Not FAQ Kebal Kebul

Friday, August 7, 2009

Q : “Selamat pagi..”

A : “Selamat pagi..”

Q : “Sebelumnya saya ingin tegaskan kalau sesi kita tidak akan terbatas. Saya akan berhenti bertanya ketika sudah tidak ada yang akan ditanyakan atau saya sudah lelah bertanya, dengan tidak menutup kemungkinan bahwa sesi ini akan berlanjut bila saya menginginkan. Anda keberatan?”

A : “Silahkan, saya dengan senang hati akan menjawab. Bahasan kita ini adalah hidup saya. Bagaimana mungkin saya akan bosan?”

Q : “Baiklah, bisa kita mulai?”

A : “Mari..”

Q : “Pertama-tama dan yang utama. Kenapa asap?”

A : “Hahaha.. Kenapa tidak? bisnis ini amat sangat menguntungkan, maksud saya dari hulu ke hilir. Bisnis ini juga telah berhasil mendudukkan pemiliknya ke jajaran orang terkaya di Indonesia, dunia bahkan. Kalau boleh dikatakan, satu-satunya yang tidak memperoleh keuntungan dari bisnis ini ya konsumennya. Tapi mereka terlalu lena atau sibuk untuk menyadarinya. Sementara kami terus menerus memanipulasi benak mereka agar percaya kalau produk kami ini tidak apa-apa malah cenderung keren dan berkelas. Ada image yang mati-matian kami rekatkan pada setiap produknya. Ada buat eksekutif muda, orang kaya raya, lelaki sejati, remaja yang gaul, generasi yang kreatif, biker, pemberontak, lelaki sejati, petualang, dan bermacam ragam image lain yang terus menerus kami kembangkan, sesuai dengan selera pasar. Tentunya selera akan image yang sedang dicari-cari terutama oleh konsumen kami yang sedang mencari jati diri, bukan akan produk kami. Dengan begitu akan tertanam perspektif ngawur kalau mau mencitrakan diri anda akan sesuatu, carilah produk yang pas dengan selera anda. Konsep yang brilian bukan?”

Q : “Menurut anda kesuksesan industri kebul ini tepatnya berkat siapa?”

A : “Kami satu tim yang solid, mulai dari orang produksi di pabrik, distribusi hingga marketing bekerja dengan sangat keras dan cerdas. Mereka orang-orang pilihan dan kami menerapkan standar yang tinggi untuk perekrutan mereka, termasuk urusan gaji yang serta merta dibalas dengan loyalitas yang tinggi pula. Semuanya sepadan. Maka dari itu ini adalah kerjasama tim, semua orang berjasa, termasuk konsumen kami.”

Q : “Hubungan dengan pemerintah?”

A : “Sejauh ini segelintir mulai mengkampanyekan produk kami secara jujur dengan menerapkan perda yang melarang konsumsi produk kami di muka publik. Demi kebaikan bersama katanya, menjaga kesehatan. Tapi itu tidak berlangsung lama, terlalu banyak yang tidak peduli. Penegakan hukumnya juga setengah-setengah. Lagipula mayoritas mereka yang menduduki posisi yang menentukan itu diam-diam juga konsumen setia kami. Dibalik sumbangan cukai mereka bersembunyi. Padahal di pasar gelap banyak juga beredar cukai palsu.”

Q : “Ada masalah setelah cukai dinaikkan beberapa saat kemaren?”

A : “Sama sekali tidak. Customer kami adalah konsumen dari hati. Customer base kami juga semakin bertambah dan beragam, mulai dari simpanse (ya benar simpanse! terkadang orang utan juga) hingga pejabat bersafari, orang gila juga. Pernah anda temukan produk dengan range konsumen sepanjang yang kami punya? Mereka loyal, produk kami prioritas nomer dua setelah makanan. Sedikit penurunan penjualan tidak masalah. Kami juga dengan sangat hati-hati menyesuaikan harga dan kriteria produk kami hingga seolah-olah terjangkau oleh kantong-kantong yang tipis dan masuk akal bagi otak-otak yang cetek itu. Baik itu dengan memperkecil ukuran atau kemasan yang semakin keren dan berkelas dengan isi yang semakin sedikit.”

