Danau Toba”

  1. Aulia Akbar Says:

    Well done mate…and well said 🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: