Amazing Aceh, Beautiful Banda Beaches.

Thursday, August 30, 2018

Perjalanan akan membuatmu tidak dapat berkata-kata, lalu mengubahmu menjadi pencerita“. (Ibnu Batutta – musafir abad ke-14).

Roadtrip kali ini, seperti biasa, lepas lebaran. Memanfaatkan cuti, cerita lagi.

Tapi, ada yang kurang biasa, yaitu ‘hunch‘ untuk tidak merencanakan perjalanan sebisa mungkin. No itinerary. Normalnya, jauh-jauh hari saya akan melakukan pemesanan kamar hotel, mereka-reka rute, menebak-nebak total expense, spot yang akan disambangi, blablabala… Walaupun pengalaman menunjukkan, dengan perencanaan sedetail apapun, berkali-kali budget tetap saja jebol. Saya menolak keras ketika kesenangan berpetualang dikendalikan oleh faktor finansial, berujung pada tagihan membengkak dari bang master melalui billing statement. Bertambah rodan rasanya kantong. Fiuh! We’ll play it by ear this time.

Lanjut, kemungkinan besar faktor pemicu munculnya firasat ini adalah adanya rombongan tambahan, yang keberadaannya penting, dan keinginannya juga tidak kalah penting. Maka kami yang menyandang status orang lokal berformasi paling lengkap dengan kategori sudah pernah ini akan dengan mudah menyesuaikan jadwal dan lain-lainnya. Perjalanan rentan perubahan. Okay. Namun, ternyata satu-persatu Blessing in disguise (BID) akan membuka tabir. One bless after another, sabar yah. Lanjut saja membaca.

Setelah di penghujung 2014 kami pernah menginap-lintas di Banda Aceh dalam perjalanan ke Sabang, saya pribadi menyimpan ‘dendam’ untuk kembali dan mengeksplorasi tempat yang menakjubkan ini. Dan ini kisahnya yang coba diketik semi rinci.

Berhubung cuti tahunan tidak diperkenankan dirangkai dengan cuti bersama setelah lebaran, maka saya mengajukan untuk cuti beberapa hari setelah cuti bersama lebaran selesai. Habis cuti bersama lebaran, kerja, cuti lagi. Tidak ada ketentuan/himbauan/edaran yang dilanggar. Beres kan? Belum. Dengan masa mulai cuti hari Senin, harusnya roadtrip bisa dimulai Jum’at malam atau Sabtu pagi. Tapi di hari Rabu-nya ada pemilihan yang terhormat Gubernur Provinsi, dan rencana kami untuk mulai secepatnya harus disusun ulang, menyesuaikan dengan jadwal pilgub. Sebagai warga provinsi yang baik dan taat pada KPU, kami menunaikan hak kami untuk memilih sepagi mungkin. Lepas nyoblos, baru nyoss. Dan strategi manis ini ternyata juga tidak menyebabkan rombongan tambahan bisa berangkat berbarengan dengan kami. Karena satu dan lain hal. Ya sudah. Kami pun berangkat lebih dulu. Kontingen pertama, sekeluarga, dengan mobil yang lama, Daihatsu Xenia M 1.0 Sporty. Yeah!

BID-1 : Udang Gadang di Aceh Tamiang.

Pitstop pertama, dalam perjalanan menuju Banda Aceh, kami singgah di Aceh Tamiang. Dengan maksud bersilaturrahim, mengunjungi kawan karib sewaktu menyelesaikan beasiswa S2 Kemenkominfo di Magister FISIP USU, tidak terlalu dulu, namun sedihnya saya wisuda lebih dulu, ia harus bersedia lebih lama menunggu, sudah hampir setahun berlalu. Sudah, jangan begitu, nanti ini tulisan jadi bertabur ‘U’…

Kurang dari 4 jam perjalanan, kami pun tiba di Kecamatan Karang Baru, lokasi yang dituju. Atmosfir jalan-jalan yang menyenangkan sudah mulai terasa. Pohon-pohon hijau, udara segar, pemandangan teduh yang tidak biasa. Menyegarkan, menenteramkan. Sang tuan rumah rupanya benar-benar paham bagaimana caranya menjamu tamu. Rombongan kami yang memang tiba hampir bersamaan dengan sampainya jam makan siang telah disambut hangat dengan berbagai jamuan rumahan berkelas atas. Yang dengannya saya akan forever grateful. Terutama berkat  pengalaman mengkonsumsi udang yang ukurannya tidak lazim. Sebenarnya saya punya dokumentasi ukuran udangnya. Namun, saya akan membiarkan imajinasi anda menjadi batas ukuran udang yang saya maksudkan.

BID-2 : Kopi di Idi.

Pemberhentian kedua, ditemani kawan yang istananya kami singgahi di Aceh Tamiang, adalah Kabupaten Idi Rayeuk. Lokasi tepatnya, within walking distance dari Masjid Agung Darus Shalihin. Masjid megah yang kabarnya mirip Taj Mahal di India.

Masjid Agung Darus Shalihin – Idi Rayeuk, AcehTimur.

Disini, kami mengunjungi kawan satu almamater di di Magister FISIP USU yang sedang mengandung anak pertama. Wanita multitalenta yang berprofesi sebagai aparatur negara pemilik lembaga pendidikan swasta dan juga beberapa kegiatan jual-menjual lainnya. Kopi salah satunya. Sepanjang menempuh pendidikan Magister, for some reasons, kami bertiga adalah trio kwek-kweknya kelas. Dugaan sementara faktor pemersatu adalah kesamaan bakat dan minat yang tidak bisa saya tuliskan disini.

Disini juga, kami putuskan untuk menunggu mobil rombongan tambahan yang tadinya direncanakan akan berangkat berbarengan. Dan mereka tiba kelewat sore hingga akhirnya kami memutuskan untuk mencari penginapan di Lhokseumawe, kota kelahiran istri saya tercinta. Namun takdir berkata lain, akhirnya kami malah couchsurfing disini, di Idi, di rumah istimewa ini. Rombongan 3 keluarga, 2 mobil yang mendapat kehormatan salat Subuh di Masjid Agung Darus Shalihin sebelum akhirnya berangkat melanjutkan perjalanan ke Banda Aceh esok harinya.

Terima kasih tak terhingga kepada para tuan rumah yang bersedia direpotkan secara mendadak, mengingat di dalam rombongan kami, terdapat dari 4 orang anak-anak, yang mana 3 diantaranya adalah bocah laki-laki yang menganggap setiap lahan kosong sesempit apapun, adalah lapangan sepak bola.

Sudah direncanakan sebelumnya, bahwa kami akan singgah di Lhokseumawe, bahkan menginap untuk kemudian ternyata tidak jadi. Namun melewati kota ini adalah suatu kesenangan tersendiri. Keluarga istri saya sempat menghuni Kota ini semenjak lahir hingga akhirnya pindah dan tak pernah kembali kecuali untuk berkunjung, bukan menetap. Maka Lhokseumawe, yang tercetak sebagai tempat lahir istri saya di kartu identitasnya adalah tempat yang mengandung nilai sentimental yang selalu layak di napaktilasi.

Setelah sarapan nan menyenangkan di salah satu warung tradisional, di Kota ini pulalah kami beruntung menemukan buah jamblang, tanaman khas yang katanya hanya akan berbuah pada musimnya. Tak heran pada 2014 ketika kami melintas, tak satu pun penjual buah ini kami temui di jalan. Setelah beberapa kali berpapasan dengan penjual yang meletakkan dagangannya pada kotak kayu di belakang sepeda motornya. Akhirnya kami memutuskan memberhentikan salah satu penjual di pinggir jalan raya. Menepi di tempat sepi. Sesi tanya jawab singkatnya kira-kira berlangsung begini :

Saya : “Pak, ini buah apa?”

Penjual : “!@#$%^^” (bagi saya terdengar seperti kata ‘jemblang’ yang diucapkan dengan aksen Aceh yang kental dan kecepatan tinggi).

Saya : “Buah apa pak?” (pengucapannya terdengar saru, saya perlu konfirmasi untuk memastikan deretan huruf dari bunyi ‘jemblang’ yang dikeluarkan si bapak penjual).

Penjual : “!@#$%^^” (masih sama)

Saya : “Apa pak?”

Penjual : “!@#$%^^” (beliau mengulangi bunyi yang persis sama)

Saya : “Apa?”

Penjual : “Anggur Aceh.”

Sudah. Terselesaikanlah misteri pengucapan si bapak penjual yang menyebabkan saya harus melakukan konfirmasi 3 kali sebelum akhirnya si bapak secara brilian memutuskan menggunakan sinonim kata yang dapat saya mengerti maknanya. Sembari berpromosi akan khasiat buah jamblang yang katanya memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Informasi tambahan yang saya pribadi ragukan kesahihannya adalah ketika si bapak berujar, “buah ini juga bisa bikin mengecilkan p*yudara.”

Saya : “Haa? Bukannya malah biasanya memontokkan? nanti bapak salah dengar?”

Penjual : “Iya, katanya begitu. Saya juga tidak terlalu percaya, tapi katanya gitu.”

Sudahlah. Saya pikir mengingat kemungkinan background si bapak, bisa jadi berita hoax pun akan terdengar nyata. Tidak ada gunanya mendebat secara mendalam, informasi yang diterima selintas lalu. Saya lanjutkan membeli 3 macam varian buah jamblang yang ditawarkan : manis, pedas dan original. Perjalanan pun berlanjut menuju Banda Aceh dengan buah jamblang yang menemani.

Buah Jamblang

Pohon Jamblang.

BID-3 : Best accomodation + free expert-like local guide.

Hingga hampir tiba di Banda Aceh sekalipun, kami masih belum melakukan reservasi kamar hotel untuk rombongan. Hal ini bisa jadi dilatarbelakangi mudahnya memperoleh akomodasi saat ini. Bermacam aplikasi di smartphone hingga worst case scenario berupa menjadi tamu walk in ke penginapan yang dilalui, serta beragam rencana dalam kepala yang meyakinkan diri untuk tidak panik ketika belum memiliki akomodasi di tempat yang dituju.

Hingga tiba berita positif bahwa temannya istri saya yang suaminya bertugas di Banda Aceh bersedia menampung rombongan kami di rumah dinasnya. Sebenarnya kabar ini telah santer terdengar sejak hari pertama kami memiliki rencana untuk melakukan roadtrip ke Banda Aceh, namun tekanan rasa segan menyebabkan tawaran ini didiamkan secara sopan.

Dan walah! ternyata kenyataan melebihi ekspektasi. Bukan hanya mendapat tumpangan akomodasi bagus nan tidak berbayar, sebagaimana adat ketimuran dalam hal melayani tamu, mereka adalah jagoannya. Dan bukan itu saja, sang suami bahkan ternyata memiliki tingkat kepakaran yang di atas rata-rata ketika menyangkut dunia pariwisata dan dengan senang hati menemani rombongan kami menjelajahi bumi Banda Aceh nan menakjubkan ini.

Joel’s Bungalows – Lampuuk Beach

Begitu tiba di Banda Aceh dan meletakkan barang-barang di akomodasi yang luar biasa ini, dengan rasa lelah perjalanan jauh yang masih belum menguap, ditemani tuan rumah, dengan kecepatan tinggi lantaran mengejar tenggelamnya matahari, kami langsung menuju Joel’s Bungalows di Lampuuk, tidak jauh dari pusat kota. Di kalangan turis mancanegara, tempat ini cukup popular dan memperoleh ulasan yang rata-rata positif. Dan mereka tidak salah. Silahkan dinilai sendiri :

Debur ombak, silahkan disimak.

Best spot to enjoy the sunset.

Ditemani air kelapa, alamak sedapnya.

Masjid Rahmatullah.

Puas menatap tenggelamnya matahari di bibir pantai, kami melanjutkan salat Maghrib di Masjid Rahmatullah. Bangunan yang berada dekat dengan bibir pantai ini menjadi saksi sejarah dahsyatnya tsunami yang melanda Aceh kala itu.

Masjid Rahmatullah yang masih berdiri tegak diantara reruntuhan bangunan sesaat setelah Tsunami Aceh (4/1/2005) © Jacob J. Kirk /EPA | sumber : beritagar

Masjid Rahmatullah tidak lama setelah tsunami. Photo courtesy : https://www.goodnewsfromindonesia.id/2016/09/23/apa-kabar-masjid-rahmatullah-aceh

Sekarang, setelah mendapat bantuan renovasi dari Turkish Red Crescent yang logonya terpampang di bagian atas bangunan, masjid ini menjadi destinasi wisata religi tersendiri, khususnya bagi wisatawan muslim. Sebagian sisi masjid yang rusak dihantam gelombang tsunami dikonservasi sebagai monumen pengingat terjadinya tsunami, lengkap dengan batu karang, koral dan pasir serta puing-puingnya.

Bagian Masjid Rahmatullah yang diabadikan sebagai monumen pengingat tsunami.

Sisa Karang, Koral dan Pasir yang dibawa tsunami hingga ke bagian dalam Masjid.

Bagi wisatawan non-muslim, terdapat galeri di kompleks masjid, terpisah namun tidak jauh dari masjid. Pada galeri ini dapat ditemui dokumentasi berupa foto-foto dan video yang menceritakan betapa mencekamnya situasi kala itu. Kalau anda beruntung, akan ada pengurus masjid yang menemani sekaligus memberi narasi first hand dari saksi-korban yang selamat dari terpaan tsunami.

Dan hari itu pun ditutup dengan syahdu. Lanjut esok hari, petualangan baru lagi.

Pelabuhan Perikanan Samudera Lampulo.

Pagi hari, bahkan sebelum mandi, kami menuju ke Pelabuhan Perikanan Samudera Lampulo. Pelabuhan ini terkenal akan ikan segarnya, untuk merasakan sensasi petualangan menyaksikan ikan segar yang sebagian besar sudah mati.

Pelabuhan Perikanan Lampulo

Namun ada rasa prihatin yang menyisip ketika melihat betapa beragamnya jenis ikan yang ditangkap disini. Saya yang pemakan ikan sejati saja merasa miris menyaksikan beberapa jenis ikan yang sepertinya lebih layak berada di laut dalam keadaan hidup daripada berakhir sebagai sajian di piring makan. Berikut beberapa dokumentasi yang sempat saya kumpulkan.

Big Beautiful Fishes.

Colorful Fishes.

Untuk beberapa saat, saya kehilangan selera mengkonsumsi ikan selain dencis dan ikan mujair.

Situs Tsunami Kapal di Atas Rumah.

Puas mengitari kawasan Pelabuhan Perikanan Lampulo, rombongan kami melanjutkan perjalanan ke Kawasan Situs Tsunami Kapal di Atas Rumah, masih di Lampulo. Disini kami bersua dengan seorang nenek yang sangat mahir bercerita. Beliau mengisahkan perjuangannya mengalami tsunami hingga akhirnya bisa selamat, sehat wal ‘afiat hingga kini. Beliau adalah Nek Bundiah, dikenal juga dengan sebutan Nek/Wak Kolak sebagai manifestasi pekerjaannya sehari-hari, berjualan kolak di seputaran pelabuhan.

“Kapal Di Atas Rumah”, Kapal Penyelamat 59 Orang.

Nek/Wak Kolak sedang asyik menceritakan kisahnya kepada pengunjung.

Selain detail kejadian yang dikisahkan secara apik oleh Nek Kolak, terselip cerita tentang adanya satu individu yang menurut Nek Kolak adalah Kapten Kapal yang sedang tidur yang tidak menyadari bahwa kapalnya telah terseret ke atap rumah penduduk hingga akhirnya penduduk beramai-ramai menyelamatkan diri ke dalam lambung kapal. Juga tentang adanya buaya besar yang ikut terseret ke bagian bawah kapal. Buaya tersebut langsung melarikan diri ketika air tsunami telah surut.

Jembatan Ulee Lheu

Jembatan ini bisa sangat ramai di akhir pekan oleh penduduk lokal yang ingin menikmati indahnya pemandangan laut lepas dan sejuknya tiupan angin yang lembut membelai kulit, memanjakan mata. Pemandangan dan debur ombak dalam jangkauan yang sangat dekat, bahkan bisa menerpa kendaraan/orang yang melintas sepanjang perjalanan menuju tempat ini. Sensasi menyenangkan tersendiri. Di bagian bawah jembatan dapat ditemui para pemancing ikan yang asyik dengan kegiatannya mendulang ikan-ikan dari laut, sebagian besar abai dengan kehadiran turis lokal seperti kami ini. Di airnya yang jernih gerombolan ikan berenang kesana-kemari, menambah rasa takjub akan dahsyatnya ekosistem di kawasan ini. Bahkan di salah satu tiang penyangga jembatan saya melihat beberapa ekor binatang menyerupai musang yang tidak saya ketahui jenisnya. Luar biasa menyenangkan-menenangkan. Saya bisa menghabiskan waktu berlama-lama mensyukuri keindahan bak lukisan ini. Tak lama ferry penyeberangan pun melintas, lalu perahu nelayan tradisional, bergantian, begitu seterusnya dalam rentang yang jarang. Tak mengusik kemegahan laut lepas nan tenang.

Sajian yang memanjakan mata.

Para pemancing.

Ferry penyeberangan yang sedang melintas.

Bergeser sedikit melalui rute yang kurang lazim, terdapat salah satu spot yang bisa dimanfaatkan untuk menyaksikan ferry penyeberangan yang merapat, menurunkan penumpang dan barang, dari sisi yang tidak banyak turis ketahui, sisi tersendiri.

Kapal Motor Penumpang (KMP) Tanjung Burang sedang menurunkan penumpang dan barang di Pelabuhan Ulee Lheue.

Pantai Ulee Lheue.

