Do You Keep Spare Keys?

Tuesday, July 28, 2009

Menyimpan kunci-kunci cadangan mirip dengan asuransi, minus premi tentunya. Taruhan yang bahkan kita tidak pernah ingin menang (normally), namun selalu menyiapkan ‘modal’ untuk menang, walaupun sedikit tidak menyenangkan namun selalu menyempatkan diri untuk paling tidak sedikit saja bertaruh. Bukan untuk melipatgandakan keuntungan, melainkan meminimalisir kerugian.

Taruhan dengan kunci cadangan, kalau anda menang maka kunci cadangan masih bisa digunakan, yang berarti kunci anda hilang, tertinggal atau tidak ditemukan. Taruhan anda menjadi ada artinya, namun kalau anda kalah justru anda tidak akan merasakan apa-apa karena dunia anda sama sekali tidak terganggu.

Taruhan dengan asuransi justru lebih ‘dahsyat’ lagi, melibatkan pihak ketiga sebagai ‘bandar’ yang akan membayar segala kerugian jika sekiranya anda menang taruhan. Asuransi Jiwa, menang taruhan berarti jiwa anda melayang dan ada pihak yang memetik keuntungan, dan pihak itu yang pasti adalah bukan anda, karena anda adalah pihak yang menang, dan pihak yang menang, bukanlah pihak ‘hidup’ yang menerima keuntungan.

Asuransi kesehatan, taruhannya ya kesehatan anda, anda sakit, sesuai dengan pasal-pasal yang tercantum pada premi, maka anda berhak mendapat ganti-rugi, sekali lagi Ganti – Rugi. “Anda Rugi? Kami Ganti! Kalau Tidak Rugi, Bayar Premi! ” (kalau suatu saat Tuhan bermurah rejeki kepada saya dan mengijinkan saya memiliki perusahaan asuransi sendiri, maka kata-kata inilah yang akan menjadi semboyannya :) . Jangan lupa kalau penggantian hanya dilakukan kalau anda rugi dan kerugian anda sesuai dengan kriteria yang dicantumkan pada polis, biasanya tercantum pada halaman belakang dengan huruf yang super kecil, tidak lupa pula tanda * sebagai pertanda kalau syarat dan ketentuan berlaku.

Dan bermacam jenis asuransi yang lain yang kalau saya beberkan disini akan menambah kesan betapa skeptis jiwa penulis yang terkadang bahkan sudah memasuki stadium akhir ini.

Asuransi, kunci atau apapun itu yang sifatnya adalah cadangan, tentunya dipersiapkan dengan harapan tidak akan pernah digunakan di masa depan, bukan begitu? begitunya begini:

Beberapa hari yang lalu, saya ‘hampir’ menang taruhan, taruhan dengan kunci cadangan, walaupun bukan kunci cadangan saya. Begini kisah selengkapnya :

Rutinitas yang mati-matian demi hidup ini ditolak sebagai membosankan dimulai seperti biasanya, bangun tidur, sholat, olahraga sedikit, mandi, tersenyum, blabla.. sementara sang istri tercinta mengiringi dengan menyiapkan segala sesuatu hal, sarapan, bekal makan siang, etc.

Tiba di tempat parkir, segalanya masih normal, prosedur dilakukan dengan amat sangat standar, parkir, mengaitkan helm di jok, mengambil kunci sepeda motor dan menusukkannya ke kantong jaket, lalu menuju pabrik dan mulai menggadaikan waktu sehari kerja demi beberapa digit rupiah.

Sore hari, the excitement began, kantong jaket yang selama sebulan penuh melaksanakan tugasnya dengan amat sangat baik, mulai mencoreng keraguan pada jalur karirnya sendiri. Lelah meraba-raba namun kunci sepeda motor tak kunjung tertangkap telapak tangan yang mulai bergetar akan kegugupan, kejadian yang hampir tidak pernah terjadi sebelumnya, seumur hidup, kunci sepeda motor tak ditemukan!

