Muslim dan Makanannya.

Friday, April 9, 2010

“Seorang teman kerja saya, Pak Dirman tidak pernah mau makan daging yang bukan dia sembelih sendiri. Karena rasa hormat dan tidak menyiksa itu penting dalam hukum Islam. Beberapa hari lalu asisten saya cerita hewan yang disembelih dengan diadzani lebih dulu, tidak akan gelepar2 berontak kesakitan, saya percaya ini Rin. Namun saya juga yakin Islam tidak bermaksud membekukan pesan Nabi mentah2 atau dipahami secara harafiah. Islam adalah agama dinamis dengan konsep Itjihadnya, ajaran harus dipahami secara esensial. Nabi Muhammad sangat menekankan perlakuan etis pada hewan. Harus miliki belas kasih inilah spiritnya.

Saya pernah membaca, seorang penghuni neraka ditanya apa yang dilakukan semasa hidupnya hingga masuk neraka. sang penghuni menjawab ‘karena semasa hidup pernah mengikat kucing hingga membiarkan kucing tsb mati kelaparan dan kehausan. Jaman Nabi, Arab memang terbatas pilihan, namun sekarang jaman sudah berbeda, Arab bahkan sudah bisa mengimpor teknologi untuk buat pertanian sayur dan buah. Saya pernah dengar dari teman ada pesan Nabi ttg kewajiban untuk memiliki sikap kritis, jangan konsumsi sesuatu yang merusak tubuh. Saya pikir bukti dinamisnya tafsir dapat kita lihat juga bagaimana MUI melihat rokok, ada wacana akan difatwakan haram ya Mas.

Kembali ke masalah daging, Ilmu kesehatan menunjukan kepada kita daging ternyata tidak baik untuk tubuh. Itjihad inilah yang membuka pemahaman ajaran Islam secara hakiki hingga memahami perilaku Nabi secara holistik, memahami konteksnya dan telaah sejarahnya. Seperti aturan minum arak, sebelumnya Nabi memberi larangan, selanjutnya diharamkan. Kita lihat ada dinamika, ada peluang berevolusi, Nabi melihat keadaan sudah memungkinkan untuk mengharamkan, maka dikeluarkanlah larangan dengan tingkat haram untuk arak. Jadi demikian juga dengan makan daging, bila mengacu dari apa yang dilakukan jaman Nabi saja, hewan kalaupun akan disembelih harus seminimal mungkin menimbulkan kesakitan makanya harus pakai pisau yang sangat tajam dan lakukan dengan sangat hormat. Kalo konsisten dengan aturan ini saja, muslim akan sangat jarang makan daging seperti pak Dirman itu. Dan jika mengacu pada pesan Nabi bahwa jangan mengonsumsi sesuatu yang merusak tubuh, maka tidak tertutup kemungkinan juga Islam akan berevolusi meat out, ato bahkan free animal produk.”

Berangkat dari pesan yang dititipkan di facebook oleh seorang teman, saya tergelitik untuk mengupas makanan kembali (setelah sebelumnya menulis tentang makanan disini).

Sejujurnya I’m truly flattered knowing that one of my best friend which I suppose not a Moslem know that much about my religion. Trying to be polite, I never asked her about her Religion, coz Religion is a sensitive thing to some of us, so I guess I’ll just let myself guessing.

Saya harus kembali mulai membasuh hati, menjernihkan diri. Saya percaya agama adalah sesuatu untuk dianut, diresapi dan dinikmati dalam setiap aspeknya. Karena agama itu luas, bukan hanya ibadah atau sedekah. Agama memberi cahaya dikala gelap, manual untuk hidup ini. A to Z.

Sedikit meruncingkan pembahasan, untuk urusan makanan Islam punya 2 resep jitu yang menurut saya pribadi adalah dedengkotnya seluruh resep. HALAL dan BAIK. Ketika dua kategori ini terpenuhi, silahkan dikonsumsi. Jika tidak, jangan terburu-buru mengharamkan, mungkin yang dihadapan anda itu memang bukanlah makanan adanya. Islam menaruh kasih dan sayang pada umatnya, ketika anda dianjurkan untuk mengkonsumsi sesuatu yang halal dan baik, maka ikutilah, jika tidak, mudah-mudahan anda masih punya waktu untuk menyadari kenapa halal dan baik itu mutlak.

Islam menempatkan masing-masing makhluk pada kodratnya yang terhormat. Banyak riwayat yang menceritakan bagaimana Rasulullah SAW memperlakukan setiap makhluk, manusia, hewan, tumbuhan dengan penuh rasa hormat, penghargaan dan kasih sayang. Bahkan pada peperangan sekalipun, selain wanita dan anak-anak, para sahabat laskar jihad tidak diperkenankan merusak tumbuhan ataupun membunuh hewan sembarangan. Perang pada waktu itupun dilakukan secara reaktif, memerangi mereka yang memerangi, itulah konsepnya. Perang tidak dilakukan dengan rasa benci yang membuncah, rasa marah yang membakar, spiritnya adalah perdamaian dan kasih sayang yang dilakukan dengan cara membela diri dari mereka yang memerangi, bukan memulai perang dengan mereka yang tidak disukai atau bukan dari kalangan kaumnya. Rasul memandang mereka-mereka yang memeranginya dengan rasa sedih layaknya seorang Ibu yang melihat anaknya yang sedang nakal. Tidak ada niat memusnahkan, membunuh atau menyakiti. Berlandaskan pemikiran ini, apapun konteksnya, hukum, agama, politik, mudah-mudahan tidak dilakukan secara menyimpang. Kasih sayang dan Keikhlasan model begini adalah warisannya Rasulullah yang banyak terlewatkan. Terjemahan dilakukan secara kaku dan kasar. Rasul perang, yang diikuti angkat senjatanya. Bahkan pada masa Rasulullah, tawanan perang diperlakukan dengan sopan dan kasih sayang selayaknya sesama makhluk Allah SWT. Tidak banyak penghancuran, tidak tercium aroma kebencian. Siapa tahu orang yang kita perangi hari ini bisa jadi orang yang berperang dengan kita esok hari dengan kasih sayang dan keikhlasan.