Beralih ke bagian depan Pelabuhan, tepat di gerbang masuk pelabuhan penyeberangan, satu lagi spot dengan tulisan besar ‘pantai ULEE LHEUE’. Bagi orang/kendaraan yang hendak menyeberang ke Balohan – Pulau Weh, akan menemukan tulisan ini di bagian kiri, di tepi laut.

Pantai Ulee Lheue.

Masjid Raya Baiturrahman.

Lagi-lagi disebut ‘mirip’ Taj Mahal di India. Landmark Kota Banda Aceh ini menjadi magnet bagi wisatawan muslim se-Nusantara, bahkan mungkin mancanegara. Terlebih ketika pada tahun 2017 silam payung elektrik yang mirip dengan yang terdapat di Masjid Nabawi di Madinah, Arab Saudi, terkembang pula disini. Kuat dugaan saya bahwa The Saudi Charity Campaign yang menjadi yang donatur rehabilitasi masjid ini menjadi pihak yang patut menerima ucapan terima kasih. Meskipun tak lama terdengar kabar sobeknya salah satu payung tersebab cuaca buruk. Semoga segera diperbaiki. Masjid yang memiliki parkir bawah tanah dan eskalator (semoga/harusnya waterproof, sebab jamaah akan melalui eskalator ini dalam keadaan kaki basah setelah berwudhu) ini menjadi tempat kami menunaikan Salat Jum’at.

Jamaah Salat Jum’at.

Bendera negara yang gagah berkibar, berlatar payung elektrik.

Tidak jauh dari Masjid Raya Baiturrahman, ada pula ‘Sin Bun Sibreh’. Toko unik yang kelihatan bersejarah yang juga memajang tulisan plank nama dalam aksara arab dan pernah terbakar beberapa kali ini menjual beberapa benda, yang sebagiannya berdebu. Namun sebagian lainnya, menurut saya masuk kategori ‘buah tangan’. Layak dijadikan oleh-oleh. Termasuk bumbu rujak yang bahkan teman saya yang orang Aceh tulen menitip untuk dibelikan. You should try-lah.

Sin Bun Sibreh.

Musium Tsunami

Landmark kota yang satu ini memang fenomenal. Sudah pernah dilewati, namun tak singgah. Kali ini kami punya waktu dan kesempatan untuk masuk, mengagumi karya Kang Emil nan spesial ini. Namun, masih di gerbang utama, menyeruak suasana tidak menyenangkan. Mulai dari pengaturan parkir kendaraan bermotor hingga perilaku pengunjung yang cenderung destruktif. Saya bahkan sempat menegur salah satu pengunjung yang masuk ke dalam area pajangan berupa puing helikopter polisi yang telah diberi pembatas untuk pengunjung, menduduki puing helikopter yang sudah ringkih demi kesempatan untuk berfoto sedekat mungkin, dengan kemungkinan melakukan perusakan, bahkan peniruan oleh pengunjung berikutnya.

Puing.

Di bagian dalam salah satu area yang disebut Space of Sorrow (Sumur doa), beberapa nama korban yang dapat dijangkau tangan, terlihat lepas, bengkok, penyok, beberapa malah kondisinya mengenaskan. Mungkin ulah tangan-tangan jahil. Sedihnya, sepertinya ini ciri khas turis lokal (berdasarkan pengalaman pribadi, saya memang lebih banyak melihat turis lokal dengan perilaku merusak, daripada turis non lokal yang memang secara jumlah juga tidak banyak). Merusak tourism spot dengan tingkat kesadaran mirip kucing yang sedang menandai wilayah kekuasaannya. Belum lagi bekas telapak tangan dan kaki yang mendarat sembarangan, sisa makanan, tumpahan minuman. Saya kehilangan fokus untuk menikmati bangunan luar biasa ini. Secara keseluruhan, dapat dilihat betapa megahnya desain bangunan ini, dan betapa tidak terpuji perilaku pengunjungnya yang berjiwa vandal. Sisi sentimentalnya, pada beberapa kesempatan saya menyaksikan sejumlah pengunjung yang berurai air mata, atau bahkan hingga jatuh terduduk, terisak tangis. Mungkin terpicu trauma atau kesedihan masa terjadinya Tsunami. Dapat dipahami betapa beratnya kembali mengulang tragedi yang telah dilalui, bukan jenis nostalgia yang berbunga-bunga. Salut untuk kemampuan kang Emil menghadirkan suasana napak tilas yang emosional, penuh dengan perenungan dan kerinduan yang mendalam pada anggota keluarga, tetangga, kampung yang tersapu. Rasa kehilangan yang tidak akan mudah pudar.

Puncak Geurute

Direkomendasikan oleh teman saya yang rumahnya kami singgahi di Aceh Tamiang, bahwa kalau ada kesempatan, tempat ini adalah spot yang sedap untuk menatap. Memandang luasnya lautan dan mensyukuri segala karunia yang telah didapatkan selama ini serta merasakan betapa kecil dan tidak signifikan-nya diri ketika berhadapan dengan landscape semegah ini.

Puncak Geurute.

Pegunungan yang menjulang tinggi di sebelah kiri, laut dan pantai yang anggun di sisi kanan. Pada beberapa bagian, ruas jalan yang tersedia cukup sempit hingga manuver seperti U Turn akan sulit dilakukan, walaupun pada beberapa sisi perlintasan tetap memungkinkan untuk memarkirkan kendaraan dan bersantai di warung-warung kayu pinggir tebing. Mirip dengan kawasan wisata di dataran tinggi berudara segar semisal Brastagi atau Danau Toba, di bibir jurang banyak tersedia warung-warung kayu dengan hidangan standar berupa mie instan atau minuman dalam bentuk sachet serta teh atau kopi kampung. Sempat terlintas dalam pikiran bahwa warung-warung kayu yang langsung menempel di pinggir jurang ini tidak kalah menyeramkan dengan Glass Walkway di gunung Tianmen, Cina. Bedanya, mereka punya kelihatannya dibangun dengan perhitungan saksama (ala Cina tentu saja), menggunakan teknologi konstruksi yang tidak main-main (sepertinya). Nah, warung-warung kayu di puncak Geurutee ini dibangun oleh tukang yang background-nya tidak jarang adalah putus sekolah, bahkan mungkin mendapat ilmu pertukangan dengan cara otodidak. Seringkali melakukan perhitungan konstruksi sederhana hanya dalam benak, dialiri asap rokok dan didampingi perkakas seadanya. Belum lagi membahas kualitas konstruksi dan bahan serta material yang digunakan. Namun begitu, lihatlah. Kami sudah berdiri, duduk, berfoto, bahkan anak-anak berloncatan di bilah kayu yang disusun sebagai lantainya itu.

Indahnya Pemandangan dari Puncak.

Tidak hanya sampai disitu. Meskipun hari sudah beranjak senja, saya menyempatkan diri untuk mendaki hingga ke titik paling atas (menurut saya). Menapaki anak-anak tangga yang sebagian berhamburan, pecah berserakan. Nampaknya jalan ini sengaja dibangun untuk memudahkan pendakian, namun sayang kondisinya nyaris mengenaskan. Bahkan kamar mandi (kecil) yang disediakan sudah tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Terabaikan, tidak terawat. Di tengah perjalanan saya bertemu grup Nasyid yang sedang melakukan shooting video amatir marhaban. Saling bertukar senyum, saya pun kembali turun.

Senja.

Sebenarnya jalan menuju ke Puncak Geurute ini juga adalah kenikmatan tersendiri. Hamparan sawah, gunung dan hutan dengan vegetasi yang lebat, bahkan jika anda beruntung anda dapat bertemu satwa sejenis babi hutan yang menyeberang jalan dan monyet-monyet kecil nan menggemaskan. Selain juga lembu-lembu khas Aceh yang tak jarang berada di jalan, serta beberapa satwa endemik yang benar-benar eksotis bagi saya.

Ayam Pramugari

Selain memanjakan mata dengan pemandangan laut dan pantainya yang spektakuler, Banda Aceh juga menyimpan gastronomic potential yang perlu diperhitungkan dengan cermat. Tak perlu membahas kopi, yang reputasinya sudah kemana-mana. Ambil sampel Kopi Rebbe yang bikin sakau, dan masih banyak lagi tempat ngopi yang berserakan layaknya puing bangunan di construction site.  Kami cukup beruntung menemukan tempat-tempat makan iconic semisal RM. Minang Saiyo di dekat Masjid Baiturrahman sebagai pengobat rindu lidah akan masakan urang awak. Mie Saleh, Mie Aceh di kedai kayu yang nikmatnya menyebabkan air liur meleleh. Bahkan ketika saya menuliskan perjalanan ini di laptop, mulut saya tak henti mengucurkan cairan pelumas makanan di sela-sela gusi dan gigi. Dan, Daus, Nasi Goreng Khas Aceh. Orang Aceh punya keahlian tersendiri meracik nasi goreng, senangnya salah satu cabang Daus juga ada di Medan. Dekat rumah!. Beberapa surga kuliner yang saya temui juga memiliki rasa yang kalau saya kupas satu persatu, akan menghabiskan terlalu banyak kata. Secara random saya ulas salah satu diantaranya saja.