Keadaan ini menggelikan, senyum ketir tersungging.  Serasa tak percaya akan situasi, usaha pencarian terus dilakukan, dipabrik, diparkir, di sepanjang rute pabrik-parkiran-pabrik-parkiran kembali dan terjadilah percakapan dengan petugas parkir yang kebetulan sedang merapikan posisi parkir sepeda motor yang jumlahnya mencapai ratusan dengan cara ‘menyeret-nyeretnya’ sekasar mungkin, dengan raut datar yang menyiratkan kebencian yang memancarkan ketidakbahagiaan yang mendalam. (kita sebut saja TP I = Tukang Parkir 1):

Saya : “Bang, ada ketemu kunci sepeda motor saya?”

TP I : “Motornya yang mana?”

Saya lagi : “Ini yang sedang saya raba-raba ini, mungkin tertinggal di jok waktu nyimpen helm.”

TP I : “Sebentar yah, saya tanya teman saya dulu..”

Si tukang parkir kembali dengan temannya yang sepertinya lebih senior dan dengan seragam yang resmi pula, lupa saya sebutkan lebih awal bahwa si TP I masih mengenakan seragam magang Internasional. Kalau ada di antara anda yang menebak bahwa seragamnya adalah setelan kemeja putih dan celana panjang hitam, mungkin anda bisa mencoba peruntungan dengan menebak siapa presiden Indonesia setelah SBY, tuliskan pada secarik kertas, masukkan kotak logam tertutup, segel di depan notaris, pihak kepolisian dan lurah setempat untuk nanti kita buka sama-sama setelah SBY pensiun, jangan lupa undang media nasional buat liputan ala infotainment investigasi yang seru dan naratornya jangan lupa untuk menggunakan intonasi yang mirip Tukul Arwana ketika menirukan dirinya.

Maaf saya ngelantur, kembali ke topik semula..

Si TP I kembali dengan temannya yang berseragam resmi, si TP II lengkap dengan topi dan warna orange dimana-mana di seluruh tubuhnya, atas ke bawah, bawah ke atas.

TP II : “Ada apa pak?”

Saya : “Kunci motor saya hilang, sampean ada nemu?”

TP II mengeluarkan segepok kunci-kunci sepeda motor dari saku celananya dan menunjukkannya kepada saya, hati saya sempat berdebar, mungkin diantara tumpukan terdapat kunci motor saya (motor mertua saya maksudnya), namun berulang kali saya teliti, kunci saya tidak ada di situ! another dead end.

Saya : “Kalian ganti shift jam berapa? saya parkir tadi jam 8 pagi”

TP II : “Jam 3 sore pak, tapi kalau ada kunci tertinggal atau tercecer pasti diserahkan sama petugas shift sebelumnya”

Saya : “Kunci saya tidak ada, berarti petugas pagi tidak ada yang nemuin?”

TP II : “Begitulah pak, coba dicari lagi, siapa tahu jatuh di dalam”

Saya : “Makasih Mas, saya cari dulu..”

Pencarian berlanjut, ke pabrik kembali, bertemu security datar tanpa ekspresi yang dalam hati saya yakin sudah tak sabar ingin menutup pabrik dan segera pulang bertemu sanak keluarga, beberapa jengkal darinya berdiri seorang Office Boy yang bersimpati. Peluh mengalir namun sedikit lega menyeruak, sepertinya saya menemukan sekutu untuk mencari, minimal membesarkan semangat mengetahui kalau dari dua orang yang kepulangannya terhambat gara-gara saya kehilangan kunci, salah satunya (mungkin) ikhlas.

OB : “Pak, sudah ketemu?”

Saya : “Belum, waktu pertama buka kantor tadi liat saya pegang-pegang kunci gak?”.

OB : “Gak Pak..”

Saya : “Ya sudah, sebentar saya cari dulu yah..”

Security yang dengan sangat dimaklumi tingkah lakunya itu tetap diam membisu berharap saya segera berputus asa dan mengakhiri pencarian agar pabrik bisa segera ditutup dan besok bisa ketemu dengan saya lagi dengan masalah yang sudah terselesaikan, entah bagaimana caranya.

