Transportasi Online

Wednesday, September 27, 2017

DSC02767

Jaman sekarang, di era Internet nan super megah ini, Kawan, engkau bisa jualan apa saja, tak perlu lihat demand baru kasih supply. Itu teori jaman dulu, usang. Sekarang adalah masanya beternak demand berbungkus promo, diskon, potongan, you name it-lah supaya bisa kasih supply yang profitable dan sustainable. Dengan gimmick yang ciamik, celah kecil dapat di eksploitasi sedemikian rupa hingga menjadi lubang. Lubang dapat didandani menjadi jurang. Di dasar jurang, dengan placement yang tepat dapat diletakkan mesin uang, yang akan memancing orang-orang yang merasa punya peluang dan kemampuan untuk terjun, atau hanya sekedar lewat dan membayar retribusi atas partisipasinya.

Kawan, kalau engkau bertanya-tanya tentang kalimat pembuka-ku yang terdengar gegap gempita itu, mari dengar uraian selanjutnya.

Belakangan di kota kami (negara juga) sedang hangat-hangatnya orang-orang membahas perihal transportasi online yang jadi berkah bagi konsumennya, jadi pahlawan penghasilan bagi pengendaranya yang rata-rata sebelumnya adalah pengangguran terselubung atau terang-terangan, yang sedang berjuang mendapat penghasilan, yang jumlahnya tidak sedikit. Namun di sisi lain menjelma jadi makhluk paradoks yang membingungkan bagi negaranya, maksud saya negara macam tempat saya bermukim ini, yang selalu kesulitan (baca: ketinggalan) mengatur sesuatu yang berbau teknologi. Cuma bisa pakek (baca: mengeksploitasi).

Bikin, kembangkan atau atur: masih belajar.

Setelah gembar-gembor masalah gugat-menggugat di pengadilan terkait pengaturan transportasi online ini. Pikiran sederhana saya dengan lugunya memunculkan pendapat sepihak bin parsial bahwa sepertinya yang mesti diatur secara saksama segera adalah penentuan tarifnya agar sama-sama ekonomis, baik dari sisi pengguna maupun pengendara. Berhubung fenomena ini sudah berjalan hampir di mana-mana, merambat dan merambah hingga ke daerah. Kalau tidak segera diatur, bisa masif akibatnya. Idola baru bisa menjelma menjadi musuh yang menyaru, bisa bikin rusuh. Bibit-bibit konflik sudah mulai terasa, baik internal maupun eksternal, lokal maupun internasional. Gelagat yang semakin jelas terlihat. Hal ini mesti diantisipasi lebih dini. Baru nanti pelan-pelan dibenahi secara holistik supaya jelas dan tentram duduk perkaranya, teknis dan non-teknis.

Jadi, singkat cerita, walaupun hanya satu orderan, wajarnya sih tetap ada nilai tambah bagi jasa si pengendara sehingga ia tidak harus kerja kelewat keras dan terlalu berletih-letih menghabiskan jam kerja atau menggila mengejar target trip dulu baru terasa dampak positif finansial dari kegiatannya jadi pengendara transportasi online. Supaya terpenuhi aspek penghasilan tambahan-nya. Atau mungkin dibuatkan skema tertentu agar perhitungan penghasilan bagi yang full time dibedakan dengan yang part-time?.

Sudah sering saya dengar keluhan ‘gak nutup’ atau ‘kalah di minyak’ kalau hanya satu atau dua orderan yang diambil. Padahal tak jarang terbaca, “Anda yang jadi bosnya” atau “Atur penghasilan sendiri” malah ada spanduk besar di salah satu persimpangan sibuk di kota ini yang menggemakan kata-kata, “Dapatkan penghasilan hingga 12 juta rupiah per bulan, berkendaralah bersama kami”. Menjanjikan dan manis sekali terbaca, terutama bagi orang yang benar-benar butuh penghasilan (tambahan).

Bisa jadi ini juga alasan beberapa pengendara transportasi online berlarut malam atau berdini hari ria demi mengejar target trip atau bonus atau insentif, atau entah apalah kemasan yang dikenakan kepadanya, umpan yang menggiring mereka sekaligus memberi motivasi untuk bekerja lebih lama, lebih keras, lebih sering, lebih cepat. Beberapa mengantongi resiko cedera atau bahkan meregang nyawa ketika memutuskan menerima orderan di jam-jam ataupun lokasi rawan. Untuk resiko yang ditempuh ini juga harusnya dipertimbangkan donk.

Dapat dimaklumi kalau konsumen yang kelewat dimanja diawal ini bisa jadi adalah strategi perusahaan untuk menciptakan dan memperbesar ceruk pasar. But I smell something ‘fishy’. Praktek korporasi yang sudah tak asing lagi, feeling saya sih ketika nanti transportasi online sudah mendarah daging, menjadi biasa, habit, bahkan kebutuhan bagi beberapa pihak. Baru mereka akan menunjukkan i’tikad yang sesungguhnya: making profit, jadi mesin duit.

Ketika masa itu tiba, konsumennya juga akan sudah terlibat terlalu dalam untuk bisa kembali ke model konvensional atau bisa jadi sudah tidak punya (baca: tidak mampu/mau mencari) alternatif pilihan lagi, kecuali menggunakan jasa mereka, berapapun tarif yang dipasangnya, lantaran bisnis ini sudah berhasil mengalihkan pola dasar konsumsi para penggunanya dari ingin, jadi seolah-olah ‘butuh’. Semula complementary sudah terasa seperti compulsory. Proses transisinya tidak sebentar, bertahun-tahun, melibatkan struktur permodalan yang kokoh dan persistensi luar biasa dalam mengelola pasarnya. Model yang manjur diterapkan oleh Amazon.com ini memang terbukti ampuh dan sepertinya jadi metode preferensi making money by spending some first yang banyak dianut raksasa-raksasa internet yang menguasai teknologi dan mencium bau uang di tangan orang-orang yang sedang demam gawai ini.

Kita sebagai konsumen juga hanya bisa menunggu, melewatkan waktu sembari mengeksploitasi umpan-umpan (baca: promo dan kawan-kawannya) yang mereka luncurkan hingga nanti masanya mereka mulai mengatur kita, menampakkan wujud aslinya, menuai apa yang telah mereka tabur. Pada akhirnya, mereka adalah entrepreneur, versi keren dari pengusaha. Saya kira kita semua paham dan maklum apa yang dilakukan oleh pengusaha, terutama dalam hal menghasilkan laba. Walaupun mulanya mereka terlihat seperti pihak yang berjasa secara kreatif memanfaatkan teknologi sebagai solusi bagi masalah transportasi di negeri ini.

Atau kita memilih untuk menyiapkan rencana cadangan?

Menunggu intervensi pemerintah melindungi warganya semisal yang dilakukan Otoritas Transportasi Kota London (idealnya)?.

Apapun pilihannya, bersiaplah mulai dari sekarang.

Advertisements

Disclaimer

Tulisan berikut adalah dokumentasi pengalaman salah satu bentuk pelayanan publik yang di negara ini sudah jauh luar biasa membaik dibandingkan jaman pra-reformasi ataupun era sebelum ramainya pemberitaan tentang sepak terjang tim saber pungli. Namun, mengiyakan vonis  teman saya yang mengatakan bahwa saya adalah berdarah ‘critical thinking‘, bisa jadi yang terbaca adalah betapa belum baiknya pelayanan publik di negara ini. Sekali lagi harus saya tegaskan bahwa tulisan ini hanya bentuk dokumentasi dengan bumbu persepsi yang saya bangun sendiri. Semoga beberapa (puluh) tahun ke depan bentuk dan kualitas pelayanan publik kita sudah jauh lebih baik dari sekarang, sehingga orang dengan pola pikir ‘susahmujidangaksukadipuji’ seperti saya sudah kesulitan untuk memandangnya dengan sudut pandang yang biasa.

Selamat membaca.

Kisah dimulai ketika saya dengan semangat membara datang ke TKP pukul 08.00 WIB dan langsung dihadapkan dengan kenyataan bahwa loket baru akan buka pukul 08:30 WIB. Informasi ini juga dengan ramah disampaikan oleh petugas berseragam sembari mengepulkan asap rokoknya ke segala arah. Okeh. Saya tunggu setengah jam.

Antri di gedung cek fisik untuk (setengah berebut) mengambil formulir (gesek nomor rangka dan mesin kendaraan). Berhubung secara resmi pelayanan belum dibuka, maka antrian pun terjadi dengan metode seleksi alam. Siapa yang paling agresif dan bermuka semi bengis, maka dialah yang akan berada paling depan dan lebih dulu dilayani.

Alhamdulillah saya selamat dari fenomena ‘survival of the fittest‘ ini untuk kemudian mengalami cek fisik kendaraan saya. Berikutnya kembali ke Loket 2 untuk menyerahkan berkas-berkasnya lalu dihalau untuk melakukan fotokopi berkas-berkasnya. Apa yang harus difotokopi dan berapa banyak? hanya Tuhan dan tukang fotokopi serta petugasnya-lah yang tahu. Misteri. Nasib baik saya datang awal. Walaupun untuk ukuran orang yang datang kepagian, ramainya populasi pemilik kendaraan di kota ini terasa betul. Ndak percaya? Noh tengok.

Fotokopi berlabel misteri nan murah ini (hanya Rp. 2.000,00+Map Merah seharga Rp. 3.000,00) terlihat dari mahalnya senyum (boro-boro senyum, sukur-sukur gak dibentak) petugas fotokopinya. Sedikit tips di tempat ini, usahakan jangan terlalu banyak bertanya. Beliau kelihatannya kurang suka. Kalau dipanggil datang saja. Kalau ditagih, bayar saja. Oh iya, kalau anda kelihatan celingak-celinguk agak kebingungan, biasanya ada oknum yang kurang jelas identitasnya akan menghampiri, menawarkan jasa seolah-olah bagian dari pelayanan resmi, namun mereka tidak berseragam. Lumayan ramah kalau yang ini, serahkan formulir dan seluruh berkas, aman. Dituliskan, disusun, distapler, diinformasikan tahapan berikutnya. Cuma seharga ‘upah nulis + uang minum’ seikhlasnya. Kalau yang ini tak perlu ditanya legalitas keberadaan dan kegiatannya, apalagi harganya. Dijamin mesem-mesem doank dia-nyah.

Lanjut ke gedung utama, barter badge dengan kartu identitas (biasanya SIM atau KTP untuk nanti bisa diambil kembali kalau urusan sudah selesai) di pintu masuk utama yang ada gerbang mirip di bandara, tapi entah berfungsi entah tidak. Di sebelah kiri ada 2 orang petugas yang kalau diajak ngomong entah kenapa gak mau tatap muka. Nah nanti dikasih formulir sama petugas yang paling kiri, lalu lanjut ke petugas sebelah kanannya. Didalam gedung utama ini ada petugas yang khusus membantu masyarakat mengisi formulir, lumayan ramah dan gratis kalau yang ini.

Kembali dihalau untuk keluar dari gedung utama, jalan lagi ke gedung cek fisik lantai 2, cari Loket Penomoran untuk (sepertinya) hanya minta di-tera-kan stempel. Jalan lagi ke gedung utama di Loket 1 – Ganti ST*K 5 Tahun (Pendaftaran dan Penetapan). Menunggu sebentar lalu dipanggil.

Lanjut ke Loket 2 – (Pembayaran dan Penyerahan). Waktu menunjukkan pukul 09.06 WIB ketika selesai dari loket ini. Ajaibnya, Si Mbak dengan inisial ‘RI’ ini, yang adalah teller bank plat merah milik daerah ituh ngitung uang dua juta dalam pecahan 50 ribu-an aja pake mesin hitung uang! Dengan gesture yang sepertinya gak kepengen cepat. Bujubuneng, kan cuma 40 lembar? Eh, iya kan?.

Di beberapa tiang tercantum pengumuman tentang standar waktu pelayanan Perpanjangan 5 Tahun / Ganti Plat = 50 Menit (Katanya sih sesuai dengan Standart Waktu Penerbitan STNK berdasarkan ISO 9001-2008 (dengan syarat : Persyaratan Lengkap)). Mohon maaf buka-tutup kurungnya bertumpuk, maklum yang nulis punya background bahasa pemrograman (hal ini wajar dalam dunia ‘coding‘). Di tulisan berikutnya saya akan coba gunakan bentuk flowchart agar lebih sederhana dan mudah dipahami.

Atmosfir di gedung utama lumayan nyaman ketika jumlah pengunjung belum terlalu membludak. Pendingin ruangan jauh dari dingin, tapi juga tidak dekat dengan panas. Bonus yang menemani sewaktu  menunggu adalah alunan suara Bon Jovi dengan Bed of roses-nya diikuti dengan track dari tembang-tembang evergreen bin everlasting dari koleksi tahun 60’s, 70’s dan 80’s. Not bad. Lumayan buat nostalgia mengenang masa-masa orde baru. Hahaha..
And the long wait.

Pukul 09:45 selesai. Dipanggil oleh petugas dengan inisial P yang ramah dan menggunakan pengeras suara.

Daaa..

Beberapa fitur penghibur hati yang sempat tertangkap hasil observasi sendiri di tempat pelayanan publik ini:

  1. Ruang tunggu lansia/sakit/hamil/ibu menyusui, tapi kok ada bapak-bapak muda didalamnya? Entahlah;
  2. Free wifi yang dicariin gak ketemu-ketemu. Sekali nemu sinyalnya poor dan terproteksi password. Yo weslah;
  3. Koran juga ada, daripada nonton tipi yang banyak semut dan gak ada suaranya ituh;
  4. Loket Informasi (Tempat pelayanan keluhan masyarakat);
  5. Larangan merokok dimana-mana, sebagai akibatnya satu langkah dari pintu masuk/keluar gak sulit nyari petugas yang sedang nikmat ngerokok. Dan gak jarang di dalam ruangan tercium semilir asap rokoknya;
  6. Toilet? Ya gitu deh. Alhamdulillah ada. Aer dari keran juga ngucur. Aroma? Jangan ditanya. Suhu udara? Ada outdoor unit pendingin ruangan disitu. Silahkan kalkulasikan sendiri suhu ruangannya. Hahaha..
  7. Ada tulisan : Segala bentuk pengaduan/keluhan SMS ke : 081273542001.

Saya harus sampaikan apresiasi sebesar-besarnya atas perubahan pelayanan yang drastis ini. Saya sempat juga mengalami masa pelayanan yang semuanya gelap, tidak jelas waktu, biaya dan prosedur/mekanismenya. Yang saya jalani sekarang ini boleh dikata adalah terobosan yang luar biasa. Paling tidak saya bisa melenggang dengan sabar mengikuti seluruh rangkaian alur dan prosedurnya serta menyelesaikan sendiri urusan saya. Tanpa harus terpaksa atau dikondisikan untuk meminta bantuan pihak ketiga yang 99,9% tidak gratis alias berbayar lebih dari tarif resmi.

Oh iya. Kalau mau datang ke tempat ini, berpakaianlah yang pantas (menurut budaya ke-timur-an). Anda yang bercelana pendek dan/atau bersendal jepit boleh jadi tidak diperbolehkan masuk oleh petugas di depan pintu masuk utama yang juga berfungsi sebagai pintu keluar di gedung utama.

Sekian saja.

Bravo pelayanan publik di Indonesia.

Perbaiki terus, tingkatkan terus, layani terus.

Wassalam.

The Story of Macheli.

Friday, May 19, 2017

Macheli.

Entah apapun artinya, adalah kata hasil karangan anak perempuan saya yang belum genap 4 tahun umurnya, sebagai nama kucing berkelir tiga warna yang pernah diselamatkan dari lantai 3 rumah tetangga di masa gadisnya.

Sejak itu ia jadi penunggu tetap teras depan rumah dan sering mendapat asupan sisa makanan atau makanan yang sengaja disisakan. Sempat dibuatkan kandang dari kardus air mineral, namun ia lebih memilih tumpukan sepatu yang lebih hangat sebagai tempat merebahkan badannya, atau jok sepeda motor untuk menghabiskan malam-malam dinginnya.

Hingga sekarang. Macheli memiliki dua anak yang dilahirkan di dalam kardus bekas kipas angin, Blang-II dan Blang-III.

Pagi tadi, ketika kami berangkat ke kantor istri. Di tengah perjalanan, sekitar 5 kilometer dari rumah, di kabin mobil terdengar suara anak kucing. Melalui kaca spion terlihat seekor anak kucing yang mirip sekali dengan Blang-II sedang kebingungan di tengah jalan, di belakang mobil, di tengah lalu lintas. Saya pun menepi. Tepat di depan Indomaret di sebelah Hotel Candi di daerah Darussalam – Medan – Indonesia. Saya yakin betul bahwa itu adalah Blang-II. Blang-II pun saya bawa masuk ke dalam mobil dan kami melanjutkan perjalanan mengantar istri ke kantornya, hingga pulang lagi ke rumah. Total waktu tempuh perjalanan pulang-pergi sekitar 1 jam 15 menit.

Tak habis pikir dengan aksi ekstrim si Blang-II, tidak jauh dari tempat saya berhenti tadi, di depan Masjid Al-Jihad saya sempat memeriksa kap mobil dan seputaran kolong untuk memastikan bahwa Blang-III tidak ikut menjadi penumpang gelap kami pagi itu.

Tiba di rumah. Takjub. Membayangkan petualangan dan situasi seperti apa yang dihadapi Blang-II, anak kucing yang bahkan jalannya belum kokoh tegak hingga dapat bertahan di kolong mobil dalam perjalanan sejauh itu, 5 KM tanpa terjatuh karena benturan atau panas, dan masih selamat ketika akhirnya terdampar di tengah lalu lintas pagi yang padat. Saya mengeluarkan Blang-II dari mobil dan Macheli segera menyambutnya.

Tapi Blang-III tidak terlihat. Kembali saya meyakinkan bahwa Blang-III tidak tersangkut di kolong mobil atau di kap.

Tidak ditemukan.

Beserta anak-anak yang antusias setelah mendengar kisah ‘Hitch-Hiking‘ Blang-II di mobil dalam perjalanan Bunda-nya barusan, kami kembali menyusuri rute yang dilewati ketika mengantar istri ke kantornya, mencari keberadaan Blang-III, memastikan semoga ia baik-baik saja.

Tidak ditemukan.

Bahkan sore hari, ketika menjemput istri pulang dari kantornya. Anak-anak kembali bersemangat untuk tetap kembali mencari. Perlahan kami menyusuri rute yang dilewati pagi tadi. Memastikan keberadaan Blang-III.

Tidak ditemukan.