And many more.

Dekat dengan Bandara Sultan Iskandar Muda, sering dikunjungi stewardess a.k.a female flight attendant, maka rumah makan Adytia Jaya milik Pak Sofyan HS ini lantas menyandang nama populer ‘Ayam Pramugari’. Ratusan ekor ayam kampung beserta dedaunan yang digoreng garing berakhir di piring makan di tempat ini, per harinya. Selain Kari dan Gulai Kambing serta beberapa hidangan yang kalah populer dari sajian khas ayam tangkap Aceh ini. Saking dahsyat daya tariknya, rumah makan ini juga terkenal sebagai tempat makan para pejabat dan petinggi, selain turis domestik seperti kami ini. Rombongan kami harus merevisi pesanan berkali-kali tersebab pesanan yang rencananya akan dibawa dalam perjalanan, dihabiskan sembari menunggu pesanan berikutnya datang. Anak-anak pun tak henti-henti meminta tambahan kunyahan di tempat ini. Benar-benar tempat yang menerbitkan appetite para pemakan ayam kampung goreng.

Tanpa pramugari, hanya ayam goreng.

Kebun Kurma

Wah, untuk yang satu ini saya harus sampaikan salut. Walaupun pada saat kami tiba disini, kebun ini belum pernah panen dan terbukti berhasil, tapi mengalokasikan berhektar-hektar lahan untuk menanam pohon kurma di negara yang iklimnya tropis tulen, Indonesia, tentu bukan kegiatan yang bisa dipandang sebelah mata. Butuh nyali besar serta tekad baja untuk dapat mewujudkannya. Dan ini terjadi di Aceh. Berbuah pula. Ini buktinya!

Kurma.

Semoga berhasil.

Sedikit menanjak dari pintu masuk yang dibuka sendiri, ada bangunan bertingkat berbahan kayu yang sering dijadikan tempat berfoto para pengunjung. Jika anda lelah, tersedia pula beberapa kursi beserta meja yang dibuat menyerupai potongan semangka yang tidak ada peneduhnya. Sekiranya aspek perkebunannya tidak terpenuhi, entah buahnya tidak baik atau tidak memenuhi unsur ekonomisnya, saya pikir lahan seluas ini bisa bermanuver menjadi tempat wisata edukasi dengan tema utamanya, tentu saja, kurma.

Pohon Kurma.

Bukit Soeharto

Lepas dari persinggahan singkat di kebun kurma, rombongan kami melanjutkan perjalanan ke Bukit Soeharto. Wisata panorama alam. Kemewahan visual yang lazim di Aceh ini. Di bukit yang dinamai sesuai dengan nama Presiden Indonesia yang lama menjabat ini terdapat puing bangunan bekas villa yang menurut penunggu tempat tersebut adalah villa yang sering dikunjungi Presiden Indonesia kala itu. Di bagian depan terlihat jajaran pohon yang diberi plakat beton bertuliskan nama pohon dan Menteri kabinet yang menanamnya serta beberapa informasi tambahan lainnya. Sayang bangunan utama telah hancur lebur tak bersisa, tergantikan pohon jamblang yang berdiri menjulang. Namun meriam jaman belanda yang diletakkan disini masih utuh terpajang, menyisakan kegagahan masa lalu sang Penguasa. Di bagian bawah meriam tertera, ‘Meriam th 1943, peninggalan Jepang di Gunung Momong, Lampuuk, Lhok Nga’.

Meriam Jepang 1943.

Pemandangan utama ke arah laut lepas adalah aktivitas di Pelabuhan Malahayati dan indahnya hamparan laut lepas yang normalnya banyak terdapat di kalender. Penduduk setempat yang menghuni lokasi pada saat itu ternyata sedang panen asam jawa. Rombongan kami ditawari untuk membeli asam jawa hasil panenannya dengan harga luar biasa murah. Tanpa timbangan, hanya takaran tangan. Saya malah tergiur melihat biji asam jawa yang terbentang berserakan rapi di atas tanah. Atraksi statis indah tersendiri bagi saya. Terhampar begitu saja.

Melintas.

Pantai Pasir Putih

Sebagai penutup, sebelum pulang, dijalan pulang, kami kembali mengunjungi Pantai Pasir Putih. Sesuai namanya. Pantai ini berpasir putih, benar-benar putih. Indah, betah berlama-lama disini. Bermain pasir, air dan menikmati pemandangan yang luar biasa menakjubkan.

Pantai Pasir Putih.

Ditemani Kopi.

Selesai, walaupun belum puas. Mau tidak mau rombongan kami harus segera meninggalkan tempat nan eksotis ini. Dan Aceh pun sah menjadi destinasi wisata favorit saya, kembali menorehkan kesan mendalam, terutama pantai-pantai elok nan terhampar laksana permadani pemanja mata. Yang bersih, putih, alami dan bebas dari eksploitasi berlebihan serta sampah wisata yang menyedihkan.

C Ya!

Ada potensi besar di sektor ini bila dikelola dengan baik dan tentu saja sekiranya manajemen pariwisata-nya dapat mempertimbangkan seluruh aspek, bukan hanya ekonomi dan mengabaikan aspek konservasi serta kearifan lokal yang menurut saya sangat layak di ‘jual’. Sangkil dan Mangkus adalah kata kunci-nya. Semoga awet seperti ini.

Its a wrap.

Sampai jumpa di roadtrip berikutnya. I’ll be back!.

Advertisements

Pertemuan Yang Mengingatkan

Tuesday, June 12, 2018

When life knocks you down hard.
Get up and just keep goin’.

Puluhan tahun tak bersua. Alhamdulillah saya kembali dipertemukan dengan orang-orang hebat. Teman masa kecil yang banyak mengajarkan. Tak henti hingga sekarang.

Kalau dari kacamata saya yang hidupnya cenderung ‘mulus’, hanya bermodalkan daya tahan banting dan perjuangan seadanya, lalu sampai di ‘titik nyaman’ dan menikmatinya hingga kini. Maka mereka-mereka ini berada di tingkatan yang jauh melebihi kisah saya. Besarnya undakan yang saya hadapi ibarat kerikil kecil dibanding gunung tandus mereka-mereka yang ditempa kerasnya hidup, diterpa tanjakan dan turunan yang mengguncang hingga ke organ dalam.

Dan bertahan.

Flat belly yang cenderung menggelembung dan otot saya terbentuk dari olahraga rekreasional membakar kalori yang diselingi tawa renyah kebahagiaan dan koleksi medali serta sports apparel yang mungkin bagi mereka tidak terbetik setitikpun. Takkan ditemui dalam katalog kebutuhan perbendaan mereka. Ditemani kopi ala cafe yang selalu bernuansa latte dan hidangan yang menggugah selera. Menyenangkan.

Semburat urat dan six pack-nya mereka didapat berkat kerja keras dan dedikasi bertahun-tahun berlatih dengan peralatan pertukangan yang akan melecetkan tangan bagi pemula. Keringat dan darah adalah lazim di dunia mereka, bahkan kehilangan anggota tubuh atau nyawa. Hidangan mereka tak lebih dari penutup rasa lapar. Kopi mereka tak jarang adalah substansi tiruan yang ditubrukkan dengan gula dan air. Tak jarang dengan porsi perisa yang menggila. Dikabuti dengan asap rokok yang menyesakkan dada. Menggetarkan.

Lihatlah senyum sumringah kami. Rasakan perjalanannya. Resapi perjuangannya. Nikmati hikayatnya.

Kehidupan kembali mengantarkan kami di ruangan yang sama. Bercengkrama layaknya kenangan yang telah berlalu begitu lama.

Terima kasih atas pengajarannya, para penyintas.

Terima kasih telah mengingatkan saya akan banyak hal yang selama ini bisa jadi saya abai.

Take it for granted.

Lost ’em and you’ll regret it.

Terima kasih atas rasa syukur yang mengguntur.

Semoga tidak segera luntur.

Akan nikmatnya hidup yang selalu terhibur.

Transportasi Online

Wednesday, September 27, 2017

DSC02767

Jaman sekarang, di era Internet nan super megah ini, Kawan, engkau bisa jualan apa saja, tak perlu lihat demand baru kasih supply. Itu teori jaman dulu, usang. Sekarang adalah masanya beternak demand berbungkus promo, diskon, potongan, you name it-lah supaya bisa kasih supply yang profitable dan sustainable. Dengan gimmick yang ciamik, celah kecil dapat di eksploitasi sedemikian rupa hingga menjadi lubang. Lubang dapat didandani menjadi jurang. Di dasar jurang, dengan placement yang tepat dapat diletakkan mesin uang, yang akan memancing orang-orang yang merasa punya peluang dan kemampuan untuk terjun, atau hanya sekedar lewat dan membayar retribusi atas partisipasinya.

Kawan, kalau engkau bertanya-tanya tentang kalimat pembuka-ku yang terdengar gegap gempita itu, mari dengar uraian selanjutnya.

