Mengurus Diri, Sudahkah?
Tuesday, September 8, 2009
Belakangan saya banyak memperhatikan gejala-gejala pergeseran (atau mungkin lebih tepat dikatakan perubahan?) pola hidup manusia umumnya, disekitar saya khususnya. Dari kemampuan mengurus diri sendiri (secara umum) ke ‘fokus’ ke kemampuan menghasilkan alat dengan bantuan teknologi atau uang sebanyak-banyaknya untuk nantinya digunakan membayar orang lain atau membeli alat guna mengurus dirinya sendiri.
Urus mengurus yang saya maksud disini adalah benar-benar dalam hal ‘basic instinct’ yang primitif, mulai dari kemampuan menyediakan makanan sendiri, bepergian-mengantarkan diri sendiri ke tempat tujuan, mencuci baju, membersihkan rumah, menyetrika pakaian, hingga hal yang menurut saya pribadi adalah tidak seharusnya diwakilkan kepada orang lain, yaitu mengurus anak sendiri atau anggota keluarga yang lainnya. Itu masih yang bersifat jasmaniah, belum lagi aspek rohaniah-mental-spiritual yang kalau mau lebih panjang lagi dibeberkan disini, lalu disangkut pautkan dengan kodrat yang entah siapa yang menetapkan dan entah siapa juga yang menerapkan, maka semakin kusutlah fokus tulisan ini.
Banyak orang berkilah dibalik minimnya waktu untuk melakukan semuanya sendiri, hingga akhirnya terbawa arus dan menyerah pada ‘mekanisme pasar’ yang berujung pada dimungkinkannya untuk men-delegasikan hampir semua urusan-urusan, mulai dari yang paling remeh hingga yang (kembali lagi menurut pendapat saya pribadi) adalah seharusnya dilakukan ybs sendiri. Maka tidak heran kalau bayi-bayi sekarang ini tumbuh besar dalam dekapan baby sitter yang nota bene pendidikannya biasanya pas-pasan dan menyerahkan diri untuk dipekerjakan dengan bayaran seadanya oleh majikan, dengan anak yang disokong secara financial oleh ayah ibu biologisnya yang mensuplai segala kebutuhan fisik-jasmaniah berupa susu formula sebagai pengganti ASI yang entah secara sadar atau tidak dimaklumi sebagai situasi dan kondisi yang tidak terelakkan lagi, makanan dalam kemasan yang nantinya disuapkan kedalam mulut-mulut kecil menggemaskan yang tidak berdosa itu oleh sang kakak-asuh yang diharapkan dengan tingkat Intelegensia dan latar belakang pendidikan yang apa adanya, tanpa disadari mendapat kehormatan meletakkan batu pertama fondasi pendidikan sang anak, untuk selanjutnya menyerahkan tongkat estafet ke playgroup, sekolah Internasional bagi yang mampu, dan seterusnya hingga kuliah dan bekerja lalu terbentuklah sang anak menjadi manusia dengan karakter yang dibangun dari hasil comot sana comot sini, minim peran orang tua biologis, semuanya dikawal penuh, diawasi dan diawali degup jantung sang baby sitter, What an Irony..
Silahkan ajukan pertanyaan-pertanyaan berikut ini kepada diri anda sendiri dan mohon jawab dengan jujur dan berkesadaran penuh serta renungkan, sudahkah anda mengurus diri anda sendiri? atau anda hanya bisa menghasilkan uang atau menggunakan alat sebagai penutup dari lubang ketidakmampuan (atau ketidakmauan) ini?
- Kapan terakhir kali anda merapikan tempat tidur sendiri?
- Sarapan pagi sebagai ‘the best meal of the day’, siapa yang menyiapkannya?
- Pergi Sekolah, Kuliah, Bekerja. Diantar? Pergi sendiri? Pakai supir?
- Pakaian yang anda kenakan, siapa yang mencucinya setiap hari?
- Piring dan meja yang anda gunakan untuk makan? siapa yang membersihkannya?
- Suami / Istri anda, siapa yang melayaninya makan? menemaninya melewati waktunya?
- Anak anda, siapa yang membesarkannya?