Hingga pagi ini. Macheli masih terus mengeluarkan panggilan menyedihkan kepada Blang-III, anaknya.

Mencari. Mungkin masih belum paham apa yang terjadi. Blang-II juga mengeluarkan suara khas anak kucing yang sedang mencari. Mencari saudaranya. Lengking khas yang memilukan. Kehilangan.

Blang-III tidak ditemukan.

2 hari sebelum Ramadhan 1438 H, sesaat sebelum saya tiba di rumah, handphone saya berdering-dering, saya memutuskan untuk tidak menjawab dan berencana akan menelepon ulang, siapapun yang sedang berusaha menghubungi saya ketika itu. Tiba di rumah, kedua anak saya sedang menangis sejadi-jadinya. Menangisi jasad mengenaskan Blang II yang terbujur tragis di depan rumah, kemungkinan besar terlindas kendaraan yang melintas. Anak saya yang paling besar, masih memegang handphone di tangannya sembari terisak menghambur memeluk saya dan terbata-bata mengatakan bahwa Blang-II sudah mati.

Garis keturunan Macheli pun berhenti. Kembali sendiri lagi. Di teras depan rumah kami.

 

Untuk komoditi (Commodity: a marketable item produced to satisfy wants or needs that comprise goods and services) yang diproduksi tahun 2011 dan saya beli di tahun 2012 seharga Rp. 162.000.000,00 dengan jangka waktu membayar cicilan selama 5 tahun (60 bulan) pada salah satu perusahaan pembiayaan terbaik, terpercaya dan terbesar di Indonesia, total uang yang saya belanjakan secara fantastis adalah Rp. 242.930.000,00!

Awalnya saya tergelitik untuk menuliskan financial nightmare saya ini dengan harapan akan menjadi bahan pelajaran dan pertimbangan bagi siapapun yang membaca tulisan ini agar benar-benar berhati-hati dan selektif mengambil langkah finansial yang memiliki potensi untuk menggerogoti penghasilan selama bertahun-tahun ketika memutuskan untuk mengakuisisi suatu barang yang bukan modal dan memiliki tingkat kebutuhan yang tidak signifikan. Walaupun dalam hal ini beberapa komoditi yang sifatnya belanja modal dan memiliki tingkat kebutuhan vital seperti rumah sebagai tempat tinggal atau kendaraan sebagai sarana transportasi mungkin dapat diberikan dispensasi mengingat menabung dengan tingkat disiplin luar biasa untuk mengejar harga yang terus digenjot inflasi bisa jadi bukan alternatif yang menjadi pilihan utama, selain kebutuhan yang bercampur baur dengan keinginan untuk segera merasakan manfaat komoditi tersebut demi memperlancar operasional dan aktivitas serta meningkatkan kualitas hidup, juga tidak mudah mengumpulkan uang sekian banyak terutama bagi para pegawai/karyawan yang pola penghasilannya berupa fix income yang memiliki potensi membayar angsuran tepat waktu, apalagi ketika skemanya adalah potong gaji.

Kembali ke hitung-hitungan angka, dari total uang yang saya keluarkan (dengan didahului oleh Downpayment dan diikuti oleh berpuluh kali cicilan tentunya) terdapat selisih bin pembengkakan pembayaran dari nilai komoditi sebesar Rp. 80.930.000,00 selama lima tahun, yang berarti per-bulannya saya membayar kelebihan sebesar Rp. 1.348.833,00 selama 60 kali! Ya, walaupun dalam komponen tersebut terdapat bunga, asuransi dan biaya administrasi, tetap saja untuk ukuran kantong saya nominal sekian itu masuk kategori dana durhaka luar biasa mahal untuk dibayarkan secara rutin sebagai balas jasa atas benefit yang saya peroleh, yaitu keleluasaan untuk memanfaatkan komoditi yang saya beli di awal transaksi, sebelum pembayaran lunas.

Kalau berandai-andai dan menggunakan skema menabung yang ideal untuk mendapatkan komoditi yang ternyata setelah saya cari tahu harga 5 tahun lalu dengan harga sekarang tidak jauh berbeda, maka saya hanya perlu menerapkan disiplin militer dalam menabung (tanpa Uang Muka) sebesar Rp. 2.700.000,00 selama 60 bulan (bandingkan dengan Downpayment sebesar Rp. 30.950.000,00 yang dibayarkan diawal dan cicilan sebesar Rp. 3.533.000,00 sebanyak 60 kali) dengan ketentuan bahwa selama masa menabung, saya belum bisa memanfaatkan komoditi tersebut dan hak milik akan saya dapatkan di akhir masa menabung karena pembelian akan dilakukan secara tunai-keras plus komoditi yang saya dapatkan adalah model terbaru, bukan keluaran lima tahun lalu.

Bagian yang menimbulkan rasa miris lagi, total kelebihan uang yang saya bayarkan sebagai ganti manfaat yang saya terima di awal terhadap komoditi yang saya beli dengan mencicil tersebut adalah angka yang tidak jauh berbeda dengan harga komoditi tersebut pada saat cicilannya lunas. Dengan demikian, angka Rp. 162.000.000,00 sebagai harga awal komoditi tersebut 5 tahun yang lalu dapat dikatakan telah tergerus habis oleh penurunan nilai produk, digantikan oleh total selisih kelebihan pembayaran yang dilakukan selama lima tahun. Kisahnya mungkin akan sedikit berbeda ketika yang dibeli adalah komoditi strategis yang memiliki nilai aset yang terus menanjak seperti lahan atau properti.

Lalu saya coba menelusuri, skema model apa yang diterapkan kepada saya ketika melakukan kontrak dengan perusahaan pembiayaan ini. Pada lembar penjelasan penting bagi konsumen/nasabah saya menemukan kata-kata Perjanjian Pembiayaan Bersama dengan Hak Milik Secara Fiducia yang berbau kredit. Lalu juga ada kata-kata Finance sebagai kode perusahaan pembiayaan yang dapat berlaku sebagai penerbit produk pembiayaan berupa leasing serta skema kepemilikan yang berbau Sewa-Beli dan angsuran yang mengindikasikan metode Beli-Cicil. Dari kesemua ciri-ciri ini saya sepertinya menemukan sistem hybrid yang mengkombinasikan banyak metode yang hampir keseluruhannya menguntungkan sang perusahaan dan memberikan saya motivasi untuk menuliskan pengalaman finansial yang hampir dapat dikatakan ‘sial’ ini.

Dari hasil baca sana-sini, saya menemukan karakteristik dari masing-masing metode:
Leasing: Ada opsi untuk membeli barang modal yang bukan berasal dari lessor (pemberi sewa), melainkan dari pihak ketiga atau lessee (penyewa) di akhir masa sewa atau meneruskan penyewaan (Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2009 tentang Lembaga Pembiayaan).
Sewa-Beli (bukan kegiatan lembaga pembiayaan): Hak milik atas barang secara otomatis baru beralih dari penjual kepada pembeli setelah jumlah harganya dibayar lunas oleh pembeli kepada penjual (Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 21/M-DAG/PER/10/2015 Tahun 2005 tentang Pencabutan Beberapa Perizinan dan Pendaftaran di Bidang Perdagangan, namun tidak diatur secara khusus dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata).
Beli-Cicil (Jual Beli dengan angsuran): Hak atas barang sudah beralih dari penjual kepada pembeli setelah transaksi terjadi walaupun harga belum seluruhnya dibayar.
Angsur: menyerahkan sedikit demi sedikit, tidak sekaligus.
Cicil: membayar dan sebagainya sedikit demi sedikit.

Berdasarkan beberapa definisi dan karakteristik diatas, saya menemukan beberapa kejanggalan (menurut pandangan saya). Jika ini adalah sewa-beli, lalu kenapa saya dikenakan uang muka? belum lagi kalau berbicara pelunasan, tidak ada kata ampun. Melibatkan diri dengan perusahaan pembiayaan model begini adalah kontrak mati, jika pelunasan ingin dilakukan di awal (sebelum jatuh tempo cicilan) maka total nominal yang harus dibayarkan adalah setara dengan total nilai keseluruhan cicilan hingga lunas. Tidak ada manfaat finansial melakukan pelunasan lebih awal karena yang dibayarkan adalah pokok plus bunga hingga lunas, bukan outstanding pinjaman dengan bunga berjalan ditambah pinalti seperti yang biasa diterapkan pada dunia perbankan. Gampangnya, yang dibayar adalah akumulasi seluruh angsuran hingga lunas sesuai dengan waktu jatuh tempo di kontrak. Dengan kata lain, lunas sekarang atau nanti, total yang dibayar sama!.

Jika gagal bayar cicilan ditengah jalan? maka seluruh jerih payah dan usaha yang dikerahkan untuk membayar angsuran dianggap sia-sia. Komoditi akan ‘ditarik’ dan baru akan dilepaskan kembali ketika cicilan plus denda sudah dibayarkan dan angsuran berjalan normal. Bukankah akan lebih ‘manusiawi’ lagi jika terjadi kemacetan pembayaran angsuran, komoditi yang dipertaruhkan dijual/diuangkan untuk melunasi sisa cicilan? bisa jadi ini dilakukan, namun kisah yang beredar lebih sering hanya berhenti pada penarikan/pengambilan paksa komoditi dan ‘hangus’nya cicilan plus uang muka yang sudah dibayarkan. Entahlah, hal ini perlu penelusuran lebih lanjut mengingat saya juga beberapa kali mendengar kabar pelelangan secara massal (sekaligus) komoditi yang ditarik oleh perusahaan pembiayaan.