Belakangan di kota kami (negara juga) sedang hangat-hangatnya orang-orang membahas perihal transportasi online yang jadi berkah bagi konsumennya, jadi pahlawan penghasilan bagi pengendaranya yang rata-rata sebelumnya adalah pengangguran terselubung atau terang-terangan, yang sedang berjuang mendapat penghasilan, yang jumlahnya tidak sedikit. Namun di sisi lain menjelma jadi makhluk paradoks yang membingungkan bagi negaranya, maksud saya negara macam tempat saya bermukim ini, yang selalu kesulitan (baca: ketinggalan) mengatur sesuatu yang berbau teknologi. Cuma bisa pakek (baca: mengeksploitasi).

Bikin, kembangkan atau atur: masih belajar.

Setelah gembar-gembor masalah gugat-menggugat di pengadilan terkait pengaturan transportasi online ini. Pikiran sederhana saya dengan lugunya memunculkan pendapat sepihak bin parsial bahwa sepertinya yang mesti diatur secara saksama segera adalah penentuan tarifnya agar sama-sama ekonomis, baik dari sisi pengguna maupun pengendara. Berhubung fenomena ini sudah berjalan hampir di mana-mana, merambat dan merambah hingga ke daerah. Kalau tidak segera diatur, bisa masif akibatnya. Idola baru bisa menjelma menjadi musuh yang menyaru, bisa bikin rusuh. Bibit-bibit konflik sudah mulai terasa, baik internal maupun eksternal, lokal maupun internasional. Gelagat yang semakin jelas terlihat. Hal ini mesti diantisipasi lebih dini. Baru nanti pelan-pelan dibenahi secara holistik supaya jelas dan tentram duduk perkaranya, teknis dan non-teknis.

Jadi, singkat cerita, walaupun hanya satu orderan, wajarnya sih tetap ada nilai tambah bagi jasa si pengendara sehingga ia tidak harus kerja kelewat keras dan terlalu berletih-letih menghabiskan jam kerja atau menggila mengejar target trip dulu baru terasa dampak positif finansial dari kegiatannya jadi pengendara transportasi online. Supaya terpenuhi aspek penghasilan tambahan-nya. Atau mungkin dibuatkan skema tertentu agar perhitungan penghasilan bagi yang full time dibedakan dengan yang part-time?.

Sudah sering saya dengar keluhan ‘gak nutup’ atau ‘kalah di minyak’ kalau hanya satu atau dua orderan yang diambil. Padahal tak jarang terbaca, “Anda yang jadi bosnya” atau “Atur penghasilan sendiri” malah ada spanduk besar di salah satu persimpangan sibuk di kota ini yang menggemakan kata-kata, “Dapatkan penghasilan hingga 12 juta rupiah per bulan, berkendaralah bersama kami”. Menjanjikan dan manis sekali terbaca, terutama bagi orang yang benar-benar butuh penghasilan (tambahan).

Bisa jadi ini juga alasan beberapa pengendara transportasi online berlarut malam atau berdini hari ria demi mengejar target trip atau bonus atau insentif, atau entah apalah kemasan yang dikenakan kepadanya, umpan yang menggiring mereka sekaligus memberi motivasi untuk bekerja lebih lama, lebih keras, lebih sering, lebih cepat. Beberapa mengantongi resiko cedera atau bahkan meregang nyawa ketika memutuskan menerima orderan di jam-jam ataupun lokasi rawan. Untuk resiko yang ditempuh ini juga harusnya dipertimbangkan donk.

Dapat dimaklumi kalau konsumen yang kelewat dimanja diawal ini bisa jadi adalah strategi perusahaan untuk menciptakan dan memperbesar ceruk pasar. But I smell something ‘fishy’. Praktek korporasi yang sudah tak asing lagi, feeling saya sih ketika nanti transportasi online sudah mendarah daging, menjadi biasa, habit, bahkan kebutuhan bagi beberapa pihak. Baru mereka akan menunjukkan i’tikad yang sesungguhnya: making profit, jadi mesin duit.

Ketika masa itu tiba, konsumennya juga akan sudah terlibat terlalu dalam untuk bisa kembali ke model konvensional atau bisa jadi sudah tidak punya (baca: tidak mampu/mau mencari) alternatif pilihan lagi, kecuali menggunakan jasa mereka, berapapun tarif yang dipasangnya, lantaran bisnis ini sudah berhasil mengalihkan pola dasar konsumsi para penggunanya dari ingin, jadi seolah-olah ‘butuh’. Semula complementary sudah terasa seperti compulsory. Proses transisinya tidak sebentar, bertahun-tahun, melibatkan struktur permodalan yang kokoh dan persistensi luar biasa dalam mengelola pasarnya. Model yang manjur diterapkan oleh Amazon.com ini memang terbukti ampuh dan sepertinya jadi metode preferensi making money by spending some first yang banyak dianut raksasa-raksasa internet yang menguasai teknologi dan mencium bau uang di tangan orang-orang yang sedang demam gawai ini.

Kita sebagai konsumen juga hanya bisa menunggu, melewatkan waktu sembari mengeksploitasi umpan-umpan (baca: promo dan kawan-kawannya) yang mereka luncurkan hingga nanti masanya mereka mulai mengatur kita, menampakkan wujud aslinya, menuai apa yang telah mereka tabur. Pada akhirnya, mereka adalah entrepreneur, versi keren dari pengusaha. Saya kira kita semua paham dan maklum apa yang dilakukan oleh pengusaha, terutama dalam hal menghasilkan laba. Walaupun mulanya mereka terlihat seperti pihak yang berjasa secara kreatif memanfaatkan teknologi sebagai solusi bagi masalah transportasi di negeri ini.

Atau kita memilih untuk menyiapkan rencana cadangan?

Menunggu intervensi pemerintah melindungi warganya semisal yang dilakukan Otoritas Transportasi Kota London (idealnya)?.

Apapun pilihannya, bersiaplah mulai dari sekarang.

Disclaimer

Tulisan berikut adalah dokumentasi pengalaman salah satu bentuk pelayanan publik yang di negara ini sudah jauh luar biasa membaik dibandingkan jaman pra-reformasi ataupun era sebelum ramainya pemberitaan tentang sepak terjang tim saber pungli. Namun, mengiyakan vonis  teman saya yang mengatakan bahwa saya adalah berdarah ‘critical thinking‘, bisa jadi yang terbaca adalah betapa belum baiknya pelayanan publik di negara ini. Sekali lagi harus saya tegaskan bahwa tulisan ini hanya bentuk dokumentasi dengan bumbu persepsi yang saya bangun sendiri. Semoga beberapa (puluh) tahun ke depan bentuk dan kualitas pelayanan publik kita sudah jauh lebih baik dari sekarang, sehingga orang dengan pola pikir ‘susahmujidangaksukadipuji’ seperti saya sudah kesulitan untuk memandangnya dengan sudut pandang yang biasa.

Selamat membaca.

Kisah dimulai ketika saya dengan semangat membara datang ke TKP pukul 08.00 WIB dan langsung dihadapkan dengan kenyataan bahwa loket baru akan buka pukul 08:30 WIB. Informasi ini juga dengan ramah disampaikan oleh petugas berseragam sembari mengepulkan asap rokoknya ke segala arah. Okeh. Saya tunggu setengah jam.

Antri di gedung cek fisik untuk (setengah berebut) mengambil formulir (gesek nomor rangka dan mesin kendaraan). Berhubung secara resmi pelayanan belum dibuka, maka antrian pun terjadi dengan metode seleksi alam. Siapa yang paling agresif dan bermuka semi bengis, maka dialah yang akan berada paling depan dan lebih dulu dilayani.

Alhamdulillah saya selamat dari fenomena ‘survival of the fittest‘ ini untuk kemudian mengalami cek fisik kendaraan saya. Berikutnya kembali ke Loket 2 untuk menyerahkan berkas-berkasnya lalu dihalau untuk melakukan fotokopi berkas-berkasnya. Apa yang harus difotokopi dan berapa banyak? hanya Tuhan dan tukang fotokopi serta petugasnya-lah yang tahu. Misteri. Nasib baik saya datang awal. Walaupun untuk ukuran orang yang datang kepagian, ramainya populasi pemilik kendaraan di kota ini terasa betul. Ndak percaya? Noh tengok.

Fotokopi berlabel misteri nan murah ini (hanya Rp. 2.000,00+Map Merah seharga Rp. 3.000,00) terlihat dari mahalnya senyum (boro-boro senyum, sukur-sukur gak dibentak) petugas fotokopinya. Sedikit tips di tempat ini, usahakan jangan terlalu banyak bertanya. Beliau kelihatannya kurang suka. Kalau dipanggil datang saja. Kalau ditagih, bayar saja. Oh iya, kalau anda kelihatan celingak-celinguk agak kebingungan, biasanya ada oknum yang kurang jelas identitasnya akan menghampiri, menawarkan jasa seolah-olah bagian dari pelayanan resmi, namun mereka tidak berseragam. Lumayan ramah kalau yang ini, serahkan formulir dan seluruh berkas, aman. Dituliskan, disusun, distapler, diinformasikan tahapan berikutnya. Cuma seharga ‘upah nulis + uang minum’ seikhlasnya. Kalau yang ini tak perlu ditanya legalitas keberadaan dan kegiatannya, apalagi harganya. Dijamin mesem-mesem doank dia-nyah.

