The Door That Seems To Be Opening Up
Monday, August 3, 2009
Sepertinya pintu dunia maya perlahan-lahan membuka dan mempersilahkanku segera masuk kedalamnya. Sementara pada waktu yang bersamaan mengancam fokus dan karirku di dunia nyata. Just for the record, I didn’t really mean ‘mengancam fokus dan karirku di dunia nyata’ in a real serious/boring way. Hanya permainan kata-kata.
Bermula dari niat bertahun-tahun, berpuluh-puluh tahun yang lalu bahkan (thanks to dear Dad that instigated), untuk memiliki wadah menulis yang entah siapa pembacanya, hanya oret-oretan, seringkali bertema buram, OOT, tak terstruktur, tanpa kerangka, hanya kata-kata, boleh dikatakan therapy centre for the unstopable mind of mine, sedikit mendomestifikasi pemikiran yang luntang-lantung di kepala, melelahkan tapi tanpa keringat, kata-kata yang berseliweran bisa jadi akhirnya menemukan salurannya, setelah selama ini sedikit-sedikit merembes dan terbisikkan di bibir, buah dari ketidakmampuan benak ini mengakomodasi ‘homunculus’ yang sepertinya tidak pernah lelah memantikkan pemikiran ke kepala ini, membuatnya berbinar-binar, gegap gempita dibalik ketenangan yang terlihat seakan mencerminkan kekosongan, bahkan ketika tidur sekalipun, terkadang bahkan sulit membedakan mana kenyataan, mana ‘hampir’ kenyataan.
My dad used to write everything, and he never taught me to, but I learned well from him, so damn well that thanks would never be enough to express how grateful I am of him.
Lanjut..
Seringnya melihat ayah yang selalu menuliskan segala sesuatu, tak peduli media, secarik kertas, dibelakang bon belanjaan, bahkan di ‘udara’ sekalipun membuatku selalu tertarik untuk selalu ‘membaca’, membaca dan membaca lagi. It’s always fascinating to go back in time and membayangkan Ayah yang sedang menulis di udara dengan jari telunjuk kanan dan sisa jari dikepal, lalu aku akan segera mengekor gerakan ayah dengan bola mata dan mencoba membaca apa yang ditulisnya.
Terbetiklah niat untuk ketika mampu akan menulis juga, seperti Ayah, walaupun pada waktu itu tak sepenuhnya menyadari mengapa Ayah melakukan itu, namun sekarang semuanya bertambah jelas, seribu satu hal bisa dijadikan motif, bahkan aku tak memerlukan alasan lagi untuk menulis, atau membaca. Aku hanya suka menulis dan senang membaca. Maka aku menulis, dan ini salah satu tulisanku, yang acak dan membingungkan seperti biasanya.
Kesibukan menjalani hidup sehari-hari ‘menunda’ niatku. Sekolah, sekolah lagi, mengaji, kursus, bermain dan segala hal indah masa tumbuh kembang menjadi manusia mengalihkan pikiranku dari menulis, namun bara masih tersimpan.
Kuliah, ketika dunia serasa semakin keras, penuh tuntutan dan membosankan, namun pertemanan semakin meluas berdasarkan azas ‘kebutuhan’. Waktu senggang kumanfaatkan untuk menulis, bahkan waktu yang bukan senggang terkadang juga kumanfaatkan untuk menulis, lalu robek, atau bakar, atau buang. Dan yang tersisa hanya sesungging senyum.
Sadarkah engkau wahai teman, bahwa sedari tadi tulisanku ini mengaburkan antara membaca dan menulis, semata karena membaca dan menulis itu adalah satu koin dengan dua sisi, bosan dengan bacaan aku akan menulis, istirahat menulis aku akan membaca.
Masa kini..
Beberapa bulan yang lalu aku memberanikan diri membuka sedikit pipa kecil penghasilan ini untuk membeli sepotong rangkaian mekanis yang bisa membantuku menyalurkan keinginan untuk menulis, lalu tak lama kemudian disusul dengan konektivitas dengan harga yang cukup menyesakkan penghasilan yang kalau ditinjau secara realistis, aku berspekulasi dengan penghasilanku, bukan untuk menambah penghasilan, tapi semata kepuasan yang notabene memperbesar pipa pengeluaran.
Big Leap! Thank God I Can Afford It, walau tersengal, and I’m just warming up..
Sunday, August 23, 2009 at 4:43 PM
Cara bertutur yang sangat ‘riuh’ sarat permenungan, terima kasih atas inspirasinya… senang bisa mengenal Fadlunm dan terima kasih sudah cross link blog saya. Saya juga ijin pajang blog Fadlunm di tempat saya ya,
nuwuun
Thursday, August 27, 2009 at 5:27 AM
Saya tertawa baca tulisan acak ini. Hmm..tak disangka kita melakukan hal serupa, dasar kutukan genetis!
Saya awalnya mengira si penulis adalah manusia otak kiri yang kalau bicara kelihatan sistematis dan realistis, ternyata itu karena imajinasinya cuma terasa selintas ketika dia mencibir saya. Sialan lo!