Namun biasanya konsumen/nasabah akan putus hubungan dengan komoditi yang telah ditarik kembali oleh perusahaan pembiayaan hingga cicilan berjalan normal atau sebelum pelelangan dilakukan. Tak banyak beredar kabar tentang apa yang terjadi ketika pelelangan sudah dilakukan. Apakah nasabah/konsumen masih akan menerima manfaat atau pengembalian dana dari nilai penjualan komoditi yang sudah dicicilnya selama ini? walaupun terdengar hampir tidak mungkin terjadi berhubung keseluruhan hasil penjualan komoditi kemungkinan besar dapat dipastikan akan digunakan untuk menutupi besar cicilan plus bunga ditambah biaya asuransi dan administrasi hingga lunas dan sangat mungkin tidak akan bersisa. Meninggalkan kerugian finansial yang sebesar-besarnya kepada si nasabah/konsumen.

Kalau komoditi dicuri/hilang dalam masa cicilan? tenang, ada asuransi (paling tidak seharusnya begitu). Yang terjadi (pengalaman pribadi teman) adalah asuransi akan mengganti komoditi tersebut dengan perhitungan harga pasar berupa uang, yang biasanya akan kembali dituangkan menjadi Uang Muka, dan ritual membayar angsuran pun akan kembali berlangsung (lebih lama dari yang seharusnya and of course more profit for them!). Nah kalau hilang dan ditemukan? masih ada pihak ketiga (you know who I mean) yang harus ditembus secara hukum dan birokrasi. Tidak usah terlalu berharap pada bantuan dari Perusahaan Pembiayaan. Malah ada yang bilang mending hilang sekalian daripada mesti ngurus sana-sini dengan hasil yang gak jelas. Jelas sih, jelas ribetnya. Yang gak jelas adalah apakah komoditi akan berhasil dikembalikan secara utuh atau sudah jadi korban ‘kokangan’ sementara menunggu prosesnya berlangsung. Kisahnya akan sangat berbeda sekali jika komoditinya tidak diasuransikan tentunya. You’re on your own, buddy!

Lalu, uniknya lagi tentang skema bercirikan konsep sewa dengan kontrak tertulis ini adalah resiko kepemilikan yang ditanggung di awal (perawatan, kerusakan fisik, dan pajak), walaupun perusahaan pembiayaan mewajibkan adanya asuransi dalam kontrak pembiayaan. Tetap saja seolah-olah komoditi yang dicicil sudah menjadi tanggungjawab nasabah/konsumen sepenuhnya. Jika ini adalah sewa-beli dengan kontrak tertulis murni, maka kepemilikan komoditi yang disewa baru akan berpindah ke tangan penyewa ketika cicilan sudah lunas. Tapi kejadian di lapangan, kepemilikan barang sudah atas nama si penyewa (lessee) dari awal, hanya bukti kepemilikan yang dipegang oleh pemberi sewa (lessor) tentu saja dengan Jaminan Fiducia.

Apapun yang terjadi, perusahaan pembiayaan yang menjamur demi melayani hasrat memiliki komoditi bagi rakyat yang penghasilannya pas-pasan ini telah menjadi fenomena finansial yang secara semu menguntungkan konsumen/nasabahnya dengan kemudahan memiliki komoditi dan secara realistis berjangka waktu memindahkan jumlah uang yang signifikan (dari sudut pandang konsumen/nasabah) ke pos profit perusahaan pembiayaan. Seolah-olah barang/komoditi telah dimiliki sejak kontrak dilakukan. Beberapa pihak bahkan menyandarkan pemikirannya pada cicilan yang masih lebih untung dari sewa murni sehingga jika terjadi gagal bayar dan macet ditengah jalan, mereka akan melapangkan dada dan menganggap cicilan dan uang muka yang telah dibayarkan akan hangus sebagai sewa komoditi yang sedikit lebih mahal dari sewa murni. Jika sukses membayar angsuran hingga lunas, maka senyum besar akan merekah dan komoditi berhasil dimiliki tanpa menyadari betapa membengkaknya total biaya yang dikeluarkan.

Akhirnya, jika ingin memiliki suatu komoditi, jalan terbaik adalah dengan membeli secara tunai jika mampu (biasanya bisa lebih murah dan semoga memperoleh diskon hard-cash). Kalau belum mampu dan sifat komoditinya tidak memiliki aspek krusial yang menyebabkan harus dimiliki sekarang juga, bersabarlah dalam menabung. Tidak mudah menjadi konsumen yang kurang mendapat perlindungan dan informasi tentang apa yang sebenarnya terjadi. Bentengilah diri dengan disiplin, kemauan yang keras dan pengetahuan. Semoga kita semua segera terlepas dari jeratan hutang dan beban cicilan maupun angsuran.

Paragraf terakhir akan saya dedikasikan untuk asuransi. Jangan lupa asuransi, untuk komoditi vital yang memiliki peran sentral dalam kehidupan. Ya, saya paham bahwa premi asuransi masih belum dianggap terjangkau bagi beberapa pihak dan tidak mudah memang menyaksikan agen-agen asuransi menuai bonus megah dan jalan-jalan ke luar negeri lalu mem-posting kebahagiaan dan pencapaiannya di sosial media (apalagi mengingat berapa besar porsi premi yang mengalir ke kantong mereka) hanya karena mampu membujuk dan mengumpulkan nasabah yang masih harus menyetorkan uangnya sebagai premi selama bertahun-tahun, berpuluh tahun bahkan. Namun hal ini masih lebih baik daripada menanggung resiko sendiri yang belum tentu mampu ditanggung.

That’s just part of the game, if you don’t play along with it, you’ll lose anyway.

A Dream About Friends

Wednesday, December 21, 2016

I have been dreaming about my missing friends. Old friends. Very old friends. We were best friends. I have never met anyone that can connect to my thoughts the way we did. We can talk for hours, some were for countless sleepless nights. It was fun, all the time, each time, every time. Then out of the blue, they’re gone. Just like that. For years. Some forever. Some came back but feels like someone else. The first time we met, after years of no news, not a single word. Things were different, never the same anymore. It’s like they were not the same person. The fun vanished. The smile were artificial. It’s like they’ve been trained to do so. Not the smile I used to know. It’s the same smile you get from some random stranger salesperson trying to sell you things. Some were forever gone. I missed them. All. It was like we’ve known each other since we were kids, things were just aligned for us at that time.
And last night that dream happened again. I was picking up my son from his English course. Since we still have time, I asked him if he wanted to take a walk with me to the nearest mosque to have a prayer. My daughter was with us too. It used to be a short distance, but somehow the landscape just seemed to be shifted and we got lost. But we felt okay with it, my kids were having fun all the way and we kept on walking. Until my son suddenly found a boy, playing alone on the street. His name was Joey. Then they played together. It’s fine by me. They were looking okay. I had to chase my daughter, she was going to the sewer. It just might harm her. I stopped her and took her to a safe place to play with me until a door suddenly was opened. It was you! Out of nowhere. My long lost friend. But you didn’t look the same. You gained weight. And felt colder. All I got was a simple small smile. I didn’t expect that. I was ready to run into you and give you a big warm hug!. But I thought, yeah. We’re not kids anymore. We even got kids now. Joey was your son. Suddenly I understand things, I got this information out of thin air that your family was torn apart. I don’t know who put that data in my head. You seemed to be deeply wounded. And shut down. You closed yourself from the world. Even from your best friend. Probably hate everything and dislike everyone. Am I included, my friend? I’m sorry. Meanwhile I am so happy. I am at the top of my game. A gorgeous wife, a handsome son, a cute daughter, a so-called well-paid job and financially paying off my way to prosperity and happiness on installments. What can I do my friend? How can I help? Can’t we just have a very long chit-chat to help you ease your pain? I miss you, you know. I miss those time we had together when the world is just a simple fun playground for us. When things were always fun, no matter how painful they were. Wounds heal. Scars fade. Laughter was all we got. Together. It was fun.
Suddenly the earth shook. I was thrown away, alone to a small village. It felt like a very big leap. Very green and beautiful. Feels like something from the past. Traditional and peaceful. Everything else disappeared. We were sitting on a porch of your wooden traditional house. Exchanging nothing but a shy stare of our reflection from a fish pond in front of us. Your son was riding his bicycle. An old adult bicycle. Perhaps it’s his granddad’s. We were not talking. No one is speaking but I felt your misery. You were in pain. Something you wished to share with a friend. Well, I’m here buddy!. Tell me your stories. I’ll share you my tale. We’ll laugh about it together.