Q : “Pernah terpikir meninjau ulang bisnis ini, demi kemanusiaan mungkin?”

A : “Kami ini cuma sekumpulan orang yang sedang berbisnis. Masih banyak bisnis lain yang lebih kejam namun luput dari radar karena biasanya juga tidak legal. Untungnya kami resmi, dilindungi undang-undang dan memiliki kekuatan hukum. Diakui oleh pemerintah dan dikonsumsi oleh rakyatnya. Industri yang memayungi kami tidak melihat ini dari sisi kemanusiaan. Perspektif kami dijaga sedemikian rupa hingga kami tetap bisa tidur dengan lelap pada malam hari, walaupun mungkin di seberang sana konsumen kami beramai-ramai terbatuk-batuk dalam tidurnya berkat produk kami. Selama masih menguntungkan akan terus kami garap. Semua orang maklum akan hal itu. Orientasi kami adalah keuntungan, bukan kebaikan. Namun demikian demi Public Relation yang baik, kami juga memiliki program-program CSR yang ‘murah hati’. Sebahagian besar berupa beasiswa. Menakjubkan bukan? dari hasil jerih payah mengasapi paru-paru berjuta-juta anak bangsa untuk seolah-olah segelintir beasiswa bagi anak bangsa juga. Padahal sebahagian besarnya untuk mengasapi dapur kami-kami ini yang berkecimpung di bisnis ini, mengasapi mobil-mobil kami yang setiap hari lalu lalang di jalanan, yang asapnya juga menghiasi langit-langit hitam kita ini. Lalu kami dipandang sebagai perusahaan bergengsi yang ‘bertanggung-jawab’ kepada bangsa dan negaranya. Alangkah menakjubkannya Bisnis ini.”

Q : “Menurut anda sekiranya efek yang ditimbulkan produk anda lebih cepat dirasakan konsumen anda, masihkan produk anda laris manis seperti sekarang ini?”

A : “Tergantung dari sikap pemerintah akan hal ini. Sekiranya dibiarkan, kami yakin masih bisa menjaga loyalitas konsumen kami sekaligus membuka pasar baru bagi produk kami. Hal ini sudah terbukti dari beberapa kali dikeluarkannya himbauan untuk mengurangi konsumsi produk kami, bahkan di setiap kemasan sudah diberi peringatan pemerintah yang sekiranya dibaca dengan sungguh-sungguh mungkin ada artinya, tapi kenyataannya justru kami berhasil memperteguh keyakinan konsumen kami akan tidak apa-apanya produk kami.

Q : “Jenis produk anda dan image yang dibawanya, sejauh mana kaitan dua hal ini dalam mendongkrak penjualan?”

A : “Sebenarnya image yang direkatkan itu hanya gimmick yang kami gunakan untuk memanipulasi pemikiran konsumen kami akan apa yang sesungguhnya kami jual. Dengan produk yang sedemikian ‘berbahaya’, kami tidak terlalu punya banyak pilihan metode untuk memasarkan produk kami. Image – hingga saat ini, terutama di Indonesia masih menjadi ‘kendaraan’ yang paling sesuai. Mengingat masih emosionalnya rakyat Indonesia, kami bisa bermain disitu. Dengan ‘kendaraan’ yang sesuai, hampir apapun akan laku dijual, konten tidak menjadi masalah selama kemasannya memikat. Bermacam cara sudah kami lakukan untuk mendukung metode ini, mulai dari memasukkan adegan orang yang sedang menggunakan produk kami pada film-film yang mereka tonton, papan iklan yang menawan disepanjang jalan, di toko, supermarket, warung, dinding-dinding, dimanapun lokasi yang memungkinkan. Meskipun iklan di televisi mulai dibatasi tapi kami tidak menyia-nyiakan slot tayangan yang ada, silahkan dilihat sendiri berapa banyak iklan kami yang berkejaran ditayangkan pada malam hari, terutama pada tayangan-tayangan dengan rating tinggi.