Ketika menyembelih hewan, Rasul mencontohkan dengan rasa kasih dan penuh penghormatan, sebisa mungkin dilakukan dengan cepat, bersih, pisau yang tajam dan tidak disaksikan hewan yang lainnya. Seorang teman pernah menceritakan tentang peternakan merpati yang ditinggal oleh merpati-merpati yang lainnya yang menolak kembali ke sarangnya setelah melihat salah satu merpati disembelih. Besar kemungkinan mereka merasakan atau bahkan mengerti apa yang terjadi pada temannya.

Salah satu kisah yang sering terdengar adalah seorang pelacur yang masuk surga hanya karena amal kecilnya pada waktu hidup kepada anjing yang terlantar. Dengan menggunakan alas kakinya, sang pelacur memberikan minum kepada anjing yang terlihat sangat kehausan. Anjing dan Babi memang diharamkan dalam Islam, namun kasih sayang terhadap kedua makhluk yang diharamkan itu tetap bisa menyalakan cahaya kebaikan yang terlihat seperti sudah tidak ada lagi.

Orang-orang dulu pernah bilang, “Kalau kata hatimu benar, maka benarlah itu”. Dan untuk bisa melakukan itu kita harus melatih nurani untuk selalu condong ke arah yang baik dan benar agar bisikan yang sampai ke hati juga yang baik dan benar pula, logika yang dirumuskan juga mudah-mudahan akan seirama. Untuk yang baik dan benar tidak akan ada keganjilan atau ganjalan. Hati kita pasti menerima dengan tulus dan ikhlas, yang penting harus selalu dijaga kebersihan dan kejernihannya.

Kembali ke urusan makanan dan aspek etisnya, bermodalkan konsep hidup yang Islami ini, sudah pada tempatnyalah Muslim memiliki daya saring yang lebih rapat, tegas dan ketat akan apa yang akan dikonsumsinya. Halal dan baik itu terdengar seolah-olah parameter yang ringan namun benar-benar penuh makna. Doa yang dipanjatkan sebelum dan sesudah makan akan berkah yang diterima tentunya bukan hanya dilafazkan di mulut saja. Namun akan meresap hingga awal dan akhir adanya makanan yang dikonsumsi. Dari yang baik akan timbul yang baik pula, tidak heran kalau sebagian orang mengatakan you are what you eat, makanan yang anda masukkan kedalam tubuh anda akan menjadi bagian dari anda, selamanya. Yang terbuang hanyalah ampas, sisa tak tercerna yang akan segera menjelma menjadi penyakit ketika mengendap lama dan gagal dikeluarkan. Saripatinya akan berperan terhadap pertumbuhan, tingkah laku juga pemikiran anda, memberi makan sel-sel yang sehat dan menggantikan sel-sel yang rusak. Rasul mencontohkan agar umat Muslim makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang, tidak berlebihan, tidak juga kurang. Batas yang hanya anda dan kejujuran anda pada diri anda sendiri yang bisa menakarnya.

Tumbuhan adalah tipe makanan yang relatif aman dan sebagian besar lulus dari jaring halal dan baik. Namun tidak demikian halnya dengan daging binatang, banyak hal yang jadi bahan pertimbangan. Untuk menghalalkan daging binatang ada syarat yang harus dipenuhi yang jika tidak maka daging binatang yang mati hanyalah bangkai yang tidak dianggap makanan. Tidak seluruh bangkai itu haram, ada dua bangkai yang dihalalkan untuk dikonsumsi, yakni Ikan dan Belalang. Sisanya, binatang ternak ataupun hewan liar jika matinya tidak disembelih atau diburu atas nama-Nya, maka bangkailah statusnya dan haram hukumnya untuk dikonsumsi kecuali dalam keadaan darurat yang menyangkut hidup dan mati, itupun sekedar penyambung napas, tidak boleh berlebihan.

Pertanyaan besarnya adalah bisakah anda pastikan bahwa sekerat daging yang ada di piring anda itu berasal dari hewan yang layak dikonsumsi, disembelih dengan kasih sayang, penghormatan dan ritual yang tepat, dengan menyebut nama Allah SWT sehingga halal zatnya setelah dicabut nyawanya dan mengkonsumsinya adalah baik bagi anda dan kesehatan anda? Ketika pertanyaan-pertanyaan ini tidak terjawab dengan pasti dan memuaskan, sebagai muslim yang baik tidakkah sebaiknya anda menghindari makanan yang tidak anda ketahui halal dan baiknya?

Umat Islam harus pintar. Ayat Al Qur’an yang pertama turun adalah anjuran untuk membaca, menambah Ilmu Pengetahuan, memperluas wawasan guna bisa memilah dan memilih mana yang baik dan benar yang sepantasnya diteladani. Kritis akan situasi dan tanggap terhadap kondisi. Belajar dilakukan semenjak buaian hingga liang lahat. Rasul adalah contoh nyata dari kalangan manusia sendiri, manusia sebenarnya dengan karakter asli yang pantas diikuti. Adakah mustahil bagi manusia mencontoh suri tauladan dari manusia yang lainnya?

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.