Multi Level Marketing (MLM)

Friday, September 30, 2016

Mau tahu kenapa saya agak ‘alergi’ kepada Multi Level Marketing (MLM) alias Pemasaran Berjenjang atau dikenal juga dengan nama Pemasaran Jaringan, disebut juga Pemasaran Berantai atau Penjualan Piramida? Kalau tidak, jangan dilanjutkan membaca. Jika iya, begini ceritanya :

Normalnya saya hanya berpikiran praktis kalau memang punya produk bagus, kenapa tidak dilempar ke pasar dengan harga yang masuk akal? Kualitas bagus yang dibarengi harga yang ‘baik’ akan berbicara lantang dan bergema kemana-mana, apalagi di pasar yang model sekarang ini, bisa online, bisa offline. Jadi untuk apa repot-repot rekrut anggota, belanja menggunakan kartu member, menghitung poin, memperbanyak kaki-kaki, insentif besar, bonus selangit dan setumpuk kisah sukses yang akan dijual jika sedang melakukan prospek kepada member baru. Kadang malah didukung dengan slip dan bukti pembayaran atau transfer dengan angka yang fantastis dan menggiurkan. Kelihatan mudah dan terdengarnya menjanjikan sekali, dalam waktu beberapa bulan anda bisa menghasilkan sekian ratus juta, bonus mobil mewah, perjalanan wisata, de el el and the bla bla bla…

Selain itu, sistem Multi Level Marketing (MLM) ini juga bisa merusak relasi dan persahabatan kalau dilakukan tidak secara elegan. Bagaimana perasaan anda jika sudah lama tidak bertemu teman, tiba-tiba bersua instead of catchin’ up in a nice warm chit-chat atmosphere, nostalgia atau menanyakan kabar, eh malah diprospek, ditawarkan produk, dibujuk jadi member, meneruskan downline, dan sebagainya (disarikan dari beberapa pengalaman pribadi).

Alasan sebenarnya (I’m not into MLM) adalah bagi saya simpel bin sederhana saja. Makhluk di jagat ini yang pertama sekali mengadopsi a.k.a menggunakan sistem Multi Level Marketing (MLM) menurut saya tak lain dan tak bukan…. IBLIS! Ya. Bukankah dedengkotnya setan ini berjanji dan minta ijin kepada ALLAH S.W.T. untuk merekrut anggota baru guna bersama-sama menemaninya masuk neraka dengan janji-janji muluk, iming-iming instan, bisikan yang membuai dibungkus dengan kemasan yang menggiurkan dan berjuta Gimmick yang setakat ini sepertinya ampuh melakukan perekrutan massal yang bisa menyebabkan neraka jauh dari sepi dan jalan menuju Surga itu jauh lebih sepi lagi. Mana mungkin tiket gratis masuk neraka akan diambil begitu saja jika tidak diselimuti dengan gelimangan kesenangan duniawi. Bukan begitu bukan?

Seorang teman malah mengilustrasikan bahwa untuk mengirimkan agennya, para setan, iblis dan kaumnya akan melakukan meeting untuk menentukan siapa merekrut siapa disesuaikan dengan background, kapasitas dan kapabilitasnya supaya bisa lebih masuk dan merasuk serta meningkatkan probabilitas keberhasilan proses, metode serta teknik rekrutmennya. Wuih! Coba bayangkan situasi rapatnya (Pasti panas, kan mereka makhluk yang berapi-api). Menurut teman tersebut lagi, agen ini akan memiliki kualifikasi yang setingkat lebih tinggi dari manusia yang akan direkrutnya agar mampu mempengaruhi dan mengantisipasi argumentasi moral manusia tersebut, sesuatu yang sebenarnya secara insting sudah kita miliki untuk menjaga diri (mungkin ini yang disebut naluri?), namun karena kurang dipakai dengan baik dan dilatih untuk jernih, jadi sering dikaburkan dan bisa secara jenius di patgulipat-kan dengan logika. Wah, semakin tinggi kualifikasi manusianya, semakin ‘canggih’ agen yang dikirim. Ternyata gak gampang jadi orang cerdas, harus berhadapan dengan agen yang super cerdas pula. Walah dalah!. Kira-kira mereka mengirim agen yang kualifikasinya seperti apa ke orang yang kurang waras atau terganggu mentalnya? Pertanyaan yang nanti-nanti saja dijawabnya.

Mohon maaf bagi anda yang ‘pro’ kepada Multi Level Marketing (MLM). Ini hanya pemikiran saya, dan saya bukan Pakar Pemasaran, Marketing Expert apalagi Pengamat Ekonomi. Wong ekonomi saya saja amat-amat ‘rumit’ belakangan ini.

Pesan moral : Jujurlah kalau menjual. Gunakan kemasan sebagai representasi dari kualitas isi.  Yang berminat mengetahui lebih lanjut tentang Multi Level Marketing (MLM) : ini dia.

Wisata ke Danau Toba

Tuesday, August 23, 2016

The amazing thing about traveling is that the journey always unfolds in ways that you never planned.

Okeh! Selain karena memang Danau Toba itu ciamik cuantik luar biasa (walaupun sudah berkali-kali gagal masuk jajaran Global Geoparks) dan sebenarnya punya daya tarik hebat laksana magnet besar sehingga pengalaman traumatis yang berkaitan dengan hal-hal selain pesona Danau Toba-nya tidak berhasil menghentikan saya untuk tetap kembali lagi dan ‘ngomel’ untuk kedua kalinya, salah satu alasan besarnya adalah karena tak banyak pilihan spot wisata yang ada di Provinsi ini (yang dikelola dengan baik, dengan jarak tempuh yang manusiawi dan terjangkau untuk ukuran kami ini). Tidak seperti Australia yang punya sekitar 10.685 pantai yang kalau digilir setiap minggu, maka akan menghabiskan mungkin sekitar 29 tahun!. Belum lagi objek wisata atau tourist spot yang bukan pantai. Pantas saya belum pernah merasakan sensasi geregetan liburan model begini disana (Ya, saya tahu dan menyadari. Ini bukan perbandingan apple-to-apple tapi apple-to-durian).

Maka berangkatlah kami sekeluarga plus tambahan keluarga dari rumah jam 04.00 WIB dinihari dengan harapan akan menghindari arus lalu lintas yang padat dan bisa lebih santai di perjalanan, namun ternyata strategi yang disusun dengan rapi tidak menjamin rencana yang dieksekusi dapat berjalan lancar sebagaimana ekspektasi.

Macet. Libur panjang sepertinya menyeragamkan pola pikir para pengendara untuk menyusun strategi menghindari momok besar di jalan ini di kala musim libur agak panjang. Atau mungkin memang karena jumlah kendaraan yang membludak luar biasa sehingga waktu dini hari pun menjadi saat indah untuk bertumpuk-tumpuk di jalanan, atau mungkin memang sudah garisan tangan. Yang pasti hal ini sepertinya sudah hampir tidak mungkin dihindari dan menjadi hal yang lumrah di negara ini umumnya, di provinsi ini khususnya. Rombongan kami mengalami macet kedua setelah sebelumnya menghamburkan lebih dari satu jam untuk menanti di Sei Rampah. Dan anehnya, ketika ditanya ke orang-orang yang lewat dari arah berlawanan, saya tidak memperoleh jawaban yang kompak. Yang satu bilang, “Ada mobil rusak ditengah jalan, tunggu aja bang, bentar lagi siapnya itu!.” Tidak lama berselang saya kembali menanyakan ke pengemudi angkot dan memperoleh jawaban, “Montor-montor besar ini tidur di jalan!” dengan logat batak yang kental dan lengket. Kaget. saya coba memastikan, “Di tengah jalan bang?”. beliau dengan mimik geram berujar,”Iya! inilah montor-montor besar ini!!“. sembari menunjuk ke sebuah truk besar yang berada  tepat di sebelahnya, berseberangan arah. Entahlah.

Tiba di Ajibata pukul 11.00 WIB setelah sebelumnya singgah untuk minum susu kambing di restoran India di Tebing + sarapan lontong dan nasi gurih di sebelahnya. Antrian untuk menyeberang sudah mengular. Ular yang sangat panjang dan mengesalkan.

Ini hanya 1/4 antrian. mau tahu berapa panjang antriannya? Silahkan dikali 4!. Belum lagi aksi serobot menyerobot yang dilakukan oleh oknum-oknum, baik secara individu maupun dengan kerjasama yang tidak menguntungkan terutama bagi pihak yang diserobot!. Contoh si kawan Av*nza warna silver yang memberi jalan bagi Inn*va si konconya. Aksi ini sedikit mengesalkan namun agak sulit ditegur. Sayup-sayup mereka beralasan, "Kami satu keluarga!".

Ini hanya 1/4 antrian. mau tahu berapa panjang antriannya? Silahkan dikali 4!. Belum lagi aksi serobot menyerobot yang dilakukan oleh oknum-oknum, baik secara individu maupun dengan kerjasama yang tidak menguntungkan terutama bagi pihak yang diserobot!. Contoh si kawan Av*nza silver yang memberi jalan bagi Inn*va si konconya. Aksi ini sedikit mengesalkan namun agak sulit ditegur. Sayup-sayup mereka beralasan, “Kami satu rombongan!”.

Lanjut di Ajibata, dengan rasa penasaran yang menggebu-gebu saya mencoba mencari informasi ke tukang parkir yang mengatur antrian mobil, “Rame ya bang, jam berapa dapat nyebrang ni?”. dan dengan santai beliau memuntahkan jawabannya, “Jam 3 dapatnya tu bang, rame. Pere panjang. Biasanya ini“. Nyess!! kalau tidak memikirkan hotel yang sudah dibooking terlebih dahulu dan waktu yang memang masih memungkinkan untuk menunggu, mungkin kami akan banting setir dan berimprovisasi di tempat untuk mengisi liburan kali ini.

Kalau sedang musim libur panjang dengan antrian yang tak kalah panjang, jadwal ini tidak digunakan lagi. Feri akan nonstop menyeberangkan kendaraan, bahkan sepeda motor.

Kalau sedang musim libur panjang dengan antrian yang tak kalah panjang, jadwal ini tidak digunakan lagi. Feri akan nonstop menyeberangkan kendaraan, bahkan sepeda motor.

