Food Focus
Tuesday, May 26, 2009
Hidup untuk makan atau makan untuk hidup? Pertanyaan klise yang sudah sering ditanyakan namun tak kunjung terjawab dengan jujur dan baik. Bila ada orang yang mengajukan pertanyaan ini, mungkin dengan lancar akan terjawab :”Makan untuk hidup!’, namun aplikasinya sehari-hari, dari hasil observasi pribadi, tindakan seringkali tidak mencerminkan jawaban, namun untuk menghindari pembahasan ngalor ngidul tidak objektif seperti biasanya, ada baiknya tulisan ini dimulai secepatnya agar juga bisa segera diakhiri guna menghindari kesan ketidakmampuan (atau ketidakmauan?) saya sebagai penulis untuk ‘memaklumi’ apa yang mendasari gaya hidup manusia kebanyakan.
Hal yang pertama dan paling mendasar adalah makanan. Menurut saya pribadi makanan itu hanya terdiri dari 1 tipe: Halal dan 2 sub tipe : Enak dan Sangat Enak, yang diluar itu digolongkan sebagai ‘bukan makanan’.
Dari hasil pengamatan subjektif saya, peradaban manusia sekarang ini telah meletakkan makanan terlalu tinggi, jauh lebih tinggi dari perut yang letaknya ‘hanya’ di tengah-tengah tubuh, diantara kepala dan kaki, dimana menurut saya pribadi adalah letak makanan yang sesungguhnya.
Manusia pada masa ini, masa yang sedang saya jalani ini, tidak terhingga penggolongan makanannya, ada makanan pembuka, main course, manis, terlalu manis, kurang garam, terlalu banyak, kurang bersih, tidak enak, enak sekali, kurang kuah, belum pernah dicoba, harus dicoba, tidak ingin mencoba, sedang ingin, makanan selingan, makanan berat, cuci mulut, dan tipe-tipe makanan lain yang terus bertambah seiring makin bervariasinya jenis makanan yang dirasakan oleh lidah-lidah yang terus mengecap makanan namun tidak pernah merasakan kenyang.
Maka dari itu, himbauan saya pribadi : letakkanlah makanan pada tempat yang seharusnya, di mulut sebentar, langsung ke perut, itupun jangan lama-lama, segera keluarkan sisanya kalau sudah tidak ada urusan lagi. Orang bisa mati kalau tidak makan, tapi lama kok, sekitar 2 minggu kalau saya tidak salah, yang lebih hebatnya lagi banyak orang yang berakhir masa tayangnya di bumi ini karena makanan juga, kali ini bukan karena ketidak-ada-an makanan, tapi karena sembarangan, tidak menggunakan filter yang pas, berujung pada makhluk-makhluk obesitas yang tergencet jantungnya, sempit atau tersumbat traffic aliran darahnya, dan sisanya secara tak sengaja memasukkan racun lewat makanannya (yang enak itu), terutama yang ‘full flavored’, makanan banyak bumbu terkenal enak tapi jarang yg sadar klo dibalik rasa sedap itu banyak ‘ranjau-ranjau penyedap’ yang mematikan, tidak segera, tapi perlahan-lahan dan lebih menyakitkan, ndak percaya, monggo silahken dicoba, tar sebelum sakratul maut, mbok ya diinget-inget, apa aja yang penting dan gak penting/perlu dan tak perlu/butuh dan tak butuh yang telah dimasukkan ke dalam sistem pencernaan dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidup ini dengan baik. Sudah sesuaikah? atau malah dengan paham keblinger baru nyadar klo ‘human instinct’ untuk menjaga kelangsungan kehidupan ini dengan hanya makan apa yang dibutuhkan ternyata sudah ‘terkangkangi’ dengan suksesnya oleh nafsu?.
Makanan (dan juga minuman) hambar adalah solusinya, biasakan diri anda untuk minum hanya air mineral dan makan makanan yang hambar (nasi putih dan rebusan sayur misalnya?). Walaupun saya tidak sepenuhnya setuju dengan kata hambar untuk menggambarkan rasa yang terlupakan ini, coba puasa full 40 jam dan kenakan lidah anda dengan tipe makanan ini, masihkah standar rasa anda mengatakan kalau makanan ini adalah hambar? maka perpanjang puasa anda, mudah-mudahan pada satu titik anda akan menyadari kalau ternyata enak adalah bukan masalah bumbu atau penyedap pada makanan, tetapi adalah masalah kemampuan untuk mengapresiasi yang telah lama tergerus kemudahan, kemudahan memperoleh makanan, kemudahan menambahkan rasa kepada makanan, kemudahan untuk ‘mengganti’ makanan hanya dengan apa yang anda anggap ‘enak’.
Mari jujur kepada diri sendiri, dan berpikir jernih tentang apa yang telah kita lakukan selama ini, dan terimalah tantangan saya ini, mampukah anda-anda sekalian menikmati ‘hambar’? karena saya dengan setulus hati amat sangat setuju kalau hambar itu adalah juga RASA dan berhak mendapatkan perlakuan yang sama dengan manis, asam, kecut, atau pahit sekalipun (terutama ketika berhubungan dengan makanan).
So, where d u put your food? di lidah, perut, hati ato kepala??
Sunday, August 23, 2009 at 5:05 PM
Saya pernah iseng memperhatikan reaksi diri ketika makan havermout yang masih saja hambar meski ud nambah garam beberapa kali. Lalu akhirnya saya memutuskan untuk menikmati saja hambar tsb, sambil mempertanyakan pada diri, dari mana datangnya diskriminasi ‘rasa’ ini ya..sekarang saya banyak belajar menikmati rasa asli..rasa kubis, tomat, ketimun, kemangi, mentah tanpa polesan bumbu;)Tubuh saya mulai punya preferensi thd rasa asli ini, entah karena sugesti ato karena sebab yang lain, saya sering ud eneg duluan melihat olahan gulai, rendang dan olahan yang ribet lainnya…tidak demikian dengan sayuran mentah;)
Thursday, August 27, 2009 at 5:50 AM
Analoginya, kalo punya baju putih, kepingin gak punya baju merah? Kalo udah punya baju merah sama putih, kepingin gak nyobain baju warna lainnya?
Manusia itu makhluk evolusi juga revolusi. Kalo udah nyampe di tangga kedua, gak bakal mengekang keinginan untuk naik atau turun.
Sama dengan urusan makanan, terciptanya makanan aneka rasa juga didasari keinginan untuk menikmati banyak hal. Persoalannya mungkin masalah kesadaran kemungkinan adanya kerusakan akibat keinginan itu. Kebetulan saya sulit kompromi pada masakan netral kecuali pada saat hamil dan menyusui. Dikalahkan oleh ambisi memberi asupan makanan dasar pada anak.