Q : “Olahraga dan musik, kaitannya dengan produk anda?”

A : “Tidak jauh-jauh dari image. Belakangan ini dengan semakin menyempitnya ruang gerak kami pada tayangan televisi, kami tidak bisa tayang tunggal pada jam-jam ‘keluarga’. Namun kami bisa mensponsori acara yang digandrungi atau terlihat keren terutama pada pemakai pemula atau keluarga, guna membangun kepercayaan diri mereka untuk menggunakan produk kami. Seringnya logo kami muncul dimana-mana. Tanpa disadari ini bagian dari ‘hipnotis’ massal yang kami lakukan. Alam bawah sadar konsumen kami akan merasa ‘nyaman’ dengan terlihatnya logo atau merek produk kami dimana-mana, apalagi bila sedang dikonsumsi oleh tokoh atau orang ternama, lebih baik lagi dari kalangan agama. Ini akan memunculkan ‘pembelaan’ yang semakin menguatkan posisi produk kami di pasar, mengacu dari digunakannya produk kami oleh oknum-oknum tersebut. Ini juga baik bagi calon konsumen kami yang prospektif.

Q : “Menurut anda berapa lama bisnis ini bisa bertahan?”

A : “Wah.. kalau anda minta angka, silahkan anda lihat history perusahaan kami dan perusahaan-perusahaan sejenis yang menelurkan produk yang sama. Kami bisa bertahan sekian lama dan terus berkembang. Ruang gerak kami sedikit dibatasi di negara-negara maju belakangan ini seiring dengan semakin ‘pintar’nya warga negaranya dan bertambahnya kesadaran pemerintahnya akan produk kami dan efek yang ditimbulkannya, sekarang dan nanti. Tapi tidak usah cemas, kami selalu bisa bermanuver untuk menjaga kelangsungan hidup bisnis ini. Anda mungkin masih ingat bagaimana kami mencetuskan produk low tar low nikotin hingga mendongkrak penjualan kami dengan sangat gemilang. Walaupun sebenarnya dibelakang itu yang melatarbelakanginya adalah anjuran untuk hidup lebih sehat lagi dan kampanye anti asap rokok. Konsumen kami mulai berpikir untuk ‘lebih sehat’ lagi dan memilih produk dengan low tar low nikotin. Fakta yang tidak mereka ketahui adalah bahwasannya bagi konsumen yang terbiasa dengan kadar nikotin tertentu belum akan merasa puas sebelum kadar tersebut terpenuhi. Hal ini berujung pada meningkatnya konsumsi diiringi dengan keyakinan konsumen yang berasumsi bahwa ia telah memilih jalan yang ‘lebih sehat’.

Q : “Negara yang masih berlampu ‘hijau’ bagi bisnis anda?”

A : “Setakat ini Indonesia dan Cina. Kedua negara ini terlalu besar dengan carut marut himpitan masalah internal yang bertubi-tubi yang seringkali tidak mereka sadari hingga penduduk maupun pemerintahnya akan terlalu sibuk untuk membangun kesadaran akan apa yang dikonsumsinya. Generasi mudanya juga kurang mendapat bimbingan melewati masa pencarian jati dirinya hingga dengan mudahnya kami giring ke dalam propaganda kami. Mereka-mereka ini adalah garda depan produk kami. Ibarat pistol yang telah meletuskan pelurunya, sang peluru tidak akan berhenti kecuali seseorang sudah terluka. Butuh kekuatan yang sangat besar untuk menghentikannya. Yang mengantarkan peluru ini bagi produk kami adalah candu yang ada dalam nikotin, hehehe.. maafkan dramatisasi saya.

Q : “Nikotin?”