Lanjut ke gedung utama, barter badge dengan kartu identitas (biasanya SIM atau KTP untuk nanti bisa diambil kembali kalau urusan sudah selesai) di pintu masuk utama yang ada gerbang mirip di bandara, tapi entah berfungsi entah tidak. Di sebelah kiri ada 2 orang petugas yang kalau diajak ngomong entah kenapa gak mau tatap muka. Nah nanti dikasih formulir sama petugas yang paling kiri, lalu lanjut ke petugas sebelah kanannya. Didalam gedung utama ini ada petugas yang khusus membantu masyarakat mengisi formulir, lumayan ramah dan gratis kalau yang ini.

Kembali dihalau untuk keluar dari gedung utama, jalan lagi ke gedung cek fisik lantai 2, cari Loket Penomoran untuk (sepertinya) hanya minta di-tera-kan stempel. Jalan lagi ke gedung utama di Loket 1 – Ganti ST*K 5 Tahun (Pendaftaran dan Penetapan). Menunggu sebentar lalu dipanggil.

Lanjut ke Loket 2 – (Pembayaran dan Penyerahan). Waktu menunjukkan pukul 09.06 WIB ketika selesai dari loket ini. Ajaibnya, Si Mbak dengan inisial ‘RI’ ini, yang adalah teller bank plat merah milik daerah ituh ngitung uang dua juta dalam pecahan 50 ribu-an aja pake mesin hitung uang! Dengan gesture yang sepertinya gak kepengen cepat. Bujubuneng, kan cuma 40 lembar? Eh, iya kan?.

Di beberapa tiang tercantum pengumuman tentang standar waktu pelayanan Perpanjangan 5 Tahun / Ganti Plat = 50 Menit (Katanya sih sesuai dengan Standart Waktu Penerbitan STNK berdasarkan ISO 9001-2008 (dengan syarat : Persyaratan Lengkap)). Mohon maaf buka-tutup kurungnya bertumpuk, maklum yang nulis punya background bahasa pemrograman (hal ini wajar dalam dunia ‘coding‘). Di tulisan berikutnya saya akan coba gunakan bentuk flowchart agar lebih sederhana dan mudah dipahami.

Atmosfir di gedung utama lumayan nyaman ketika jumlah pengunjung belum terlalu membludak. Pendingin ruangan jauh dari dingin, tapi juga tidak dekat dengan panas. Bonus yang menemani sewaktu  menunggu adalah alunan suara Bon Jovi dengan Bed of roses-nya diikuti dengan track dari tembang-tembang evergreen bin everlasting dari koleksi tahun 60’s, 70’s dan 80’s. Not bad. Lumayan buat nostalgia mengenang masa-masa orde baru. Hahaha..
And the long wait.

Pukul 09:45 selesai. Dipanggil oleh petugas dengan inisial P yang ramah dan menggunakan pengeras suara.

Daaa..

Beberapa fitur penghibur hati yang sempat tertangkap hasil observasi sendiri di tempat pelayanan publik ini:

  1. Ruang tunggu lansia/sakit/hamil/ibu menyusui, tapi kok ada bapak-bapak muda didalamnya? Entahlah;
  2. Free wifi yang dicariin gak ketemu-ketemu. Sekali nemu sinyalnya poor dan terproteksi password. Yo weslah;
  3. Koran juga ada, daripada nonton tipi yang banyak semut dan gak ada suaranya ituh;
  4. Loket Informasi (Tempat pelayanan keluhan masyarakat);
  5. Larangan merokok dimana-mana, sebagai akibatnya satu langkah dari pintu masuk/keluar gak sulit nyari petugas yang sedang nikmat ngerokok. Dan gak jarang di dalam ruangan tercium semilir asap rokoknya;
  6. Toilet? Ya gitu deh. Alhamdulillah ada. Aer dari keran juga ngucur. Aroma? Jangan ditanya. Suhu udara? Ada outdoor unit pendingin ruangan disitu. Silahkan kalkulasikan sendiri suhu ruangannya. Hahaha..
  7. Ada tulisan : Segala bentuk pengaduan/keluhan SMS ke : 081273542001.

Saya harus sampaikan apresiasi sebesar-besarnya atas perubahan pelayanan yang drastis ini. Saya sempat juga mengalami masa pelayanan yang semuanya gelap, tidak jelas waktu, biaya dan prosedur/mekanismenya. Yang saya jalani sekarang ini boleh dikata adalah terobosan yang luar biasa. Paling tidak saya bisa melenggang dengan sabar mengikuti seluruh rangkaian alur dan prosedurnya serta menyelesaikan sendiri urusan saya. Tanpa harus terpaksa atau dikondisikan untuk meminta bantuan pihak ketiga yang 99,9% tidak gratis alias berbayar lebih dari tarif resmi.

Oh iya. Kalau mau datang ke tempat ini, berpakaianlah yang pantas (menurut budaya ke-timur-an). Anda yang bercelana pendek dan/atau bersendal jepit boleh jadi tidak diperbolehkan masuk oleh petugas di depan pintu masuk utama yang juga berfungsi sebagai pintu keluar di gedung utama.

Sekian saja.

Bravo pelayanan publik di Indonesia.

Perbaiki terus, tingkatkan terus, layani terus.

Wassalam.

The Story of Macheli.

Friday, May 19, 2017

Macheli.

Entah apapun artinya, adalah kata hasil karangan anak perempuan saya yang belum genap 4 tahun umurnya, sebagai nama kucing berkelir tiga warna yang pernah diselamatkan dari lantai 3 rumah tetangga di masa gadisnya.

Sejak itu ia jadi penunggu tetap teras depan rumah dan sering mendapat asupan sisa makanan atau makanan yang sengaja disisakan. Sempat dibuatkan kandang dari kardus air mineral, namun ia lebih memilih tumpukan sepatu yang lebih hangat sebagai tempat merebahkan badannya, atau jok sepeda motor untuk menghabiskan malam-malam dinginnya.

Hingga sekarang. Macheli memiliki dua anak yang dilahirkan di dalam kardus bekas kipas angin, Blang-II dan Blang-III.

Pagi tadi, ketika kami berangkat ke kantor istri. Di tengah perjalanan, sekitar 5 kilometer dari rumah, di kabin mobil terdengar suara anak kucing. Melalui kaca spion terlihat seekor anak kucing yang mirip sekali dengan Blang-II sedang kebingungan di tengah jalan, di belakang mobil, di tengah lalu lintas. Saya pun menepi. Tepat di depan Indomaret di sebelah Hotel Candi di daerah Darussalam – Medan – Indonesia. Saya yakin betul bahwa itu adalah Blang-II. Blang-II pun saya bawa masuk ke dalam mobil dan kami melanjutkan perjalanan mengantar istri ke kantornya, hingga pulang lagi ke rumah. Total waktu tempuh perjalanan pulang-pergi sekitar 1 jam 15 menit.

Tak habis pikir dengan aksi ekstrim si Blang-II, tidak jauh dari tempat saya berhenti tadi, di depan Masjid Al-Jihad saya sempat memeriksa kap mobil dan seputaran kolong untuk memastikan bahwa Blang-III tidak ikut menjadi penumpang gelap kami pagi itu.

Tiba di rumah. Takjub. Membayangkan petualangan dan situasi seperti apa yang dihadapi Blang-II, anak kucing yang bahkan jalannya belum kokoh tegak hingga dapat bertahan di kolong mobil dalam perjalanan sejauh itu, 5 KM tanpa terjatuh karena benturan atau panas, dan masih selamat ketika akhirnya terdampar di tengah lalu lintas pagi yang padat. Saya mengeluarkan Blang-II dari mobil dan Macheli segera menyambutnya.

Tapi Blang-III tidak terlihat. Kembali saya meyakinkan bahwa Blang-III tidak tersangkut di kolong mobil atau di kap.

Tidak ditemukan.

Beserta anak-anak yang antusias setelah mendengar kisah ‘Hitch-Hiking‘ Blang-II di mobil dalam perjalanan Bunda-nya barusan, kami kembali menyusuri rute yang dilewati ketika mengantar istri ke kantornya, mencari keberadaan Blang-III, memastikan semoga ia baik-baik saja.

Tidak ditemukan.

Bahkan sore hari, ketika menjemput istri pulang dari kantornya. Anak-anak kembali bersemangat untuk tetap kembali mencari. Perlahan kami menyusuri rute yang dilewati pagi tadi. Memastikan keberadaan Blang-III.

Tidak ditemukan.

Hingga pagi ini. Macheli masih terus mengeluarkan panggilan menyedihkan kepada Blang-III, anaknya.