Masing-masing orang menerapkan standar kemandiriannya masing-masing. Mana urusan yang bisa diserahkan kepada alat-perangkat atau orang lain, mana yang akan dilakukan sendiri hingga mungkin bisa saja menurut anda yang anda lakukan sekarang adalah wajar mengingat ritme hidup masa kini yang memang sulit untuk tidak diikuti. Satu hal yang perlu anda sadari adalah ambang batas kewajaran semakin hari semakin tergerus dan kabur digilas roda jaman yang edan ini. Memiliki pekerjaan sebagai sumber penghasilan sekaligus keluarga sebagai tempat bernaung memang cukup membuat tangan menjadi penuh hingga hal-hal yang dulunya dianggap kodrat-wajar untuk dilakukan sendiri pun mendapat pembenaran untuk dilakukan oleh orang lain berimbal sejumput rupiah, yang diiringi anggukan massal jutaan orang lainnya dengan kondisi yang sama pula. Berjamaah.
Tidak sedikit orang yang sebenarnya memiliki kemampuan dan kesempatan untuk mengurus dirinya sendiri, luar dalam. Namun situasi yang sudah begitu ‘nyaman’ menyebabkan lupa diri dan hanyut dalam arus kemampuan untuk ‘ membeli’ fasilitas pengurusan diri pribadi. Sehingga berangsur-angsur fungsi diri sebagai pengurus pribadi berganti menjadi mesin pencari uang atau penemu teknologi untuk melaksanakan rutinitas hidup sehari-hari.
Saya jadi ingat kepada ular, yang menurut sebagian pendapat dulunya adalah makhluk berkaki yang berjalan, namun dikarenakan kemalasannya menggunakan kaki, perlahan bentuk tubuhnya berevolusi mengikuti kebiasaan sehari-hari yang lebih suka menggunakan otot perutnya untuk berpindah tempat dan bergerak, setelah beberapa generasi kaki ular bahkan tidak terlihat lagi, menyisakan tulang yang mirip dengan tulang ekor pada manusia yang juga dulu katanya ada kemungkinan memiliki ekor. Begitu juga ayam, yang jejak historis berupa sepasang sayap untuk terbang masih terbawa hingga kini, namun kemampuan untuk mengangkasa jauh berkurang drastis, masih menurut riwayat yang sama adalah imbas dari rasa malas yang tertutupi ketersediaan makanan di darat, dan rasa cukup hingga pemicu utama usaha untuk mengepakkan sayap ke udara pun seolah tak kunjung memotivasi diri untuk menempuh segala susah payah mengayuh di udara.
Hal yang mirip juga tergambar dengan sangat apik pada film garapan Pixar Animation Studios : Wall E yang dengan sangat rapi me-reka-reka kira-kira akan seperti apa kelanjutan hidup ras manusia jika kebiasaan-kebiasaan ‘kurang baik’ ini diteruskan dengan iringan kemajuan teknologi yang melesat cepat. Bahkan kisah seolah-olah berputar pada masalah robot dan teknologi, dengan bumbu asmara. Bukan tentang manusia lagi. Silahkan saksikan apa yang terjadi pada ras bernama manusia pada masa dimana teknologi sudah begitu maju, sangat maju hingga yang tertinggal hanyalah puing yang bernama bumi, dan makhluk bernama manusia. Tanpa ada maksud menggeneralisir, saya tidak sedang berbicara tentang sekelumit minoritas atau kebanyakan mayoritas, hanya sebagian, dan itu saja. Tidak usah dibahas apakah anda termasuk didalamnya atau tidak, karena ini hanya tulisan, dan hanya tulisan.
Wednesday, September 16, 2009 at 7:37 AM
tulisan yang provokatif;) dari semua potensi yang manusia miliki, potensi apa yang kira-kira tengah berevolusi menuju mandul?
Friday, May 7, 2010 at 5:02 PM
Jadi, apa benar ada sebagian orang kehilangan kemampuan berpikir juga karena kemalasannya? Kalau ya, tentu hewan-hewan akan protes pada Tuhan karena memberikan teknologi super canggih gak pake acara seleksi apakah ada gunanya diberikan pada sebagian orang atau tidak.