A : “Ya, nikotin. Sangat membantu kami menjaga konsumen-konsumen kami tetap setia pada produk kami. Sangat jarang ditemukan orang yang mampu melawan kecanduannya akan nikotin kecuali akibatnya sudah didepan mata atau berkesadaran penuh untuk mengubah hidupnya dan hidup orang-orang disekitarnya. Kecanduan ini tidak serta merta menghilangkan kesadaran, justru seolah-olah secara sadar merasa ada yang kurang hingga terpenuhinya apa yang dicandu. Kami hanya perlu menyediakan produk kami sedekat mungkin hingga dengan begitu mudahnya dijangkau setiap kali terbit keinginan atau terpikir untuk mencoba. Sisanya ‘Special Agent’ kami akan bekerja dari dalam menghasut konsumen kami untuk kembali dan kembali lagi mengkonsumsi produk kami.”

Q : “Musuh utama bisnis anda?”

A : “Kesadaran, rumah sakit dan kematian. Tiga faktor ini sangat kuat mempengaruhi bahkan mengeluarkan konsumen kami dari daftar penyumbang permanen profit perusahaan kami. Loyalitas akan hancur jika salah satu hal tersebut menimpa konsumen kami.”

Q : “Bisa ceritakan sedikit tentang produk anda?”

A : “Baiklah.. Guna menjaga objektivitas saya bertutur, ada baiknya saya kutip penjelasan dari situs ensiklopedi ternama dan kepercayaan saya selama ini, silahkan diikuti :

Rokok

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Rokok adalah silinder dari kertas berukuran panjang antara 70 hingga 120 mm (bervariasi tergantung negara) dengan diameter sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah. Rokok dibakar pada salah satu ujungnya dan dibiarkan membara agar asapnya dapat dihirup lewat mulut pada ujung lain.

Rokok biasanya dijual dalam bungkusan berbentuk kotak atau kemasan kertas yang dapat dimasukkan dengan mudah ke dalam kantong. Sejak beberapa tahun terakhir, bungkusan-bungkusan tersebut juga umumnya disertai pesan kesehatan yang memperingatkan perokok akan bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan dari merokok, misalnya kanker paru-paru atau serangan jantung(walapun pada kenyataanya itu hanya tinggal hiasan, jarang sekali dipatuhi).

Manusia di dunia yang merokok untuk pertama kalinya adalah suku bangsa Indian di Amerika, untuk keperluan ritual seperti memuja dewa atau roh. Pada abad 16, Ketika bangsa Eropa menemukan benua Amerika, sebagian dari para penjelajah Eropa itu ikut mencoba-coba menghisap rokok dan kemudian membawa tembakau ke Eropa. Kemudian kebiasaan merokok mulai muncul di kalangan bangsawan Eropa. Tapi berbeda dengan bangsa Indian yang merokok untuk keperluan ritual, di Eropa orang merokok hanya untuk kesenangan semata-mata. Abad 17 para pedagang Spanyol masuk ke Turki dan saat itu kebiasaan merokok mulai masuk negara-negara Islam.

Telah banyak riset yang membuktikan bahwa rokok sangat menyebabkan kecanduan, disamping menyebabkan banyak tipe kanker, penyakit jantung, penyakit pernapasan, penyakit pencernaan, efek buruk bagi kelahiran, dan emfisema.

Jenis rokok

Rokok dibedakan menjadi beberapa jenis. Pembedaan ini didasarkan atas bahan pembungkus rokok, bahan baku atau isi rokok, proses pembuatan rokok, dan penggunaan filter pada rokok.

Rokok berdasarkan bahan pembungkus.

  • Klobot: rokok yang bahan pembungkusnya berupa daun jagung.
  • Kawung: rokok yang bahan pembungkusnya berupa daun aren.
  • Sigaret: rokok yang bahan pembungkusnya berupa kertas
  • Cerutu: rokok yang bahan pembungkusnya berupa daun tembakau.

Rokok berdasarkan bahan baku atau isi.

  • Rokok Putih: rokok yang bahan baku atau isinya hanya daun tembakau yang diberi saus untuk mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu.
  • Rokok Kretek: rokok yang bahan baku atau isinya berupa daun tembakau dan cengkeh yang diberi saus untuk mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu.
  • Rokok Klembak: rokok yang bahan baku atau isinya berupa daun tembakau, cengkeh, dan kemenyan yang diberi saus untuk mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu.