Mencari. Mungkin masih belum paham apa yang terjadi. Blang-II juga mengeluarkan suara khas anak kucing yang sedang mencari. Mencari saudaranya. Lengking khas yang memilukan. Kehilangan.

Blang-III tidak ditemukan.

2 hari sebelum Ramadhan 1438 H, sesaat sebelum saya tiba di rumah, handphone saya berdering-dering, saya memutuskan untuk tidak menjawab dan berencana akan menelepon ulang, siapapun yang sedang berusaha menghubungi saya ketika itu. Tiba di rumah, kedua anak saya sedang menangis sejadi-jadinya. Menangisi jasad mengenaskan Blang II yang terbujur tragis di depan rumah, kemungkinan besar terlindas kendaraan yang melintas. Anak saya yang paling besar, masih memegang handphone di tangannya sembari terisak menghambur memeluk saya dan terbata-bata mengatakan bahwa Blang-II sudah mati.

Garis keturunan Macheli pun berhenti. Kembali sendiri lagi. Di teras depan rumah kami.

 

Untuk komoditi (Commodity: a marketable item produced to satisfy wants or needs that comprise goods and services) yang diproduksi tahun 2011 dan saya beli di tahun 2012 seharga Rp. 162.000.000,00 dengan jangka waktu membayar cicilan selama 5 tahun (60 bulan) pada salah satu perusahaan pembiayaan terbaik, terpercaya dan terbesar di Indonesia, total uang yang saya belanjakan secara fantastis adalah Rp. 242.930.000,00!

Awalnya saya tergelitik untuk menuliskan financial nightmare saya ini dengan harapan akan menjadi bahan pelajaran dan pertimbangan bagi siapapun yang membaca tulisan ini agar benar-benar berhati-hati dan selektif mengambil langkah finansial yang memiliki potensi untuk menggerogoti penghasilan selama bertahun-tahun ketika memutuskan untuk mengakuisisi suatu barang yang bukan modal dan memiliki tingkat kebutuhan yang tidak signifikan. Walaupun dalam hal ini beberapa komoditi yang sifatnya belanja modal dan memiliki tingkat kebutuhan vital seperti rumah sebagai tempat tinggal atau kendaraan sebagai sarana transportasi mungkin dapat diberikan dispensasi mengingat menabung dengan tingkat disiplin luar biasa untuk mengejar harga yang terus digenjot inflasi bisa jadi bukan alternatif yang menjadi pilihan utama, selain kebutuhan yang bercampur baur dengan keinginan untuk segera merasakan manfaat komoditi tersebut demi memperlancar operasional dan aktivitas serta meningkatkan kualitas hidup, juga tidak mudah mengumpulkan uang sekian banyak terutama bagi para pegawai/karyawan yang pola penghasilannya berupa fix income yang memiliki potensi membayar angsuran tepat waktu, apalagi ketika skemanya adalah potong gaji.

Kembali ke hitung-hitungan angka, dari total uang yang saya keluarkan (dengan didahului oleh Downpayment dan diikuti oleh berpuluh kali cicilan tentunya) terdapat selisih bin pembengkakan pembayaran dari nilai komoditi sebesar Rp. 80.930.000,00 selama lima tahun, yang berarti per-bulannya saya membayar kelebihan sebesar Rp. 1.348.833,00 selama 60 kali! Ya, walaupun dalam komponen tersebut terdapat bunga, asuransi dan biaya administrasi, tetap saja untuk ukuran kantong saya nominal sekian itu masuk kategori dana durhaka luar biasa mahal untuk dibayarkan secara rutin sebagai balas jasa atas benefit yang saya peroleh, yaitu keleluasaan untuk memanfaatkan komoditi yang saya beli di awal transaksi, sebelum pembayaran lunas.

Kalau berandai-andai dan menggunakan skema menabung yang ideal untuk mendapatkan komoditi yang ternyata setelah saya cari tahu harga 5 tahun lalu dengan harga sekarang tidak jauh berbeda, maka saya hanya perlu menerapkan disiplin militer dalam menabung (tanpa Uang Muka) sebesar Rp. 2.700.000,00 selama 60 bulan (bandingkan dengan Downpayment sebesar Rp. 30.950.000,00 yang dibayarkan diawal dan cicilan sebesar Rp. 3.533.000,00 sebanyak 60 kali) dengan ketentuan bahwa selama masa menabung, saya belum bisa memanfaatkan komoditi tersebut dan hak milik akan saya dapatkan di akhir masa menabung karena pembelian akan dilakukan secara tunai-keras plus komoditi yang saya dapatkan adalah model terbaru, bukan keluaran lima tahun lalu.

Bagian yang menimbulkan rasa miris lagi, total kelebihan uang yang saya bayarkan sebagai ganti manfaat yang saya terima di awal terhadap komoditi yang saya beli dengan mencicil tersebut adalah angka yang tidak jauh berbeda dengan harga komoditi tersebut pada saat cicilannya lunas. Dengan demikian, angka Rp. 162.000.000,00 sebagai harga awal komoditi tersebut 5 tahun yang lalu dapat dikatakan telah tergerus habis oleh penurunan nilai produk, digantikan oleh total selisih kelebihan pembayaran yang dilakukan selama lima tahun. Kisahnya mungkin akan sedikit berbeda ketika yang dibeli adalah komoditi strategis yang memiliki nilai aset yang terus menanjak seperti lahan atau properti.

Lalu saya coba menelusuri, skema model apa yang diterapkan kepada saya ketika melakukan kontrak dengan perusahaan pembiayaan ini. Pada lembar penjelasan penting bagi konsumen/nasabah saya menemukan kata-kata Perjanjian Pembiayaan Bersama dengan Hak Milik Secara Fiducia yang berbau kredit. Lalu juga ada kata-kata Finance sebagai kode perusahaan pembiayaan yang dapat berlaku sebagai penerbit produk pembiayaan berupa leasing serta skema kepemilikan yang berbau Sewa-Beli dan angsuran yang mengindikasikan metode Beli-Cicil. Dari kesemua ciri-ciri ini saya sepertinya menemukan sistem hybrid yang mengkombinasikan banyak metode yang hampir keseluruhannya menguntungkan sang perusahaan dan memberikan saya motivasi untuk menuliskan pengalaman finansial yang hampir dapat dikatakan ‘sial’ ini.

Dari hasil baca sana-sini, saya menemukan karakteristik dari masing-masing metode:
Leasing: Ada opsi untuk membeli barang modal yang bukan berasal dari lessor (pemberi sewa), melainkan dari pihak ketiga atau lessee (penyewa) di akhir masa sewa atau meneruskan penyewaan (Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2009 tentang Lembaga Pembiayaan).
Sewa-Beli (bukan kegiatan lembaga pembiayaan): Hak milik atas barang secara otomatis baru beralih dari penjual kepada pembeli setelah jumlah harganya dibayar lunas oleh pembeli kepada penjual (Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 21/M-DAG/PER/10/2015 Tahun 2005 tentang Pencabutan Beberapa Perizinan dan Pendaftaran di Bidang Perdagangan, namun tidak diatur secara khusus dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata).
Beli-Cicil (Jual Beli dengan angsuran): Hak atas barang sudah beralih dari penjual kepada pembeli setelah transaksi terjadi walaupun harga belum seluruhnya dibayar.
Angsur: menyerahkan sedikit demi sedikit, tidak sekaligus.
Cicil: membayar dan sebagainya sedikit demi sedikit.

Berdasarkan beberapa definisi dan karakteristik diatas, saya menemukan beberapa kejanggalan (menurut pandangan saya). Jika ini adalah sewa-beli, lalu kenapa saya dikenakan uang muka? belum lagi kalau berbicara pelunasan, tidak ada kata ampun. Melibatkan diri dengan perusahaan pembiayaan model begini adalah kontrak mati, jika pelunasan ingin dilakukan di awal (sebelum jatuh tempo cicilan) maka total nominal yang harus dibayarkan adalah setara dengan total nilai keseluruhan cicilan hingga lunas. Tidak ada manfaat finansial melakukan pelunasan lebih awal karena yang dibayarkan adalah pokok plus bunga hingga lunas, bukan outstanding pinjaman dengan bunga berjalan ditambah pinalti seperti yang biasa diterapkan pada dunia perbankan. Gampangnya, yang dibayar adalah akumulasi seluruh angsuran hingga lunas sesuai dengan waktu jatuh tempo di kontrak. Dengan kata lain, lunas sekarang atau nanti, total yang dibayar sama!.

Jika gagal bayar cicilan ditengah jalan? maka seluruh jerih payah dan usaha yang dikerahkan untuk membayar angsuran dianggap sia-sia. Komoditi akan ‘ditarik’ dan baru akan dilepaskan kembali ketika cicilan plus denda sudah dibayarkan dan angsuran berjalan normal. Bukankah akan lebih ‘manusiawi’ lagi jika terjadi kemacetan pembayaran angsuran, komoditi yang dipertaruhkan dijual/diuangkan untuk melunasi sisa cicilan? bisa jadi ini dilakukan, namun kisah yang beredar lebih sering hanya berhenti pada penarikan/pengambilan paksa komoditi dan ‘hangus’nya cicilan plus uang muka yang sudah dibayarkan. Entahlah, hal ini perlu penelusuran lebih lanjut mengingat saya juga beberapa kali mendengar kabar pelelangan secara massal (sekaligus) komoditi yang ditarik oleh perusahaan pembiayaan.

Namun biasanya konsumen/nasabah akan putus hubungan dengan komoditi yang telah ditarik kembali oleh perusahaan pembiayaan hingga cicilan berjalan normal atau sebelum pelelangan dilakukan. Tak banyak beredar kabar tentang apa yang terjadi ketika pelelangan sudah dilakukan. Apakah nasabah/konsumen masih akan menerima manfaat atau pengembalian dana dari nilai penjualan komoditi yang sudah dicicilnya selama ini? walaupun terdengar hampir tidak mungkin terjadi berhubung keseluruhan hasil penjualan komoditi kemungkinan besar dapat dipastikan akan digunakan untuk menutupi besar cicilan plus bunga ditambah biaya asuransi dan administrasi hingga lunas dan sangat mungkin tidak akan bersisa. Meninggalkan kerugian finansial yang sebesar-besarnya kepada si nasabah/konsumen.

Kalau komoditi dicuri/hilang dalam masa cicilan? tenang, ada asuransi (paling tidak seharusnya begitu). Yang terjadi (pengalaman pribadi teman) adalah asuransi akan mengganti komoditi tersebut dengan perhitungan harga pasar berupa uang, yang biasanya akan kembali dituangkan menjadi Uang Muka, dan ritual membayar angsuran pun akan kembali berlangsung (lebih lama dari yang seharusnya and of course more profit for them!). Nah kalau hilang dan ditemukan? masih ada pihak ketiga (you know who I mean) yang harus ditembus secara hukum dan birokrasi. Tidak usah terlalu berharap pada bantuan dari Perusahaan Pembiayaan. Malah ada yang bilang mending hilang sekalian daripada mesti ngurus sana-sini dengan hasil yang gak jelas. Jelas sih, jelas ribetnya. Yang gak jelas adalah apakah komoditi akan berhasil dikembalikan secara utuh atau sudah jadi korban ‘kokangan’ sementara menunggu prosesnya berlangsung. Kisahnya akan sangat berbeda sekali jika komoditinya tidak diasuransikan tentunya. You’re on your own, buddy!

Lalu, uniknya lagi tentang skema bercirikan konsep sewa dengan kontrak tertulis ini adalah resiko kepemilikan yang ditanggung di awal (perawatan, kerusakan fisik, dan pajak), walaupun perusahaan pembiayaan mewajibkan adanya asuransi dalam kontrak pembiayaan. Tetap saja seolah-olah komoditi yang dicicil sudah menjadi tanggungjawab nasabah/konsumen sepenuhnya. Jika ini adalah sewa-beli dengan kontrak tertulis murni, maka kepemilikan komoditi yang disewa baru akan berpindah ke tangan penyewa ketika cicilan sudah lunas. Tapi kejadian di lapangan, kepemilikan barang sudah atas nama si penyewa (lessee) dari awal, hanya bukti kepemilikan yang dipegang oleh pemberi sewa (lessor) tentu saja dengan Jaminan Fiducia.

Apapun yang terjadi, perusahaan pembiayaan yang menjamur demi melayani hasrat memiliki komoditi bagi rakyat yang penghasilannya pas-pasan ini telah menjadi fenomena finansial yang secara semu menguntungkan konsumen/nasabahnya dengan kemudahan memiliki komoditi dan secara realistis berjangka waktu memindahkan jumlah uang yang signifikan (dari sudut pandang konsumen/nasabah) ke pos profit perusahaan pembiayaan. Seolah-olah barang/komoditi telah dimiliki sejak kontrak dilakukan. Beberapa pihak bahkan menyandarkan pemikirannya pada cicilan yang masih lebih untung dari sewa murni sehingga jika terjadi gagal bayar dan macet ditengah jalan, mereka akan melapangkan dada dan menganggap cicilan dan uang muka yang telah dibayarkan akan hangus sebagai sewa komoditi yang sedikit lebih mahal dari sewa murni. Jika sukses membayar angsuran hingga lunas, maka senyum besar akan merekah dan komoditi berhasil dimiliki tanpa menyadari betapa membengkaknya total biaya yang dikeluarkan.

Akhirnya, jika ingin memiliki suatu komoditi, jalan terbaik adalah dengan membeli secara tunai jika mampu (biasanya bisa lebih murah dan semoga memperoleh diskon hard-cash). Kalau belum mampu dan sifat komoditinya tidak memiliki aspek krusial yang menyebabkan harus dimiliki sekarang juga, bersabarlah dalam menabung. Tidak mudah menjadi konsumen yang kurang mendapat perlindungan dan informasi tentang apa yang sebenarnya terjadi. Bentengilah diri dengan disiplin, kemauan yang keras dan pengetahuan. Semoga kita semua segera terlepas dari jeratan hutang dan beban cicilan maupun angsuran.

Paragraf terakhir akan saya dedikasikan untuk asuransi. Jangan lupa asuransi, untuk komoditi vital yang memiliki peran sentral dalam kehidupan. Ya, saya paham bahwa premi asuransi masih belum dianggap terjangkau bagi beberapa pihak dan tidak mudah memang menyaksikan agen-agen asuransi menuai bonus megah dan jalan-jalan ke luar negeri lalu mem-posting kebahagiaan dan pencapaiannya di sosial media (apalagi mengingat berapa besar porsi premi yang mengalir ke kantong mereka) hanya karena mampu membujuk dan mengumpulkan nasabah yang masih harus menyetorkan uangnya sebagai premi selama bertahun-tahun, berpuluh tahun bahkan. Namun hal ini masih lebih baik daripada menanggung resiko sendiri yang belum tentu mampu ditanggung.

That’s just part of the game, if you don’t play along with it, you’ll lose anyway.

A Dream About Friends

Wednesday, December 21, 2016

I have been dreaming about my missing friends. Old friends. Very old friends. We were best friends. I have never met anyone that can connect to my thoughts the way we did. We can talk for hours, some were for countless sleepless nights. It was fun, all the time, each time, every time. Then out of the blue, they’re gone. Just like that. For years. Some forever. Some came back but feels like someone else. The first time we met, after years of no news, not a single word. Things were different, never the same anymore. It’s like they were not the same person. The fun vanished. The smile were artificial. It’s like they’ve been trained to do so. Not the smile I used to know. It’s the same smile you get from some random stranger salesperson trying to sell you things. Some were forever gone. I missed them. All. It was like we’ve known each other since we were kids, things were just aligned for us at that time.
And last night that dream happened again. I was picking up my son from his English course. Since we still have time, I asked him if he wanted to take a walk with me to the nearest mosque to have a prayer. My daughter was with us too. It used to be a short distance, but somehow the landscape just seemed to be shifted and we got lost. But we felt okay with it, my kids were having fun all the way and we kept on walking. Until my son suddenly found a boy, playing alone on the street. His name was Joey. Then they played together. It’s fine by me. They were looking okay. I had to chase my daughter, she was going to the sewer. It just might harm her. I stopped her and took her to a safe place to play with me until a door suddenly was opened. It was you! Out of nowhere. My long lost friend. But you didn’t look the same. You gained weight. And felt colder. All I got was a simple small smile. I didn’t expect that. I was ready to run into you and give you a big warm hug!. But I thought, yeah. We’re not kids anymore. We even got kids now. Joey was your son. Suddenly I understand things, I got this information out of thin air that your family was torn apart. I don’t know who put that data in my head. You seemed to be deeply wounded. And shut down. You closed yourself from the world. Even from your best friend. Probably hate everything and dislike everyone. Am I included, my friend? I’m sorry. Meanwhile I am so happy. I am at the top of my game. A gorgeous wife, a handsome son, a cute daughter, a so-called well-paid job and financially paying off my way to prosperity and happiness on installments. What can I do my friend? How can I help? Can’t we just have a very long chit-chat to help you ease your pain? I miss you, you know. I miss those time we had together when the world is just a simple fun playground for us. When things were always fun, no matter how painful they were. Wounds heal. Scars fade. Laughter was all we got. Together. It was fun.
Suddenly the earth shook. I was thrown away, alone to a small village. It felt like a very big leap. Very green and beautiful. Feels like something from the past. Traditional and peaceful. Everything else disappeared. We were sitting on a porch of your wooden traditional house. Exchanging nothing but a shy stare of our reflection from a fish pond in front of us. Your son was riding his bicycle. An old adult bicycle. Perhaps it’s his granddad’s. We were not talking. No one is speaking but I felt your misery. You were in pain. Something you wished to share with a friend. Well, I’m here buddy!. Tell me your stories. I’ll share you my tale. We’ll laugh about it together.