Ketika saya coba mendiskusikan perihal serobot-menyerobot ini kepada ‘orang lokal’, saya hanya mendapat komentar bernada simpatik, “rejeki-nya-lah itu bang, gak ada yang nengok!” belakangan ketemu dengan orang yang sama yang ternyata mengelola usaha perparkiran mandiri di pasar tomok bertarif Rp. 10.000,00 per mobil.

IMG_20160505_185758

Berkali-kali menyaksikan dia dan temennya ngangkut mobil-mobil, orang-orang yang sayangnya bukan kami.

Setelah diserobot, ditikung, disikut, dipotong berkali-kali oleh pengendara lain, akhirnya kami berhasil naik ke ferry penyeberangan jam 08.00 malam dan tiba di tomok jam 09.00 malam. Menjalani proses keluar kapal dan akhirnya bisa meluncur ke hotel. 9 jam! Ya. Kami menghabiskan sembilan jam yang panjang menunggu giliran menyeberang di tempat yang sama sekali tidak memenuhi syarat untuk dijadikan tempat menunggu. Beruntung anak-anak punya jiwa petualang yang baik dan lumayan tertib sehingga kami berhasil ‘make the most of it‘ dengan berjalan-jalan di seputaran pelabuhan, lihat hape, tidur di mobil waktu hujan, lihat hape, salat, lihat hape, makan, lihat hape, duduk-duduk di pinggiran pelabuhan, lihat hape, dan lain sebagainya. Tentunya dibumbui dengan sedikit ocehan menggerutu, omelan dan kritik-kritik pedas yang ditujukan entah kepada siapa. Banyak rombongan yang kewalahan lantaran anak-anaknya rewel dan tidak berhenti menangis. Kasihan.

IMG_20160505_144740

Menunggu. 9 painful hrs. Mobilnya parkir. Penumpangnya blingsatan kesana-kemari. ‘Membunuh’ waktu.

Kenapa ngotot menyeberang? Berhubung saya sudah beberapa kali menyambangi tempat ini dan memang sepertinya tempat terbaik untuk menikmati keindahan Danau Toba secara up close and personal adalah di pulau Samosir yang relatif lebih bersih dan tenang, jauh dari suasana pasar (di Samosir juga ada pasar kok) dan keriuhan lalu lintas, sampah, kendaraan (ada juga sih) dan tumpukan manusia. Mau lihat alasan visualnya ?

10455806_10201656040797868_6186048067875571727_n

Lautan mobil dan manusia + sampah. Daya tarik minus daerah wisata andalan Sumatera Utara.

10590546_10201656040037849_2841764023304670834_n

Kebanyakan berupa limbah plastik efek samping rekreasi para turis lokal.

Jika hanya ingin menikmati pemandangan Danau Toba dari jauh, mungkin hotel Niagara atau Taman Simalem Resort bisa jadi alternatif. Sekiranya bagi yang mau dan mampu, bisa mencoba alternatif transportasi via Bandar Udara Silangit yang sudah didarati pesawat Garuda ini. Bagi anda yang belum pernah ke danau toba, mungkin bisa menambah informasi supaya tidak meraba dan kaget. Kalau yang sudah pernah atau bahkan sering, sepertinya bakalan maklum dengan situasinya. Belum lagi masalah pembengkakan harga serta pungutan, baik resmi atau liar :

IMG_20160506_153305

Masuk ‘komplek wisata’, bayar Rp. 15.000,00 dapet stiker di spion. Yeay!

IMG_20160506_153251

Parkir antri nunggu ferry bayar Rp. 10.000,00 Diskon Rp. 10.000,00 setelah banyak yang protes.

Samosir!. Dan tragedi perhotelan tengah malam liburan kami pun dimulai. Dari awal memang proses pemesanan hotel sedikit pelik. Bermula dari pemesanan di Mas Cottages yang dilakukan di Agoda. Selang beberapa hari setelah konfirmasi pemesanan, saya menerima pesan teks di handphone yang bunyinya, “Hello pak. Reservasi mas cottages melalui booking.com deposit 50% BCA a/n j*lita siallagan 8200385***. Terima kasih.” Lha saya yang pesan di Agoda kok ya ngerasa ini bau-bau sms penipuan, disuruh transfer uang, dibilang pesannya di booking.com lagi. Saya pun acuh. Hingga pada suatu hari saya penasaran dan konfirmasi ke Agoda perihal SMS ini, menunggu jawaban dan tercengang mendapati fakta bahwa SMS tersebut ‘valid‘ dan memang benar resmi dari pihak hotel. Hal ini secara brilian dilakukan oleh Agoda berhubung kamar yang dimiliki sudah habis dan mereka berinisiatif bekerjasama a.k.a. ‘menjualkan’ kamar yang dimiliki booking.com dengan skema pembayaran yang tidak diinformasikan sebelumnya. Semprul! Puas ngomel dengan Agoda saya coba konfirmasi dengan pihak hotel, dan… Tada! kamar kami sudah dijual kembali. Ludes! Pemesanan dibatalkan sepihak tanpa persetujuan kami. Pihak Agoda menawarkan diskon 10% pada pemesanan hotel berikutnya sebagai permintaan maaf atas salah paham ini. Saya pun mencoba memesan ulang via Agoda. Tanggal keramat alias liburan panjang yang disebut juga high season ternyata membuahkan tingkat hunian yang membludak di seluruh hotel di Samosir yang bekerjasama dengan Agoda. Full. Tidak ada kamar yang tersedia. Sh*t!. Diskon 10% pun gagal dimanfaatkan.

Okay. H-2 minggu (maksudnya dua minggu sebelum hari H). Kesal dengan Agoda, saya mencoba hunting akomodasi di Airbnb, website terkenal dengan konsep yang menurut saya luar biasa ini juga ternyata mengandung potensi masalah di user-nya. Setelah mengalami penolakan pemesanan dengan alasan penuh di Linda’s dan Rogate, saya menemukan G*ido, warganegara Belgia yang beristrikan Rotu* Turnip (etnis Batak) yang secara asal-asalan telah menjual kamarnya di Toba Village Inn dengan tagline ‘hotel dekat danau dan gunung indah’ bermetodekan Instant Book! Maka terjebaklah kami, sekitar pukul 23.00 WIB datang ke hotel yang tidak mengakui pemesanan yang bahkan telah kami bayar. Crap!. WTF?? Perdebatan pun berlangsung alot (disisi kami, pengurus hotel sih nyantai wong kamarnya sudah penuh dan tidak merasa sudah/pernah menjual kamarnya ke kami). Tubuh yang lelah benar-benar menagih untuk segera diistirahatkan. Belakangan sang istri (Rotu* Turnip) mengakui kalau ia tidak mengerti cara menjadi host di Airbnb sehingga akunnya yang sudah aktif dibiarkan begitu saja dengan setting Instant Book yang amat sangat berbahaya serta menolak cenderung tersinggung sewaktu saya menawarkan diri untuk ‘mengajari’. Menggantung. Ibarat jaring laba-laba yang menanti mangsa jatuh ke pelukannya. Dan kamilah yang menjadi korban perdananya. Jebakan betmen yang sama sekali tidak lucu ini benar-benar membolak-balikkan suasana hati di kala liburan, lelah dan mengantuk luar biasa. Such a big ugly joke!. Saya memilih untuk menyelesaikan permasalahan ini keesokan harinya dan mencari penginapan tengah malam itu juga. Pindah dan hunting hotel lagi.

Menyusuri jalan kecil dan gelap di tengah malam untuk mencoba peruntungan mencari penginapan, kami bertemu Bagus Bay dan memperoleh hanya satu kamar yang tersisa seharga Rp. 250.000,00 dengan fasilitas kamar mandi di luar. Sempat menghuni sebentar dan melihat dari situasinya, sepertinya sulit untuk dapat beristirahat di kamar kecil yang tempat tidurnya sudah ‘habis’ dihuni anak-anak. Saya pun mencoba browsing mencari kamar sekaligus melakukan konfirmasi ke Airbnb terkait pemesanan kami. Saking geramnya, dengan meninggalkan keluarga di Bagus Bay, saya memutuskan untuk kembali ke Toba Inn Hotel untuk klarifikasi dan meminta penjelasan lebih lanjut, malam itu juga. Aura liburan sudah menguap berganti rasa geram tiada duanya. Di pintu masuk, saya bertemu teman yang berprofesi sebagai ‘guide‘ lokal di Samosir. Dari hasil perbincangan kami, beliau menggunakan jaringannya untuk dapat memperoleh kamar yang ‘layak’ kami huni sekeluarga. Pandu Lakeside Hotel jadi penyelamat malam itu. Jam menunjukkan pukul 01.00 WIB dinihari, restoran di hotel Bagus Bay sudah tutup, Lobby sepi, tak satupun karyawan hotel yang dapat ditemui untuk melakukan pembatalan kamar di Bagus Bay yang sempat kami huni beberapa menit. Saya memutuskan untuk meninggalkan kunci kamar di meja resepsionis yang gelap dan kosong. Masuk diantar, pergi tak pamit alias lari malam dengan menggendong anak-anak yang sudah tertidur pulas bin lelap. Kamipun pindah ke Pandu Lakeside Hotel dengan kamar superior seharga Rp. 525.000 + Extra Bed seharga Rp. 125.000. Aman untuk sementara, tapi masalah belum selesai sampai disini. Kamar hanya tersedia satu hari, besok sudah harus hunting kamar hotel lagi. Dokumentasi sehari di Pandu Lakeside Hotel :

13227776_10207745829216100_4563872398628609184_o

Early morning swimmers. Well… kinda.

 

13217135_10207745831776164_8551093669327241223_o

Pandu Lakeside Hotel : The backyard. Not bad, eh?.

 

13217258_10207745829896117_8551377964162314380_o

Rocky beach. Lumayan. Buat leyeh-leyeh. Sayang cuma bisa sehari.

Dengan muka sedikit tebal karena rasa segan plus malu berhubung akan merepotkan sang kawan, saya menelepon untuk kembali minta tolong dicarikan kamar hotel tempat menginap kami sekeluarga malam berikutnya. Tak lama kemudian… Walah! kamar hotelpun tersedia : Toledo 2. Alakadarnya, tapi cukup lumayan daripada luntang-lantung tanpa kejelasan mengingat di musim high season seperti saat ini, okupansi kamar hotel di objek wisata paling populer di Provinsi Sumatera Utara ini bisa mencapai 100%!. Dan di Toledo 2-lah akhirnya kami menginap hingga check out untuk pulang.

IMG_20160506_153024

Masih belum bebas masalah. Kamar kami ‘tertukar’ akibat kesalahan pencatatan gelar (Simarmata – marga teman saya yang melakukan booking dicatat Sigalingging) sewaktu pemesanan by phone oleh resepsionis hotel. Semestinya kami menempati kamar yang langsung menghadap danau di lantai 1, good bye – good view. Alih-alih malah kami diberi kamar di lantai 2. Ketahuannya juga sewaktu ngobrol ketika check-out. Pantas saja sewaktu check-in petugasnya sedikit kebingunan. Ya sudahlah. Nanti dibuatkan sinetron-nya dengan judul : “Kamar yang tertukar”.

 

IMG_20160507_063404

Mirip poster kalender. Lebih sedap kalau dipandang secara ‘live‘ begini. This is what makes it all worth it.

 

IMG_20160507_060001

Killer View.

Untuk urusan lambung alias makan-memakan, atas rekomendasi si kawan yang memang sudah puas malang melintang disini, kami pun menuju Rumah Makan Islam Murni di Tuk-tuk. Dan sesuai narasi si kawan. Rumah Makan ini selain diyakini ke-halal-an-nya, juga punya price list yang masuk akal.

IMG_20160506_192450

Biasanya sih selalu ramai dengan pengunjung. Terutama di jam makan. Bagi anda yang penasaran dengan rasa ikan pora, ikan yang wara-wiri di Danau Toba, disini tersedia. Cuma… awas durinya ya.

Merasa ‘hutang budi’ terhadap kawan yang sudah mencarikan kamar untuk kami menginap selama di Samosir, I tried to return the favor dan gayung pun bersambut. Beliau menceritakan masalah transportasinya dan saya menawarkan diri untuk mengantarkannya beserta tiga orang tamu dari Manila-nya ke pasar untuk (mungkin) hunting souvenir dan berkeliling di seputaran Makam Raja Sidabutar. Walaupun saya belum mandi, dan belum menyentuh air selama kurang lebih… baiknya tidak usah saya sebutkan. Dan hasilnya luar biasa, saya benar-benar larut dan mendalami peran sebagai pengemudi merangkap asisten tour guide. See what I’m talkin’ about?

IMG_20160506_094343

“Indonesian driver : great reflexes. Amazing!.” Trivia quiz : who is the girl and can you explain the relationship among the 3 people from Manila?.

Trauma dengan kejadian di pelabuhan penyeberangan, kami mencoba rute darat. Ya. Rute darat. Jadi, sebenarnya pulau Samosir itu tidak benar-benar murni pulau yang terisolasi, karena ada bagiannya yang masih ‘menyambung’ dengan pulau Sumatera di Pangururan – Tele melalui sebuah jembatan, maka kami pun memutari kawasan Danau Toba, melintasi bukit-bukit, melewati Taman Simalem Resort, lanjut turun dari Brastagi hingga menuju Medan. Sedikit lebih lama di perjalanan, namun lebih layak dianggap road trip daripada menghabiskan berjam-jam menanti di pelabuhan, menunggu giliran menyeberang. Pulang.

IMG_20160507_082821

Untuk anda yang tidak membawa kendaraan, perahu ini bisa dipanggil begitu saja, layaknya angkot. Untuk mengantarkan anda menyeberang. Mereka rajin mengitari danau mencari penumpang dari hotel/penginapan yang memang sebahagian besar menempel ke bibir danau.

 

IMG_20160507_085318

Banana boat / jetski ‘rakitan’ bisa jadi alternatif kegiatan basah-basahan.

 

IMG_20160507_093528

Fresh air and the scenery. I’ve come a long way for this. And it worth it.

Di perjalanan pulang, kami singgah ke Pantai Pasir Putih. Lokasi wisata yang populer di kalangan wisatawan lokal.  Dan benar saja. Mayoritas (kalau tidak bisa dikatakan seluruh) pengunjung adalah warga negara-nya saya. Indonesia. Kondisinya :

IMG_20160507_104919

Di sini saya sudah mengendus aroma urin alias pesing yang menyengat. Mari kita jaga kelestarian dan kebersihan Danau Toba dengan cara ? 1. berjualan seadanya di pintu masuk.

 

IMG_20160507_105128

2. Membiarkan sisa-sisa makanan piknik kita tergeletak begitu saja demi menghormati profesi tukang bersih-bersih yang entah ada entah tidak.

 

IMG_20160507_105118

3. Merokok sambil menikmati udara segar dan mencebokkan anak-anak langsung ke danau setelah pipis di pasir pantai nan indah.

 

IMG_20160507_111004

4. Mengalirkan air buangan kamar mandi dan toilet langsung ke danau dengan saluran yang terbuka untuk umum, tanpa pipa sebagai bukti kejujuran dan semangat transparansi.

 

IMG_20160507_114425

5. None of the above. Kerjakan soal dengan sejujurnya. Dilarang mencontek. Bagi yang sudah selesai mengerjakan boleh meninggalkan ruangan tanpa membuat kegaduhan. Partisipasi anda sangat kami hargai. Terima kasih.

Beberapa hal yang cukup mengganggu tentang kondisi perhotelan di wilayah ini adalah hampir semua kamar hotel disini tidak menyediakan pesawat telepon dan pendingin ruangan, apalagi koneksi internet yang baik. Namun hal ini terbayar dengan suhu yang memang sebenarnya sudah cukup sejuk dan pelayanan yang memang standar-standar saja, sehingga pesawat telepon sebenarnya menyelamatkan para tamu dari interaksi lebih banyak kepada pihak hotel :). Banyak keluhan dari para turis (terutama mancanegara) mulai dari kebersihan, keramahan, hingga bahasa Inggris petugas hotel yang bikin geleng-geleng kepala. Hotel dengan kondisi lumayan baik dan pemandangan yang bagus rata-rata dimiliki WNA atau pasangan istri/suami lokal dengan istri/suami WNA dan biasanya dihuni oleh tamu WNA juga. Ambil contoh penginapan Jerman rasa Batak yang cukup populer di dunia maya ini : Tabo Cottages. Saya sudah beberapa kami mencoba menginap disini namun selalu gagal dengan alasan penuh. Mungkin belum rejeki. Bagi anda yang ingin riset lebih mendalam sebelum mengalami kejadian seperti kami, mungkin bisa baca-baca dulu disini untuk menambah wawasan dan ‘amunisi’ sebelum menempuh perjalanan.

001

Things to do in Samosir.

 

001 (2)

Ada baiknya reservasi jauh hari sebelum perjalanan.

Sudah cukup banyak petualangan yang kami alami hanya untuk dapat menikmati keindahan Danau Toba dan secercah udara segar. Tidak semuanya tidak menyenangkan. Here’s the fun part in pictures. I’ll let the pictures tell the tales :

13227320_10207745827176049_8313543472211308239_o

Bikin betah. Saya bisa duduk berjam-jam, menatap ke air lepas. Mendengar air berbisik dengan tenang.

 

IMG_20160506_134037

Sengaja tidak dibuat bagus dan mengkilap supaya memberikan efek senada dengan bangunan di belakangnya. Sama-sama tua dan semoga tetap menjadi objek wisata.

 

IMG_20160506_091209

Versi sedikit modern-nya juga ada.

 

IMG_20160506_134914

Kalau di barat punya cerita boneka kayu-nya papa Geppetto, di batak ada Sigale-gale, Ito.

 

IMG_20160506_090226

Makam raja Sidabutar di desa Ambarita, katanya sih sudah berusia lebih dari 460-an tahun, manusia pertama yang menginjakkan kaki di pulau Samosir. Punya kesaktian di rambut gimbalnya. Masuk ke lokasi makam, kita akan diberi ulos untuk dipakai selama melihat-lihat. Jangan lupa kembalikan sewaktu keluar.

 

IMG_20160506_090329

Suer! Guide-nya kocak bener!.

 

IMG_20160506_090241

Ludwig Ingwer Nommensen (06-02-1834 s.d. 23-05-1918), misionaris dari Jerman yang datang ke tanah batak sekitar tahun 1862 berhasil mengkristenkan raja ketiga (Solompoan Sidabutar). Berkat beliau-lah makam bersimbol ini berada di komplek ini.

 

IMG_20160506_141316

Gorga Boraspati (Bujonngir). Orang batak mesti bisa kayak cicak. Mudah adaptasi dan nempel di mana-mana. Dimana ada cicak, disitu ada orang batak. Empat p*y*d*r* itu maksudnya orang batak mesti  (tolong jangan ditukar urutannya) punya banyak anak dan istri yang subur (tomok), selain juga sayang sama mamak dan biniknya. Ukiran yang biasanya dipajang dirumah ini merupakan gambaran perlindungan dari bahaya. Gitu katanya.

 

IMG_20160506_134605

Monumen Tungtung

 

IMG_20160506_134535

Tungtung : kayu atau bambu yang ditabuh yang menghasilkan bunyi khas sebagai sinyal, kode atau penanda peristiwa.

 

IMG_20160506_090352

Makam tidak tertanam di dalam tanah seperti makam pada umumnya, melainkan berada di atas permukaan tanah.

 

IMG_20160506_134258

Rp. 80.000,00 / show (Sigale-gale). Bisa patungan beramai-ramai. Kalau hanya foto, sukarela (sumbangannya). Kalau gak tahu malu : bisa ngintip dari tirai penutup yang dipasang panitia sewaktu pertunjukan. Semoga tidak kepergok dan disuruh ikut patungan :).

 

IMG_20160506_090642

Mestinya lebih banyak lagi nih informasinya. Yang ini, lumayanlah.

 

IMG_20160506_134421

Batak punya sentimen tersendiri terhadap Batu dan Kayu. Kayu menjadi rumah.

 

IMG_20160506_141251

Batu menjadi makam.

 

IMG_20160506_141307

Gorga : seni ukir khas Batak. Biasa ada di Ruma (rumah). Yang ini disebut Gorga Singa-singa : wibawa atau karisma bagi pemilik rumah.

 

IMG_20160506_135415

Well.. Come and see for yourself how they speak English here.

 

13227768_10207745836136273_3513084102005025838_o

Never mind the misspell, they’re pretty much all over the place.

 

IMG_20160506_175311

Oopps. There’s another one.

 

IMG_20160506_175501

At least they tried.

 

IMG_20160506_180114

And I think they are getting better.

 

IMG_20160506_175739

This one’s only for locals.

 

IMG_20160507_105920

The white sandy beach. If you can call it so.

 

IMG_20160506_141148

Batu parsidangan, tempat rapat atau pertemuan raja dan para pemuka adat.

 

IMG_20160506_180421

Juga sebagai tempat mengadili perkara kejahatan.

 

IMG_20160506_181101

If found guilty : dengan mata tertutup ulos, tubuhnya diletakkan tertelungkup dengan bagian leher di cekungan batu pancungan. Algojo (Datu) dengan sekali tebas akan memisahkan kepala sang terhukum dari tubuhnya. Selanjutnya, kayu Tunggal Panaluan ditancapkan ke jantung orang itu. Jantung dan hatinya lalu dikeluarkan dan darahnya ditampung dalam cawan. Kedua organ manusia tersebut lantas dicincang lalu dimakan oleh raja dan semua orang yang hadir, dan darahnya diminum bersama. Adapun kepala sang terhukum dikubur di tempat yang jauh, dan badannya dibuang ke danau. OMG!.

Peringatan : kisah berikut entah benar entah tidak, yang pasti ini bagian dari warisan budaya di tanah Batak yang sempat saya peroleh dari beberapa sumber (terutama warga sekitar) sambil ‘cakap-cakap’. Kategorinya Parental Advisory : Explicit Content, mengandung kekerasan dan kekejaman luar biasa yang dibalut ritual budaya.

Ada beberapa versi dari ritual makan orang yang saya dengar. Salah satu versi pendek dan tidak kalah sadis bisa dilihat pada ‘caption‘ gambar di atas. Versi  yang lainnya :

Di Desa Siallagan terdapat seperangkat batu dan meja sebagai tempat persidangan yang dipakai oleh raja-raja Batak di Samosir, di antaranya Raja Sidabutar, Raja Siallagan dan Raja Sidauruk untuk menyidang warga yang melakukan kesalahan; baik ringan maupun berat. Perkampungan ini dikelilingi tembok batu yang berfungsi selain sebagai pembatas, juga untuk melindungi warganya dari hewan liar atau binatang buas.

Kesalahan yang bisa dianggap ringan seperti mencuri kambing, lembu, kerbau, jagung, atau ayam biasanya dikenakan hukuman mengganti kerugian 5 kali lipat dari hewan/hasil panen yang dicuri atau kerja sosial tanpa upah.

Untuk kejahatan berat seperti membunuh, memperkosa, menjadi mata-mata, penghianat atau penjahat perang dan musuh bebuyutan di Medan perang, raja akan memanggil para pemuka adat dan menggelar sidang dengan memanggil tetua kampung, dukun, pangulubalang dan keluarga pelaku. Selama menunggu masa penjatuhan hukuman, yang biasanya adalah pemancungan, si pelaku akan menjalani masa pemasungan dan dijaga ketat oleh pangulubalang.

IMG_20160506_180632

TKP pemasungan.

Penjahat yang diyakini memiliki ‘kesaktian’ akan menjalani ritual pelepasan kekuatan berupa jampi-jampi dari dukun. Sang algojo juga memiliki resiko pekerjaan yang amat sangat besar karena jika gagal memancung dengan satu kali tebas, maka sang algojo-lah yang akan dipancung berikutnya.

Setelah eksekusi, kepala si penjahat akan digantung 3 hari di pintu masuk dengan maksud agar wajah tersebut bisa dikenali sekaligus menjadi ‘penjera’ bagi calon penjahat, pengingat konsekuensi dari kegiatan kriminal pada masa itu. Tubuhnya akan dipersembahkan kepada Danau Toba. Menurut kisahnya, untuk menghindari pengaruh ilmu hitam milik si penjahat, selama 7 hari masyarakat tidak diperbolehkan mandi atau menggunakan air danau toba.

Versi berikutnya, sebelum di pancung maka tubuh akan di iris-iris di bagian lengan dengan pisau kecil dan disiram dengan perasan air limau. Jeritan kesakitan sang penjahat dianggap sebagai proses keluar/hilang-nya kesaktian. Selanjutnya penjahat tersebut akan dibelah hidup-hidup dengan iringan sorak-sorai masyarakat yang menyaksikan, isi perutnya diambil dan dibagikan untuk segera dimakan. Dengan tubuh yang isinya sudah terburai, lalu dipapah ke batu pancungan. Kepala  dan daging penjahat akan dimasak dengan daging kerbau dan dihidangkan di meja eksekusi untuk dikonsumsi oleh raja. Darahnya digunakan sebagai pencuci mulut dan tulang-belulangnya dibuang ke danau toba.

Dari seluruh kisah yang berhasil dihimpun, tak satupun menyebut apa yang dilakukan terhadap otak si penjahat. Jatahnya Hannibal Lecter mungkin.

IMG_20160506_181135

Don’t worry. Those weapons are not real. These are just replicas. Ritual makan orang ini masih dilakukan sampai awal abad ke-19.

 

13220522_10207745836216275_4748276698487644579_o

More stone chairs

 

IMG_20160506_180219

Deretan rumah tradisional batak, ada delapan!

 

IMG_20160506_134217

Tangga yang berada di bagian depan rumah memiliki jumlah anak tangga yang ganjil. Saat memasuki rumah ini, kita akan dipaksa menunduk karena pintu rumahnya yang pendek yang sengaja dibuat agar tamu menunduk sehingga secara filosofis mereka dianggap menghargai pemiliki rumah.

 

IMG_20160506_134930

Rumah Bolon : dihuni 4-6 keluarga yang hidup bersama

 

IMG_20160506_135519

Batak Museum Tomok

 

IMG_20160506_175338

Di Samosir, ada sebuah pengambilan sumpah dengan menghadirkan seekor kodok yang harus diremukkan (bojak sirangrang… [bagaikan kodok yang diremukkan ini, begitulah saya…, dan seterusnya]). Kadang kodok ini dihiasi dengan bunga (asa jumorbut), supaya tampak lebih mengerikan.

 

IMG_20160506_180322

Dulunya pohon ini disebut Hau Hangoluan (Pohon Kehidupan) lalu diubah namanya menjadi Pohon Hau Habonaran (Pohon Keadilan atau Kebenaran). Dinamakan dengan demikian mungkin karena dibawahnya terdapat Batu Kursi Parsidangan. Dulunya para pemuka adat memberikan sesajen untuk pohon tersebut karena dipercaya akan memberikan berkah bagi penduduk huta Siallagan.

 

IMG_20160506_180822

Rumah melulu. Banyak raja Batak disini, saya coba nyari ‘istana’-nya tapi belum ketemu.

Oh iya, happy ending dari skandal perhotelan kami terjadi berkat Kevin, operator Airbnb di California yang responsif membantu sebisanya, sekuat tenaga baik by phone maupun via email. Uang saya kembali plus bonus kurs yang masih fluktuatif, dari pembayaran sebesar USD 84 Rp. 1.118.779,20  uang saya dikembalikan sebesar Rp. 1.128.102,36 Yay! total keuntungan Rp. 9.323,16 dari selisih kurs ditambah lagi bonus voucher USD 50 yang dapat digunakan hingga setahun ke depan. Can’t wait for the next holiday.

Sebagai penutup, berikut hal-hal yang indah yang bisa dibagikan :

IMG_20160507_134924

 

IMG_20160507_115637

And you still get the best view.

 

IMG_20160507_220725

For the road trip.