Singkat kata, tanpa berpanjang-panjang dan berlebar-lebar, kasihan ibu-ibu kalau kepanjangan dan kasihan bapak-bapak kalau terlalu lebar (meminjam guyonan oknum Bang Endonesa [sengaja saya kaburkan nama dan institusinya, takut menyinggung ybs] yang dilontarkan di forum super kikuk dan kaku yang akhirnya berhasil memanen sedikit senyum cibir dan banyak garis lurus disertai kening berkerut pada bibir-bibir hadirin yang ingin segera makan kue di kotak) pencarian saya akhiri dengan menelepon Istri di rumah menanyakan adakah kunci cadangan buat motor yang bahkan bukan punya saya ini (punya mertua saya maksudnya, maaf kalau saya ulangi lagi kalimat ini), dan ternyata ada! Masalah selesai, matahari bersinar mulai terang di benak, tinggal bagaimana caranya agar kunci tersebut bisa digunakan pada motor yang jaraknya terpisah beberapa kilometer ini, tentunya saya harus pulang dan ambil, tapi pulang naik apa? angkot jadi alternatif idola.

Percakapan pada waktu mengunci pintu pabrik, diiringi suara rantai berkarat yang sedang dilingkarkan di handle pintu pabrik, berharap pencuri tidak masuk membawa mesin las dan memutus rantai sebelum membobol kunci pintu pabrik yang dindingnya cuma selembar kaca tebal itu.

OB : “Pulangnya gimana pak?”

Saya : “Naek angkot, ambil kunci cadangan dulu, nanti balik lagi ambil motor”

OB : “Mau saya antar?”

Saya : “Serius? ya maulah..”

OB : “Nanti saya antar lagi kemari ambil motornya baru saya pulang”

Saya : “Pucuk dicinta ulam pun tiba..” (dalam perspektif ini artinya kunci motor hilang, tumpangan pun datang..)

Kami berdua pun menuju parkiran, sebelum berboncengan pulang ambil kunci cadangan saya berinisiatif menitipkan motor kepada petugas parkir yang tadi berbicara kepada saya (TP II).

Saya : “Mas, saya titip motor yah, mau pulang ambil kunci cadangan”

TP II : “Bapak titipnya sama orang itu saja, yang di ujung sana, yang pake topi sedang benerin mesin palang parkir itu” sembari menunjuk ke arah temannya di pintu masuk parkiran, selanjutnya kita sebut TP III.

Dan saya pun menuruti perkataannya..

Saya :”Permisi mas, saya mau titipkan motor, kuncinya hilang. Saya mau ambil cadangan di rumah”

TP III :”Motor bapak yang mana?”

Kamipun bersama-sama menuju motor mertua saya yang saya pinjam hari itu.

TP III :”Kunci bapak yang ini?” tangannya merogoh saku celana dan mengeluarkan kunci yang memang cuma satu, kunci motor saya!”

Saya : “Iya! kok bisa? nemu dimana?”

TP III : “Di sana, di parkiran mobil”

Kunci pun berpindah tangan. Si TP III berlalu begitu saja, namun dengan gerak tubuh yang sedikit aneh menurut saya.

Merasa mengerti arah kejadian, saya tahan TP III sambil menyerahkan seluruh isi dompet saya sebagai ungkapan rasa terima kasih saya. Ketika saya katakan seluruh isi dompet saya, itu berarti seluruh isi dompet saya (maksud saya uang yang ada di dompet saya), hingga yang tertinggal hanya dompet dan foto istri tercinta.

Di akhir kisah, maksud saya di pintu keluar parkiran setelah sebelumnya dengan motor saya menuju pintu parkiran yang dimaksud, hal ini akan berakibat pada hutang budi yang bertambah-tambah pada pahlawan hari itu, sang OB kaku bin kikuk yang sebelumnya telah menawarkan tumpangan pulang.

Hutang budi yang saya sebut di atas adalah, berhubung seluruh uang yang ada pada saya telah saya serahkan kepada TP III sebagai tanda terima kasih dan menghindari hutang budi, wati, iwan dan teman-temannya. Lagi : pengeluaran saya hari itu masih ada Rp. 1.500,- lagi untuk biaya parkir yang sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi memang harus  dibayar, tidak bisa disubstitusi dengan KTP atau SIM, lagi-lagi berhubung nominalnya terlalu kecil dan remeh, mungkin dengan mudah bisa saya dapatkan jika saya berbaju kumal dengan celana sobek dan menyeret-nyeret kaki saya sembari menengadahkan tangan kepada orang yang lewat. Tapi tidak mungkin, seragam yang itu saya tinggal entah dimana dan tak pernah saya bawa kalau mau ke pabrik.

Pucuk dicinta ulampun tiba episode 2 : si OB yang (mudah-mudahan) baik hati sedang menunggu tepat sebelum pintu keluar yang mewajibkan kita membayar sebelum dikangkangi setelahnya (setelah membayar), dikangkangi palang parkir disertai sepeda motor yang kita tunggangi.

OB (melihat saya yang sedang mengendarai motor dengan gagahnya disertai senyum yang sumringah) : “Pak, sudah ketemu kuncinya?”

Saya : “Sudah, tapi saya jadinya gak ada duit, sudah saya kasihkan ke tukang parkirnya semua, gak ada sisa buat bayar parkir”. Ujar saya dengan nada yang secara tak langsung memantulkan kata-kata : “Pinjem donk, kalo gak dipinjemin gimana saya bayar parkirnya, logika sederhana kan?” sembari menunjukkan jeroan dompet saya yang kosong diselipi foto istri dengan senyum yang aduhai dan tatapan hayhay si mata indah itu.

Untungnya si OB menangkap dengan jelas maksud kata-kata saya dan menawarkan untuk segera berada di belakang motornya hingga mudah baginya untuk mengatakan kepada petugas kasir parkir : “Orang yang dibelakang saya itu tampangnya aja yang oke, tapi super kere!, ingat! kere!, tanpa ‘en’. Motor minjem, kuncinya hilang lagi, duit sepeser pun gak ada, bayar parkir gak sanggup. Biar kasihan dia kasih saya lihat foto artis di dompetnya, ya sudah saya kasihan saya bayar saja parkirnya, sudah lama juga saya tidak sedekah”.

Berhubung kata-kata ini terlalu terlalu panjang dan mengada-ada, mungkin tuan OB memutuskan untuk mengabaikan naskah yang sudah saya tuliskan untuk beliau ucapkan di pintu keluar, maka keluarlah kami berdua dengan selamat sentausa.

Bagi anda yang mengira kisah tak bertuan ini akan segera berakhir, untuk anda ketahui bahwa kisah ini tidak lebih panjang dari episode sinetron Tersanjung, tapi masih lebih panjang dari perkiraan anda-anda semua.

Kisah berlanjut..

Si OB yang terhormat ternyata tidak berlalu begitu saja, saya dicegat persis setelah melewati palang parkir. Motor kami berdua minggir dan bersiap-siap mengambil posisi berngobrol-ngobrol ria sambil mempertahankan posisi di atas motor.

Di luar dugaan, si OB mengeluarkan selembar uang sepuluh ribuan dan menawarkan untuk saya ambil, “Buat pegangan di jalan, siapa tahu nanti ban bocor..”.

Layaknya adegan sinetron yang sedang memenuhi layar pemirsa dengan wajah saya yang ‘Full Face’ disertai dialog tak terucap yang suaranya menggema-gema dan wajah saya menyiratkan mimik seseorang yang sedang berkata-kata dalam hati. Saya berujar: “Ini penghinaan atau malah penghargaan yang sebesar-besarnya. Atau malah doa yang dipanjatkan sang OB agar mudah-mudahan ban saya pecah dijalan hingga lengkaplah kisah saya hari ini??”.

Kembali ke adegan sebelumnya.

Nominal yang bahkan menurut saya besar. Saya yang buruh pabrik ini, ditawarkan sepuluh ribu oleh OB yang bekerja di pabrik yang sama, logika saya melilit, benar-benar kuasa Ilahi.

Merasa rentetan kejadian hari ini sudah cukup menorehkan keanehan-keanehan yang menurut saya sudah saatnya diakhiri, adegan tuan majikan dan buruh pabrik ini segera saya tuntaskan dengan menepis pemberian tuan majikan sesopan mungkin guna menjaga ego kami berdua dan segera tancap gas ke rumah, ke tempat motor saya biasa menginap di samping rumah di malam hari disertai saya yang jatuh cinta mati-matian dengan demikian hingga merasakan hidup ini hidup kembali, beserta wanita yang fotonya ada di dompet saya, membawa dendam kedalam tidur untuk segera membalaskan kebaikan-kebaikan yang saya terima hari ini, berkali-kali lipat, berlipat-lipat kali. Matapun terpejam..

Keesokan hari..

Kisah tentang rutinitas akan saya lewatkan, buat anda yang ingin tahu bisa kembali beberapa paragraf ke atas dan cari kata ‘Rutinitas’ yang entah apa artinya itu, khusus buat anda yang ingin tahu rentetan kejadian hingga saya berada di kantor keesokan harinya dan menyalami tuan OB dengan selembar uang lima puluh ribuan yang masih hangat, baru keluar dari mesin ATM, bahkan belum sempat singgah ke dompet saya.

Kisah sebentar lagi berakhir, biasanya tentu akan berakhir dengan tuan OB menerima uang dan mengucapkan “Terima Kasih, Pak!”. Namun tidak dengan kisah saya yang ngeloyor bin ngawur ini. Uang yang saya sodorkan ditolak dengan reaksi yang membuat saya terkejut, seperti bertemu dengan orang yang salah, di ruang dan waktu yang tidak benar, dengan nominal yang lumayan besar pula. Tuan OB mati-matian menolak pemberian saya. Saya kaget bukan buatan, penolakan ini bukan basa-basi. Penolakan sebenar-benar penolakan, yang mengakibatkan saya salah tingkah, dan tuan OB masih tetap bin kukuh dengan penolakannya.

Sukar dipercaya! apa salah saya wahai tuan OB? saya hanya ingin mengucapkan terima kasih dan tidak ingin berhutang budi, walaupun istrinya budi berkutang. Saya tidak, maka saya tidak ingin dan tidak suka berhutang, apalagi berkutang. Akan saya kemanakan uang ini? kutang siapa yang bisa saya pinjam? kapan dan bagaimana bisa saya bayar hutang ini?

Benak mengambil alih dan pikiran tersadarkan. Segera berlalu dan pura-pura tidak tahu. Esok menjelang hanya bagi yang mau.

Kiranya lembaran uang terpantul kembali pada pemegang pertama, berlabuh di saku. I Gusti Ngurah Rai pun bersemayam tenang di dompet. Sendirian tanpa tahu bahwa pada hari sebelumnya saya juga pernah menolak mengadopsi selembar Sultan Mahmud Badaruddin II ke dalam neraca saya yang berada pada posisi selangkah lagi menuju minus. Proses balas budi batal oleh cacat realita yang dikonsepkan secara teoritis. Tidak selamanya alur mengalir mengikuti arus, terkadang arus yang membentuk alur.

Membingungkan..

Mengagumkan..

One Response to “Do You Keep Spare Keys?”

  1. fmaros Says:

    Kata-kata kunci: kunci motor hilang, ditemukan tukang parkir, gak bawa duit, nemu orang baik…semua baik-baik saja. Tapi kok jadi panjang kali lebar? Kayaknya emang bener, lebih baik jadi penulis, apalagi kalo jadi jurnalis infotainment…tukul arwana batuk aja bisa jadi artikel headline. Tapi it’s amazing how many words a quiet man can deliver if he speaks.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.