Rokok berdasarkan proses pembuatannya.

  • Sigaret Kretek Tangan (SKT): rokok yang proses pembuatannya dengan cara digiling atau dilinting dengan menggunakan tangan dan atau alat bantu sederhana.
  • Sigaret Kretek Mesin (SKM): rokok yang proses pembuatannya menggunakan mesin. Sederhananya, material rokok dimasukkan ke dalam mesin pembuat rokok. Keluaran yang dihasilkan mesin pembuat rokok berupa rokok batangan. Saat ini mesin pembuat rokok telah mampu menghasilkan keluaran sekitar enam ribu sampai delapan ribu batang rokok per menit. Mesin pembuat rokok, biasanya, dihubungkan dengan mesin pembungkus rokok sehingga keluaran yang dihasilkan bukan lagi berupa rokok batangan namun telah dalam bentuk pak. Ada pula mesin pembungkus rokok yang mampu menghasilkan keluaran berupa rokok dalam pres, satu pres berisi 10 pak. Sayangnya, belum ditemukan mesin yang mampu menghasilkan SKT karena terdapat perbedaan diameter pangkal dengan diameter ujung SKT. Pada SKM, lingkar pangkal rokok dan lingkar ujung rokok sama besar.

Sigaret Kretek Mesin sendiri dapat dikategorikan kedalam 2 bagian :

  1. Sigaret Kretek Mesin Full Flavor (SKM FF): rokok yang dalam proses pembuatannya ditambahkan aroma rasa yang khas. Contoh: Gudang Garam Filter Internasional, Djarum Super, dll.
  2. Sigaret Kretek Mesin Light Mild (SKM LM): rokok mesin yang menggunakan kandungan tar dan nikotin yang rendah. Rokok jenis ini jarang menggunakan aroma yang khas. Contoh: A Mild, Star Mild, U Mild, LA Light, Surya Slim, dll.

Rokok berdasarkan penggunaan filter.

Nikotina

(Dialihkan dari Nikotin)

Nikotina adalah senyawa kimia organik kelompok alkaloid yang dihasilkan secara alami pada berbagai macam tumbuhan, terutama suku terung-terungan (Solanaceae) seperti tembakau dan tomat. Nikotina berkadar 0,3 sampai 5,0% dari berat kering tembakau berasal dari hasil biosintesis di akar dan terakumulasi di daun.

Nikotina merupakan racun saraf yang potensial dan digunakan sebagai bahan baku berbagai jenis insektisida. Pada konsentrasi rendah, zat ini dapat menimbulkan kecanduan, khususnya pada rokok. Nikotina memiliki daya karsinogenik terbatas yang menjadi penghambat kemampuan tubuh untuk melawan sel-sel kanker, akan tetapi nikotina tidak menyebabkan perkembangan sel-sel sehat menjadi sel-sel kanker.

“TAR” secara standar internasional adalah pengukuran berat material asap rokok yang mengandung racun dan bahan berbahaya lain. Umumnya apabila nilai TAR tinggi maka nafas terasa berat, sesak dan dada sakit.

One thousand Americans stop smoking every day – by dying. Indonesian?

Q : “Anda merokok?”

A : “Tidak. Bagaimana mungkin saya merokok? Itu sama saja saya secara sadar dan perlahan-lahan bunuh diri dengan mengasapi diri saya hingga terkena penyakit dan berakhir di rumah sakit atau kuburan. Anda jangan heran, ini murni bisnis. Saya hidup dari sini bukan berarti saya hidup dengan ini.”

Advertisements

2 Responses to “Not FAQ Kebal Kebul”

  1. Febri Says:

    Duh…sinis banget isinya, hati-hati kalo yang ngebaca perokok, bisa-bisa bukan cuma sakit jantung, tapi juga sakit hati. ha..ha..ha..

  2. andika Says:

    haha.. setuju deh sama artikel diatas, perokok juga bisa menimbulkan kanker.. nih baca http://infopenyakitkanker.blogspot.com/2012/08/gejala-kanker-mari-kenali.html


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: