Ospek Oh Ospek
Tuesday, August 18, 2009
Senior : “KENAPA KAMU TERLAMBAT!”
Junior : “kan cuma satu menit kak!”
Senior : “SATU MENIT JUGA NAMANYA TERLAMBAAAT!!”
Senior lagi : “KAMU MEMBANTAH! JONGKOK! PUSH UP! LARII! MASUK COMBERAN! MERANGKAKAAAAKK!!”
Ilustrasi diatas hanya dialog imajiner yang didasarkan pada kejadian sebenarnya yang barusan saya saksikan dengan mata kepala saya sendiri tadi pagi, pagi subuh, benar-benar pagi dan subuh (ditandai dengan masih gelapnya suasana sekitar, segarnya udara dan sedikitnya orang yang lalu lalang di jalanan, plus saya yang belum mandi). TKP-nya di kampus, salah satu kampus terbesar di kota ketiga terbesar di negara ini. Korbannya banyak sekali mahasiswa-mahasiswi baru yang sebahagian masih benar-benar lugu, dan pelakunya (ini yang seru) seniornya sendiri yang secara postur tubuh terkadang menggelikan membayangkan hal seperti ini bisa terjadi antara orang yang secara fisik lebih kecil kepada orang yang secara fisik lebih mungkin untuk melawan daripada hanya menurut laksana kerbau yang dicucuk hidungnya.
Saya juga ‘jebolan’ orientasi model begitu dan hingga kini saya masih belum mengerti esensi dari perlakuan mereka yang sangat semi militeris kepada saya (yang syukurnya tidak saya teruskan kepada junior-junior saya. Sedikit usaha memutus mata rantai kekejaman mental bermoduskan senioritas yang sepertinya belum terlalu berhasil).
‘Menghancurkan’ mental anak-anak baru tamat yang akan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi sepertinya remeh dan menyenangkan bagi senior yang melakukan. Gerbang dunia akademis yang katanya bergelimang pendidikan itu ternyata anak tangganya di huni oleh senior-senior yang galak-galak di awal yang katanya perlu berlaku demikian demi keakraban dan membangun tali silaturrahmi antar senior – junior, selain untuk kembali ‘membangun’ mental-mental junior yang telah mereka hancurkan, injak-injak, dan maki-maki sesuka hati pada acara keakraban berupa malam api unggun atau inaugurasi, hanya dengan sesi pembalasan (kalaupun ada) atau acara jabat tangan yang diharapkan menghapus semuanya, semua ‘jarak’ yang sudah mereka bangun sendiri, benar-benar sandiwara dadakan yang sebenar-benar dadakan. Membentuknya sesuai dengan doktrin kebenaran dan kebaikan versi mereka sendiri. Kalau mau mengakrabkan diri kenapa membentak-bentak? Kalau untuk adaptasi kenapa teriak-teriak? Kalau ingin serasi kenapa memaki-maki? Kalau ingin mengajari kenapa acungkan itu telunjuk punya jari? Saya jadi bingung sendiri.
Sekiranya saya diberi wewenang untuk merumuskan apa yang akan dilakukan dalam rangka menghapus ‘gap’ junior-senior ini, berikut yang akan saya lakukan :
#. Cari senior berperilaku paling terpuji dengan tutur kata paling berani dan dengan tampang paling tidak bikin ngeri untuk meladeni pertanyaan para ‘santri-santri’ yang haus akan informasi seputar kampus tercintanya ini. Termasuk masalah-masalah teknis pengisian KRS atau apapun yang bersifat baru bagi mereka.
#. Satu grup beranggotakan sekitar 10-15 orang akan dibawa keliling tour seputar kampus dengan satu orang senior berpengetahuan memadai sebagai guide sembari memperkenalkan sejarah kampus, masa lalu yang kelam maupun yang tidak, yang boleh dilakukan dan jangan dilakukan, dimana tempat buang air kecil yang lebih nyaman selain toilet bau pesing atau pohon yang ada disamping, kemana harus cari ‘pendamping’ selain senior bertampang ‘genting’ yang tak henti-hentinya mencoba gahar sambil tebar pesona yang alakadarnya itu.
#. Untuk sesi ‘Non Teknis’ akan dipimpin oleh senior yang punya kemampuan ‘lebih’ daripada yang lain. Kemampuan ini begitu menakjubkan hingga sampai saat ini telah berhasil meloloskan banyak sarjana-sarjana dengan otak kosong dan moral melompong namun tetap bisa sukses berhasil membawa pulang Ijazah. ‘Skill’ non teknis ini antara lain :
- Kemampuan melakukan pendekatan personal kepada pihak yang berwenang. Melakukan bujukan-bujukan untuk memuluskan keinginan.
- Tips-tips yang bisa diterapkan kepada karyawan di jurusan untuk ‘mencuci’ absensi, berapa harga yang ditawarkan, kapan menawarkannya, dan bagaimana melakukan negosiasi.
- Berapa nominal yang realistis disodorkan kepada dosen untuk mendapatkan nilai tertentu, sehalus mungkin hingga beliau tidak tersinggung dan terkesan ini serupa penyuapan kelas ikan teri yang masih bisa ditangkal idealisme, sekaligus tidak merusak pasar dengan harga yang terlalu tinggi.
- Apa yang dilakukan untuk ‘menggiring’ dosen mengungkapkan apa yang diinginkannya sehingga mahasiswa bisa berhemat waktu menyusun skripsi dikala akan selesai nanti.
Dan bermacam ragam tips and tricks guna menyiasati dunia pendidikan yang semakin tidak mampu mengenali mana orang pintar yang sebenarnya dan mana orang yang ahli manipulasi.
Wahai kakak-kakak senior, tidakkah kalian ingin menyambut adik-adik kelas kalian ini dengan senyum selamat datang yang mencerahkan hari-hari yang memang semakin tidak gampang bagi mereka? tidakkah kalian ingin membantu mereka menapaki tebing perkuliahan ini dengan membimbing mereka ke arah kebaikan setulus hati? atau semua ini hanya sesuatu yang klise yang lebih ‘asik’ untuk ditertawakan, diinjak-injak hingga akhirnya yang paling baik adalah yang terjadi saat itu dan yang paling benar adalah yang paling tidak sukar?
Sedikit ulasan tentang dunia perkuliahan di Indonesia saat ini, benar-benar bikin mulas! Oh.. maafkan saya yang menggeneralisir, mungkin tidak semua, mudah-mudahan masih ada yang tidak bersemangat Industrialis, transaksi perdagangan yang berselimutkan pendidikan, jual beli dengan harga yang disepakati demi selembar Ijazah sebagai komoditi. Kamuflase yang sungguh hebat!
Kalau diawal sudah se-traumatis ini, kisah selanjutnya ya silahkan anda teruskan sendiri. Mungkin anda sudah mengalami layaknya saya, yang harus bermanuver laksana jet tempur, meliuk-liuk kesana kemari menghadapi pergaulan sosial-akademis yang tidak gampang di dunia perkuliahan, terutama bagi mahasiswa berkantong cekak berkendaraan angkot yang punya cita-cita setinggi langit. Hanya bagian dari minoritas yang punya prioritas..