KORINE CONCEPTION

Friday, August 7, 2009

Kali ini tentang musik. Musik adalah masalah selera. Ditengah semakin meningkatnya kuantitas pemusik di Indonesia yang semakin populer dan ‘seragam’ ini. Diantara hujanan acara musik di televisi yang tumpah ruah memuakkan itu, kualitas menjadi barang langka. Tentu saja kualitas yang kita bicarakan disini adalah kualitas musik dari sudut pandang subjektif saya pribadi. Mungkin banyak yang mengangguk, tidak juga sedikit yang menggeleng. Tapi tidak melulu, jika jeli melihat dan memilah, musik-musik dengan originalitas ide dan kreativitas tinggi masih sering terselip di antara riuh gempitanya dunia entertainment yang menginvasi darah seni pemusik-pemusik yang silau akan popularitas.

Melalui seorang teman, saya ‘dipandu’ menuju oasis yang terasa begitu menyegarkan ditengah gersangnya musik-musik di negara ini. Setelah sekian lama berkiblat ke luar Indonesia untuk urusan nada-nada penghibur telinga penenang jiwa ini. Setelah betah berlama-lama bertemankan Coldplay, Rahiohead, Travis, Royksopp, King of Convenience, Cranberries, Embrace, REM, Mew dan sederet daftar yang kalau saya teruskan hanya akan menambah panjang postingan saya. Kiranya saya bersua Korine Conception. Salah satu band lokal asal Medan yang ternyata setelah saya telusuri, komunitas mereka tidak bisa dikatakan kecil. Mengusung lajur Indie yang sekali- sekali mencuat ke permukaan memang sedari dulu adalah label yang rekat kepada mereka yang sedikit menelikung dari jalur orang kebanyakan. Anak-anak muda berbakat yang bahkan saya tidak kenal orangnya ini telah bersedia meneduhkan dahaga saya akan suara-suara berkualitas dan ‘berisi’. Mereka-mereka ini ibarat api dalam sekam yang tak akan pernah padam. Bergerilya di semak belukar blantika musik yang seolah-olah dipayungi major label yang hanya akan menaungi mereka-mereka yang banyak pendengarnya, tidak masalah konten, yang penting menjual dan menuai deretan angka yang membelalakkan mata. Kualitas bagi sekelumit orang semakin dirindu namun terlupakan bagi sebagian yang lainnya, yang mendewakan popularitas. Sialnya lagi jumlah mereka sepertinya makin hari makin membesar, makin menjengahkan. Wabah ‘Jual Apapun Yang Laku’ sudah menjadi pandemi di negara ini hingga tidak jelas siapa pelopor siapa pengekor. Lagu-lagu sepanjang masa sudah hampir tidak ada yang mencipta. Hits satu kali untuk seumur hidup seringkali membubarkan band-band atau penyanyi yang melejit secepat kilat dan menghilang begitu saja di ketinggian. Tak pernah bisa bertahan, dengan gampangnya terlupakan. Kehilangan idekah? atau kehabisan bahan jualan? Terkadang saya bertanya dalam hati adakah mereka-mereka itu masih menikmati apa yang sedang dilakukannya? Mengulang-ulang lagu yang sama beratus-ratus kali, di 30 kota, di hampir setiap stasiun televisi, di radio-radio, di mana-mana. Tidak heran nada-nada ‘easy listening’ yang miskin kualitas itu (masih menurut saya)  hilang begitu saja setelah digaungkan berkali-kali, ditelan suara dari mesin uang milik Industri musik yang arusnya akan meninggalkan siapa saja yang sudah tidak terkenal.

Saya yakin, hanya yang benar-benar bagus dan menimbulkan ‘trauma yang indah’ yang akan bertahan.

Sesuatu yang lahir dari hati tentunya sampai ke hati juga. Sesuatu yang didendangkan di bibir hanya singgah di telinga.

Menurut anda?

Advertisement

4 Responses to “KORINE CONCEPTION”

  1. lukfi (H>O>F) Says:

    tulisan yang brilian…tulisan ini saya rasa sudah mewakili seluruh unek2 saya,tentang permusikan di indonesia semoga menjadi pencerahan bagi orang2 yang cuma haus akan ketenaran,dan menjadi penyemangat bagi pencinta musik2 indie di indonesia..owkwowkowkwokw..saran: bang bagus abang jadi wartawan aja bank g usah kerja di bank..hauhauhauahuauaua

  2. fmaros Says:

    Urusan musik bisa berkualitas kalau urusan kebutuhan dasar yang didasari perut sejengkal selesai diburu. Lihat saja, siapa pendengar musik mayoritas…orang-orang yang kecapean sehabis kerja rodi dan membeli CD bajakan. Makanya kalo punya uang lebih (bukan lebih yang subjektif lho!) permudah aja urusan orang-orang yang masih berkutat pada masalah makan.

  3. Fandi Says:

    Terima kasih atas segala atensinya. Cheers.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.